Jurnal Bengkulu Mandiri

Membangun Bengkulu Menuju Budaya Riset

PENANGGULANGAN SAMPAH BERBASIS PERAN SERTA MASYARAKAT DI KOTA BENGKULU August 10, 2015

Filed under: SDA & LH — Urip Santoso @ 7:13 am
Tags: , ,

Oleh : Okta Wulandra
1. PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Pertumbuhan penduduk terus meningkat dari tahun ke tahun. Pertumbahan tersebut akan lebih terkonsentrasi pada daerah perkotaan, seperti kota Bengkulu. Hal ini dikarenakan kawasan perkotaan merupakan pusat perkembangan kehidupan sosial ekonomi di suatu wilayah, terutama wilayah–wilayah potensial yang sangat menarik bagi masyarakat untuk mengembangkan kehidupan sosial ekonominya.Bertambahnya jumlah penduduk tersebut disertai tingkat konsumsi masyarakat serta aktivitas lainnyamendorong semakin bertambahnya timbunan sampah yang dihasilkan (Wardhana, 2007).
Apabila masalah sampah ini tidak mendapat perlakuan penanganan yang baik sebagaimana mestinya jelas akan berdampak terhadap pencemaran lingkungan serta berkurangnya nilai estetika. Hal ini terjadi akibat belum dimilikinya rasa tanggung jawab serta masih sangat rendahnya pemahaman masyarakat terhadap manfaat kebersihan. Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah sangat tergantung kepada pemahaman dan kemauan masyarakat untuk menjaga dan menciptakan lingkungan bersih (Yuliastuti, 2013).
1. 2 Tujuan
Sampai saat ini pemerintah daerah kota Bengkulu masih belummenemukan solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan sampah, khususnya sampah buangan rumah tangga dan kegiatan pasar tradisonal.Sehubungan haltersebut pada makalah ini akanmemaparkanpenanggulangan sampah kota berbasis peran serta masyarakat di Kota Bengkulu sebagai kasus lokal yang akan dikaji berdasarkan pendekatankajian literarur untuk mengidentifikasi permasalahan dan alternatif solusi yangdapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan sampah di kota Bengkulu.
2. ISI
Menurut Artiningsih (2008), dalam pengelolaan sampah rumah tangga harus ada kerjasama antara pemerintah dan masyarakat, agar tujuan pengelolaan dapat berhasil sesuai yangdiharapkan dalam mendukung terciptanya lingkungan yang sehat. Keduanya harusmampu menciptakan sinergi. Tanpa melibatkan masyarakat, pemerintah tidakakan dapat mencapai hasil pembangunan secara optimal. Dari segi kualitas, partisipasi atau peran sertamasyarakat penting sebagai :
1. Input atau masukan dalam rangka pengambilan keputusan/kebijakan.
2. Strategi untuk memperoleh dukungan dari masyarakat sehinggga kredibilitasdalam mengambil suatu keputusan akan lebih baik.
3. Komunikasi bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menampungpendapat, aspirasi dan concern masyarakat.
4. Media pemecahan masalah untuk mengurangi ketegangan dan memecahkankonflik untuk memperoleh konsensus.
Salah satu alternatif yang bisa dilakukan adalah melaksanakan program pengelolaan sampah berbasis masyarakat, seperti minimasi limbah dan melaksanakan 5 R (Reuse, Recycling, Recovery, Replacingdan Refilling).Peran serta masyarakat sangat mendukung program pengelolaan sampah suatu wilayah. Peran serta masyarakat dalam bidang persampahan adalah proses dimana orang sebagai konsumen sekaligus produsen pelayanan persampahan dan sebagai warga mempengaruhi kualitas dan kelancaran prasarana yang tersedia untukmereka(Hernawati et al.,)Pengelolaan sampah adalah pengaturan yang berhubungan denganpengendalian timbulan sampah, penyimpanan, pengumpulan, pemindahandan pengangkutan, pengolahan dan pembuangan sampah dengan cara yangmerujuk pada dasar-dasar yang terbaik mengenai kesehatan masyarakat,ekonomi, teknik, konservasi, estetika dan pertimbangan lingkungan yang
lain dan juga tanggap terhadap perilaku massa.Pengelolaan persampahan mempunyai tujuan yang sangat mendasaryang meliputi meningkatkan kesehatan lingkungan dan masyarakat,melindungi sumber daya alam (air), melindungi fasilitas sosial ekonomi danmenunjang sektor strategis).Sistem pengelolaan sampah perkotaan pada dasarnya dilihat sebagaikomponen-komponen sub sistem yang saling mendukung satu sama lain untuk mencapai tujuan yaitu kota yang bersih, sehat dan teratur Komponen-komponen tersebut meliputi :
1. Sub sistem teknis Operasional (sub sistem teknik),
2. Sub sistem organisasi dan manajemen (sub sistem Institusi),
3. Sub sistem hukum dan Peraturan (sub sistem Hukum),
4. Sub sistem Pembiayaan (sub sistem finansial)
5. Sub sistem peran serta Masyarakat
Teknik operasional pengelolaan sampah perkotaan yang terdiri atas kegiatan pewadahan sampai dengan pembuangan akhir sampah harus bersifat terpadu dengan melakukan pemilahan sejak dari sumbernya. Namun, pemilahan sampah di sumber membutuhkan komitmen dan partisipasi dari masyarakat ( Hakim dan Enry, 2005). Tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan pemukiman dipengaruhi oleh: tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, frekuensi perolehan informasi tentang pentingnya pengelolaan lingkungan pemukiman (Daud,2012).Menurut Yones (2007), tanpa adanya peran serta masyarakat semua program pengelolaanpersampahan yang direncanakan akan sia-sia. Salah satu pendekatan padamasyarakat untuk dapat membantu program pemerintah dalam kebersihanadalah membiasakan masyarakat pada tingkah laku yang sesuai denganprogram persampahan yaitu merubah persepsi masyarakat terhadappengelolaan sampah yang tertib, lancar dan merata, merubah kebiasaan masyarakat dalam pengelolaan sampah yang kurang baik dan faktor-faktor sosial, struktur dan budaya setempat. Pengelolaan sampah di kota Bengkulu merupakan suatu pekerjaan yang cukup sulitkarena berbagai hal seperti yang diungkapkan Yones (2007) yakni :
1. Perkembangan teknologi lebih cepat dari kemampuan masyarakatuntuk mengelola dan memahami persoalan persampahan.
2. Meningkatnya tingkat hidup masyarakat, yang tidak disertai dengankeselarasan pengetahuan tentang persampahan
3. Meningkatnya biaya operasi, pengelolaan, dan konstruksi disegalabidang termasuk bidang persampahan.
4. Kebiasaan pengelolaan sampah yang tidak efisien, tidak benar,menimbulkan masalah pencemaran udara, tanah, air, menimbulkanturunnya harga tanah karena nilai estetika menurun, bau danmemperbanyak populasi lalat.
5. Kegagalan dalam daur ulang maupun pemanfaatan kembali barangbekas.
6. Semakin sulitnya mendapatkan lahan sebagai tempat pembuanganakhir (TPA), selain tanah serta formasi tanah tidak cocok bagipembuangan sampah, serta terjadinya kompetisi yang makin rumitakan penggunaan tanah.
7. Semakin banyak masyarakat yang keberatan bahwa daerahnya dipakaitempat pembuangan sampah.
8. Kurangnya pengawasan dan pelaksanaan peraturan.
9. Sulitnya menyimpan sampah sementara yang cepat busuk, karenacuaca yang panas.
10. Sulitnya mencari partisipasi masyarakat untuk membuang sampahpada tempatnya dan memelihara kebersihan.
11. Pembiayaan yang tidak memadai.
12. pengelolaan sampah dimasa lalu dan saat ini kurang memperthatikanfaktor-faktor non teknis seperti penyuluhan tentang hidup bersih dansehat.
Menurut Kristiyanto (2007), bentuk peran serta/partisipasi masyarakat dalam pengelolaanpersampahan, berdasarkan karakteristik, kemampuan, kesempatan dan kondisiyang ada di masyarakat dapat dikelompokkan :
1. Peran serta pasif
• Sadar/peduli kebersihan lingkungan, seperti tidak membuang sampah di sembarang tempat
• Sadar akan kewajiban membayar retribusi.
2. Peran serta aktif
• Pengumpulan sampah dengan pola komunal.
• Kontrol sosial, dengan saling mengingatkan sesama anggota masyarakat.
• Ikut dalam kegitan gotong royong untuk kebersihan lingkungan
• Ikut serta dalam penyediaan sarana kebersihan seperti sarana TPS.
Pengelolaan sampah adalah perlakuan terhadap sampah untuk memperkecil dan menghilangkan masalah-masalah yang dapat ditimbulkan dalam kaitannya dengan lingkungan (Arnatha,2012). Salah satu upaya mengatasi permasalahansampah kota adalah dengan melakukandaur ulang sampah organik dengan penekanan pada proses pengkomposan (Sulistyorini, 2006). Pengkomposanmerupakan suatu teknik pengolahan limbahpadat yang mengandung bahan organic biodegradable (dapat diuraikanmikroorganisme) (Ningrum et al, 2002). Selain menjadi pupuk organik maka kompos juga dapatmemperbaiki struktur tanah, memperbesarkemampuan tanah dalam menyerap air danmenahan air serta zat-zat hara lain (Budihardjo, 2006).
Sedangkan untuk sampah anorganik seperti plastik dapat diterapkan suatu sistem seperti pada penelitian Pratiwi et al,.Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini antara lain sistem pengelolaan sampah plastik terintegrasi, dengan meningkatkan peran serta masyarakat melalui sosialisasi melalui media poster maupun pemberian insentif, teknologi pengolahan sampah plastik, fasilitas pendukung, pengolahan sampah plastik, rancangan stasiun kerja yang mempertimbangkan faktor ergonomis, serta sistem manajerial dengan memanfaatkan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) sebagai tempat pengolahan sampah tahap pertama.
Menurut Faizah (2008), dalam pengelolaan menuju zero waste, proses pemilahan dan pengolahan harus dilaksanakan di sumber sampah, baik bersamaan maupun secara berurutan dengan pewadahan sampah. Pengelolaan sampah diawali dari lokasi timbulan sampah atau produsen sampah.Sampah dipisah antara sampah organik dan sampah anorganik, dan ditempatkan pada wadah sampah yang berbeda.Sampah organik untuk diproses menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik biasanya dimanfaatkan untuk didaur ulang maupun dimanfaatkan kembali.
Sedangkan yang berhubungan dengan Tempat Pembuangan Sementara (TPS), menurut Yani (2003), penduduk Kota pada umumnya tidak menyukai keberadaan TPS di dekat lingkungan mereka karena alasan lingkungan, estetika, dan operasional yang tidak praktis yaitu lamanya petugus kebersihan mengangkut sampah dan juga tidak semua sampah dapat terangkut, sehingga banyak sampah yang berhamburan dan menimbulkan bau yang dapat mengganggu lingkungan sekitar, oleh karena itu untuk menjawab permasalahan tersebut atau faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pelaksanaan pengelolaan sampah di kota maka diperlukan studi kinerja teknik operasional dalam manajemen persampahan.
III. PENUTUP
Permasalahan mengenai pengelolaan persampahan semakin hari semakinbertambah sehingga perlu manajemen yang semakain baik pula. Permasalahan sampahharus dapat ditangani secara menyeluruh dalam arti harus ada penanganan secara tepat darisumber sampah sampai tempat pembuangan akhir, sehingga dampak yang ditimbulkanterhadap kondisi lingkungan dapat diminimalkan, agar kota dapat diwariskan ke generasipenerus tanpa berkurang kemampuannya.
DAFTAR PUSTAKA
Arnatha, I.M. 2012.Studi Optimasi Teknis Operasional Pengumpulan Dan Pengangkutan Sampah Dengan Model Simulasi.Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol. 16, No. 1, Januari 2012.

Artiningsih. N. K. A. 2008. Peran Serta Masyarakat Dalam pengelolaan Sampah Rumah Tangga. Program Magister Ilmu Lingkungan Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.

Budihardjo. 2006. Studi Potensi Pengomposan Sampah Kota Sebagai Salah Satu Alternatif Pengelolaan Sampah di TPA Dengan Menggunakan Aktivator EM4 (Effective Microorganism).Jurnal Presipitasi. Vol.1 No.1 September 2006, ISSN 1907-187X. Hal25-30.

Daud, F. 2009. Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Lingkungan di Pemukiman Sekitar Muara Sungai Tallo Kota Makassar.Jurnal Chemica Vo/. 10 Nomor 1 Juni 2009, 9 – 18.

Faizah. 2008.Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis Masyarakat (Studi Kasus Di Kota Yogyakarta. Semarang. Tesis Program Magister Ilmu Lingkungan Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.

Hakim, L dan Enry. Tanpa Tahun. Studi Mengenai Partisipasi Masyarakat Pada Pengolaha Sampah.

Hernawati, D, Choirul S, dan Suwondo. Tanpa Tahun. Partisipasi masyarakat Dalam pengelolaan Sampah Berbasis 3R (Reduce, Reuse, dan Recyle).Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol 1, No.2, hal.57-63.

Ningrum et al.,2002.Pemberdayaan Potensi Ekonomi Sampah Kota Surabaya : Penyuluhan Pengelolaan Sampah Terintegrasi Di Lingkungan Keputih Surabaya.

Kristiyanto, T. 2007. Pengelolaan Persampahan Berkelanjutan Berdasarkan Peran Serta Masyarakat Kota Kebumen.Tesis Program Magister Teknik Pembangunan Wilayah Dan Kota Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.

Pratiwi, 2008.Sistem Pengelolaan Sampah Plastik Terintegrasi Dengan Pendekatana Ergonomi Total Guna Meningkatkan Peran Serta Masyrakat.

Rahman. Tanpa Tahun. Valuasi Ekonomi Alternatif Teknologi Pengelolaan Sampah Perkotaan. QE Journal | Vol.01 – No.01 – 36.

Rukiyati. Tanpa Tahun. Teknik Pengomposan Efektif Untuk Mengendalikan Sampah Organik Rumah Tangga.

Sulistyorini, L. 2006. Pengelolaan Sampah Dengan Cara Menjadikannya Kompos. Jurnal Kesehatan Lingkungan. Vol 2: hal 77-84.

Surakusumah W. 2006.Permasalahan Sampah Kota Bandung Dan Solusinya.

Wardhana, I.W. 2007. Rencana Pengembangan Teknik Operasional Sistem Pengelolaan Sampah Kota Juwana.Jurnal PresipitasiVol. 3 No.2 September 2007, ISSN 1907-187X. Hal 102-110.
Yadnya, I. 2005. Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah di Kota Denpasar. Tesis pada Program Pasca Sarjana Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Udayana. Denpasar

Yani, A.2003. Studi Kinerja Teknik Operasional Dalam Manajemen Persampahan Di Kota Martapura Kabupaten Banjar.ThesisJurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universis=tas Diponegoro.

Yansen, , I Made. 2012. Analisis Finansial Sistem Pengelolaan Sampah di Wilayah Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung.Jurnal Ilmiah Teknik Sipil. Vol. 16: hal 107-116

Yones, I.2007. Kajian Pengelolaan Sampah Di Kota Ranai Ibu Kota Kabupaten Natuna Provinsi Kepualuan Riau.Program Magister Ilmu Lingkungan Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.

Yuliastuti. 2006. Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Di Kabupaten Badung. Thesis Program Magister Ilmu Lingkungan Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s