Jurnal Bengkulu Mandiri

Membangun Bengkulu Menuju Budaya Riset

PENINGKATAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT SEKITAR PERKEBUNAN TEH MELALUI PENGEMBANGAN SAPI POTONG KEREMAN DI KECAMATAN KABAWETAN KABUPATEN KEPAHIANG March 25, 2013

Filed under: Pertanian — Urip Santoso @ 8:45 pm
Tags: , , ,

Oleh : Bambang Wijaya Kesuma

ABSTRAK

Masyarakat sekitar perkebunan teh adalah masyarakat miskin yang kepemilikan sumberdayanya sangat terbatas. Upaya yang mungkin dilakukan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat sekitar perkebunan teh tersebut adalah dengan memberikan pendapatan tambahan diluar pendapatan sebagai pekerja di perusahaan. Salah satunya  adalah dengan mengembangkan ternak sapi potong di masyarakat sekitar perkebunan tersebut. Pola penggemukan sapi dengan sistem kereman ini dilakukan dengan cara sepanjang hari ternak dipelihara di dalam kandang dan diberi makan yang terdiri dari hijauan, pakan tambahan dan pengontrolan kesehatan secara intensif. Hasil daging dari sapi kereman relatif lebih lunak dan kualitas daging yang baik serta jumlah bobot yang lebih baik usaha penggemukan sapi potong dengan sistem pemeliharaan kereman  sangat menguntungkan.

Key Word : Kesejahteraan, Sapi Potong, Kereman.

PENDAHULUAN

Kecamatan Kabawetan merupakan satu-satunya  kecamatan di Kabupaten Kepahiang yang memiliki dua perusahaan perkebunan teh berskala besar yaitu perkebunan teh Sarana Mandiri Mukti dan perkebunan teh Trisula. Masyarakat desa di kecamatan tersebut bermukim di sekitar perkebunan teh dan umumnya bekerja sebagai buruh di perusahaan teh tersebut, baik sebagai buruh petik teh bagi kaum perempuan maupun buruh harian untuk pemeliharaan tanaman dan pekerja pabrik bagi kaum laki-laki. Sebelum perusahaan teh diberi hak guna usaha, lahan perkebunan teh tersebut merupakan lahan pertanian dan perkebunan yang dikelolah oleh masyarakat kecamatan Kabawetan. Lahan tersebut merupakan lahan yang sangat subur untuk usaha pertanian dan perkebunan, komoditi yang banyak di tanam oleh masyarakat adalah tanaman kopi dan tanaman musiman palawija dan sayur-sayuran.

Sebagai buruh pekerja di perusahaan, pendapatan masyarakat sekitar perusahaan relatif rendah dan sangat bergantung terhadap kondisi perusahaan. Walaupun  harga pasaran teh relatif bagus tidak begitu berpengaruh terhadap pendapatan para pekerja di perkebunan teh tersebut. Kondisi ini Jika tidak dilakukan solusi pemecahan dalam peningkatan pendapatan kehidupannya dapat memperparah kehidupan masyarakat sehingga menyebabkan peningkatan kemiskinan pada masyarakat sekitar perkebunan teh tersebut. Upaya yang mungkin dilakukan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat sekitar perkebunan teh tersebut adalah dengan memberikan pendapatan tambahan diluar pendapatan sebagai pekerja di perusahaan. Salah satunya  adalah dengan mengembangkan ternak sapi potong di masyarakat sekitar perkebunan tersebut.

Pengembangan ternak sapi potong sangat cocok dilakukan oleh masyarakat di sekitar perkebunan teh tersebut karena potensi sumberdaya alam dan manusianya sangat mendukung. Areal perkebunan teh yang kritis di antara blok-blok perkebunan dapat di tanami oleh hijauan pakan ternak dan juga banyak tersedia limbah sisa hasil pertanian masyarakat yang di luar lahan perkebunan yang dapat menjadi sumber bahan makanan bagi ternak sapi potong. Masyarakat sekitar perkebunan teh adalah umumnya masyarakat suku jawa yang sangat telaten dalam memelihara ternak, saat ini telah ada masyarakat yang memelihara ternak sapi namun hanya sebagai peternak penggaduh. Untuk memelihara secara mandiri masyarakat masih belum memiliki kemampuan secara finansial.

Permintaan akan produk daging sapi oleh masyarakat Kabupaten Kepahiang relatif tinggi dan terus meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk dan semakin meningkatnya perekonomian masyarakat kabupaten kepahiang secara rata-rata. Hal ini dapat dilihat dari masih tingginya harga daging sapi di kabupaten kepahiang yang lebih tinggi dari pada harga daging sapi di kabupaten lain di provinsi Bengkulu dan kadang melebihi harga jual di tingkat harga rata-rata provinsi Bengkulu. Terutama di masa-masa tertentu seperti di saat menjelang puasa, lebaran dan musim dimana masyarakat banyak mengadakan pesta perkawinan. Untuk saat ini, kebutuhan daging sapi di kabupaten kepahiang masih banyak di pasok dari luar daerah seperti curup, pagar alam, dan bahkan mendatangkan dari provinsi lampung.

Berdasarkan kondisi tersebut di atas maka upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat marjinal di sekitar perkebunan teh dengan melakukan pengembangan ternak sapi potong di Kecamatan Kabawetan Kabupaten kepahiang sangat tepat untuk dilaksanakan.

 

 

KONDISI MASYARAKAT SEKITAR PERKEBUNAN TEH DAN POTENSI YANG DIMILIKI

 

Kondisi Masyarakat Sekitar Perkebunan Teh

Masyarakat Kecamatan Kabawetan pada awalnya  berasal dari masyarakat Jawa yang dulunya didatangkan oleh pemerintah Belanda untuk menjadi tenaga pekerja sebagai kuli kontrak pada perkebunan teh milik perusahaan Belanda di zaman penjajahan Belanda. setelah masa penjajahan berakhir dan perusahaan perkebunan menjadi milik pemerintah Indonesia dan mengalami pasang surut hingga tahun 60an perusahaan teh diKabawetan mengalami kebangkrutan dan perusahaan ditutup. Mereka secara turun temurun mendiami daerah sekitar perkebunan teh tersebut hingga saat ini.

Sebagian besar masyarakat di Kecamatan Kabawetan pada saat ini menggantungkan hidupnya pada dua perusahaan besar perkebunan teh yang ada di sana yaitu perkebunan teh Sarana Mandiri Mukti dan Perkebunan Teh Trisula. Perusahaan Teh Sarana Mandiri Mukti merupakan Perusahaan Teh yang salah satu pemilik sahamnya adalah Pemerintah Daerah Proinsi Bengkulu dan Pengusaha Nasional Indonesia. Sedangkan perkebunan Teh Trisula adalah perkebunan teh yang merupakan investasi Asing yang dimiliki oleh pengusaha dari Taiwan, sehingga perusahaan ini sering disebut juga perkebunan teh Taiwan oleh masyarakat umum.

Umumnya masyarakat sekitar perkebunan bekerja sebagai  buruh kasar harian di dua perusahaan teh tersebut, baik sebagai pemetik teh yang umumnya dilakukan oleh kaum perempuan, dan juga sebagai buruh harian dalam pemeliharaan tanaman teh seperti buruh penyiangan, pemupukan, pengendalian hama penyakit maupun sebagai buruh pabrik dan lainnya. Hanya sebagian kecil saja masyarakat yang bekerja sebagai pegawai bulanan kantor perusahaan yang memiliki pendapatan cukup memadai. Kondisi ini disebabkan oleh hampir sebagian besar masyarakat sekitar perkebunan ini memiliki tingkat pendidikan yang rendah sehingga tidak mampu untuk mendapatkan posisi yang cukup baik di perusahaan yang  mensyaratkan tingkat pendidikan tertentu untuk menempati jabatan sebagai pegawai bulanan perusahaan. Sebagai buruh harian dan tenaga kerja kasar di perusahaan, maka tingkat pendapatan masyarakat sangat bergantung kepada perusahaan dan relatif rendah. Kondisi ini berdampak pada tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat yang juga relatif kurang menguntungkan dan dikategorikan masyarakat miskin. Kondisi ini juga di dukung oleh kurangnya lahan pekerjaan lain yang bisa dijadikan oleh masyarakat untuk menambah pendapatan bagi keluarganya karena sedikitnya luasan lahan pertanian yang dimiliki oleh masyarakat. Hampir sebagian besar lahan yang dulunya dikerjakan masyarakat untuk usaha pertanian telah diambil alih oleh perusahaan perkebunan teh dan hanya sebagiankecil sisa lahan yang tidak bisa ditanami oleh teh yang dapat diusahakan oleh masyarakat untuk bercocok tanam tanaman pertanian dan palawija, namun kepemilikan lahan tersebut biasanya hanya dimiliki oleh sebagian kecil masyarakat di sekitar perusahaan tersebut. Kondisi ini sama seperti yang di sampaikan oleh Alqadrie (1994) yang di sitasi oleh Arkanudin (2012) menyatakan bahwa “dengan adanya pembangunan subsektor perkebunan bagi masyarakat pedalaman tidak hanya menyebabkan terbatasnya ruang gerak tetapi juga tanah-tanah adat yang dimiliki penduduk diambil alih atau dikuasai oleh pihak perusahaan”.

 

Potensi Masyarakat Sekitar Perkebunan Teh

Masyarakat sekitar perkebunan teh adalah masyarakat yang gigih dan ulet dalam berusaha. Dengan berbagai kesulitan yang ada selain bekerja sebagai buruh pada perkebunan teh, sebagian masyarakat memanfaatkan lahan-lahan sekitar perkebunan untuk bercocok tanam pertanian palawija, sayur-sayuran dan tanaman semusim lainnya. usaha sampingan ini cukup dapat membantu memberi nilai tambah bagi masyarakat untuk menambah pendapatan bagi keluarganya. Beberapa usaha lain yang dilakukan oleh masyarakat adalah memelihara hewan ternak seperti sapi.

Masyarakat yang memelihara ternak sapi ini jika dilihat dari kondisi kehidupannya relatif lebih baik dibanding dengan masyarakat lain umumnya karena ternak sapi dapat berfungsi sebagai tabungan bagi keluarga yang dapat digunakan disaat  kebutuhan mendesak bagi keluarganya. Untuk mengembangkan ternak sapi ini sangat memungkinkan dilakukan di areal perkebunan karena banyak lahan-lahan yang tidak dapat ditanami oleh teh dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk ditanami hijauan pakan sebagai sumber pakan ternak sapi. Saat ini kebanyakan masyarakat yang memelihara ternak sapi adalah memelihara ternak sapi orang lain dengan sistem gaduh. Ternak sapi biasanya adalah milik pedagang sapi yang di titipkan ke masyarakat dan setelah waktu tertentu siap di jual, petani mendapat bagian dari hasil penjualan sapi tersebut. Dilihat dari kondisi ini pengembangan ternak sapi sangat memungkinkan untuk dikembangkan di masyarakat daerah sekitar perkebunan teh.

Pengembangan ternak sapi di daerah ini sangat potensial untuk dilakukan, karena tingkat permintaan akan daging sapi di kabupaten Kepahiang relatif tinggi dan harga daging sapi relatif baik dibanding dengan kabupaten lain di provinsi Bengkulu. Selain itu sumber bahan hijauan pakan tersedia melimpah yang didapatkan dari sisa hasil tanaman pertanian dan palawija, hijauan pakan yang banyak terdapat di kawasan perkebunan dan biasanya justru menjadi gulma bagi perkebunan teh. Potensi lain yang mendukung adalah masyarakat sekitar perkebunan adalah para pekerja keras yang gigih dan telaten dalam memelihara hewan ternak sapi serta ternak sapi tidak memerlukan waktu bekerja harian yang padat serta masyarakat tetap bisa melaksanakan pekerjaan lainnya.

 

PENINGKATAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT MARGINAL SEKITAR PERKEBUNAN TEH MELALUI PENGEMBANGAN SAPI POTONG SISTEM KEREMAN

 

Sapi potong merupakan salah satu ternak penghasil daging yang banyak dipelihara oleh masyarakat. Namun Sampai saat ini permintaan akan daging sapi baik di tingkat lokal dan nasional masih belum terpenuhi.  Kebutuhan daging sapi sebagai salah satu sumber protein hewani semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi yang baikserta  pertambahan penduduk dan meningkatnya daya beli masyarakat.

Di Indonesia, kebutuhan akan daging sapi terus  meningkat. Namun peningkatan tersebut belum diimbangi dengan penambahan produksi yang memadai. Laju peningkatan populasi sapi potong relatif lamban, yaitu 4,23% pada tahun 2007 (Direktorat Jenderal Peternakan 2007). Kondisi tersebut menyebabkan sumbangan sapi potong terhadap produksi daging nasional masih rendah. Hal ini menyebabkan  terjadi kesenjangan yang makin lebar antara permintaan dan penawaran (Setiyono et al. 2007).

Sapi potong merupakan salah satu ternak  kontribusi terbesar kedua setelah ternak ayam potong sebagai penghasil daging. Selama ini produksi daging sapi di Indonesia belum mampu memenuhi permintaan dalam negeri yang cenderung meningkat setiap tahun. Oleh karena itu, pemerintah melalui dirjen peternakan meluncurkan program swasembada daging sapi hingga tahun 2014 (dirjen Peternakan 2012).

Peningkatan permintaan terhadap daging sapi membuka peluang bagi pengembangan sapi potong lokal Untuk meningkatkan peran sapi potong sebagai sumber pemasok daging dan pendapatan peternak, upaya untuk tersebut dapat dilakukan dengan  menerapkan sistem pemeliharaan secara intensif dengan perbaikan manajemen pakan, peningkatan kualitas bibit yang disertai pengontrolan terhadap penyakit.

 

 

Pemeliharaan Sapi Potong Sistem Kereman

Usaha penggemukan sapi pada dasarnya adalah melakukan pemeliharaan ternak sapi dengan memanfaatkan ternak sapi, pakan dan tata laksana pemeliharaan dan peluang pasar sesuai dengan ketersediaan sumberdaya sistem ini biasa disebut pleh masyarakat peternak dengan istilah kereman. Pola penggemukan sapi dengan sistem kereman ini dilakukan dengan cara sepanjang hari ternak dipelihara di dalam kandang dan diberi makan yang terdiri dari hijauan, pakan tambahan dan pengontrolan kesehatan secara intensif (BPTP Kalimantan Tengah, 2009). Penggemukan sapi potong sistem kereman juga diartikan sebagai pemeliharaan sapi dewasa dalam keadaan kurus untuk ditingkatkan berat badannya melalui pembesaran daging dalam waktu relatif singkat (3-5 bulan) (Teknis Budidaya , 2007)

Teknis Pemeliharaan Sapi Kereman

Pemeliharaan sapi dengan sistem kereman secara umum hampir sama dengan pemeliharaan sapi biasanya, tetapi lebih di tekankan dalam beberapa faktor, diantaranya adalah:

  1. 1.      Bibit Sapi.

Bibit sapi yang dipilih sebagai calon untuk di keremkan atau biasa disebut bakaln adalah sapi jantan yang berumur 1-2 tahun. Jenis sapi yang biasa dipelihara adalah jenis sapi lkal seperti sapi Bali, sapi ongole dan sapi impor seperti simental, brahman dan jenis lainnya. Ciri-ciri bakalan yang baik menurut (Teknis Budidaya, 2007) adalah:

–          Berumur di atas 2,5 tahun.

–          Jenis kelamin jantan.

–          Bentuk tubuh panjang, bulat dan lebar, panjang minimal 170 cm tinggi pundak minimal 135 cm, lingkar dada 133 cm.

–          Tubuh agak kurus, tulang menonjol, tetapi tetap sehat (kurus karena kurang pakan, bukan karena sakit).

–          Pandangan mata bersinar cerah dan bulu halus.

–          Kotoran normal

 

  1. 2.      Perkandangan

Secara umum, kandang memiliki dua tipe, yaitu individu dan kelompok. Pada kandang individu, setiap sapi menempati tempatnya sendiri berukuran 2,5 X 1,5 m. Tipe ini dapat memacu pertumbuhan lebih pesat, karena tidak terjadi kompetisi dalam mendapatkan pakan dan memiliki ruang gerak terbatas, sehingga energi yang diperoleh dari pakan digunakan untuk hidup pokok dan produksi daging tidak hilang karena banyak bergerak. Pada kandang kelompok, bakalan dalam satu periode penggemukan ditempatkan dalam satu kandang. Satu ekor sapi memerlukan tempat yang lebih luas daripada kandang individu. Kelemahan tipe kandang ini yaitu terjadi kompetisi dalam mendapatkan pakan sehingga sapi yang lebih kuat cenderung cepat tumbuh daripada yang lemah, karena lebih banyak mendapatkan pakan.

 

  1. 3.      Pakan

Pakan merupakan hal yang sangat pokok dalam menentukan besar kecilnya keuntungan akhir pada usaha penggemukan sapi potong. Berdasarkan kondisi fisioloigis dan sistem pencernaannya, sapi digolongkan hewan ruminansia, karena pencernaannya melalui tiga proses, yaitu secara mekanis dalam mulut dengan bantuan air ludah (saliva), secara fermentatif dalam rumen dengan bantuan mikrobia rumen dan secara enzimatis setelah melewati rumen.

Penggemukan dengan mengandalkan pakan berupa hijauan saja, kurang memberikan hasil yang optimal dan membutuhkan waktu yang lama. Salah satu cara mempercepat penggemukan adalah dengan pakan kombinasi antara hijauan dan konsentrat. Konsentrat yang digunakan adalah ampas tempe, ampas tahu, ampas tebu, bekatul, kulit biji kedelai, kulit nenas dan buatan pabrik pakan. Konsentrat diberikan lebih dahulu untuk memberi pakan mikrobia rumen, sehingga ketika pakan hijauan masuk rumen, mikrobia rumen telah siap dan aktif mencerna hijauan.

Kebutuhan pakan (dalam berat kering) tiap ekor adalah 2,5% berat badannya. Hijauan yang digunakan adalah jerami padi, daun tebu, daun jagung, alang-alang dan rumput-rumputan liar sebagai pakan berkualitas rendah dan rumput gajah, setaria kolonjono sebagai pakan berkualitas tinggi.

Menurut BPTP kalimatan tengah (2007) Hasil akhir dari usaha penggemukan sapi potong yang telah dikaji ditingkat petani dengan pertambahan bobot badan harian rata-rata 0,51 kg

Perekor,pakan yang bisa diberikankepada ternak sapi adalah:

  • Pakan pokok berupa rumput dengan jumlah pemberian minimal 10% dari bobot  badan ternak sapi.
  • Air minum disediakan terus menerus didalam tempat pakan dengan menggunakan ember.
  • Pakan tambahan berupa bungkil kelapa atau dedak 1,5 kg/bb/ekor sebelum makan rumput.

 

Menurut Dinas Peternakan Hewan (2010) Pakan yang diberikan terdiri atas :

  • Hijauan minimal 10 % dari bobot badan,
  • Konsentrat antara 1-2 % dari bobot badan,
  • Suplemen (vitamin, mineral, calsium) secukupnya/sesuai kebutuhan,
  • Air minum tidak dibatasi (ad libitum).

Pemberian pakan diatas diharapkan dapat dicapai pertambahan bobot badan (PBB) harian minimal 0,5 kg (PO) dan 0,7 kg (Simental, Limousine, PFH) dengan pakan diberikan dua kali sehari, yaitu pagi dan sore hari.

 

  1. Penjagaan Kesehatan Ternak

 

Supaya terjadi pertambahan bobot badan yang optimal maka perlu diadakan penjagaaan kesehatan ternak secara optimal yang dapat dialkukan dengan cara :

–            Pada awal penggemukan sebaiknya diberi obat cacing dan vitamin terutama vitamin B kompleks dengan tujuan ternak bebas dari parasit cacing dan dalam serta tuntuk memperbaiki nafsu makan dan meningkatkan pertumbuhan bobot badan.

–            Bersihkan kandang setiap hari,tampung kotoran ditempat penampungan yang telah tersedia yang selanjunya kotoran dapat dibuat pupuk kompos untuk pupuk tanaman.

–            Mandikan ternak setiap dua hari sekali.

–            Ternak jangan diberi rumput yang terlalu muda atau yang berasal dari areal yang baru disemprot/pupuk.

 

Prospek Pengembangan  Sapi Potong sebagai Upaya Peningkatan Kesejahteraan Mayarakat

Pengembangan sapi potong dengan sistem kereman ini sangat berpotensi baik untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, terutama masyarakat di sekitar perkebuna teh yang sangat terbatas sumberdayanya. Pemeliharaan sapi sistem kereman tidak banyak membutuhkan tempat yang terlalu luas dan masyarakat masih tetap dapat melaksnakan kegiatan bekerja di perkebunan seperti biasa, karena pemeliharaan sapi dengan sistem ini tidak membutuhkan waktu yang khusus.

Hasil daging dari sapi kereman relatif lebih lunak dan kualitas daging yangbaik serta jumlahbobot yang lebih baik di banding jika sapi digembalakan ( Dunia Sapi, 2012). Dengan kualitas daging dan bobot yang labih tinggi, tentunya akan meningkatkan harga jual sapi dan meningkatkan pendapatan para masyarakat yang memelihara ternak sapi tersebut.

Ardani (2012) menyatakan bahwa usaha penggemukan sapi potong dengan sistem pemeliharaan yang intesnsif sangat menguntungkan dengan pemeliharaan ternak 20 ekor maka Break Even Point (BEP) = 0,86, B/C= 1,16 dan ROI = 15, 97%.

 

Untuk pengembangan lebih lanjut di masyarakat  miskin yang tidak memiliki cukup sumberdaya seperti di sekitar perkebunan teh di kecamatan kabawetan ini diperlukan peran serta dari pemerintah dalam hal memberikan bantuan dalam bentuk program pembinaan maupun batuan modal usaha bagi masyarakat. Sistem yang bisa dikembangkan salah satunya adalah dengan membangun kemitraan bersama perusahaan Perkebunan dengan melalui fasilitasi pemerintah Daerah terutama Pemerintah Daerah kabupaten kepahiang.  Pola pemeliharaan ternak dengan dukungan perusahaan sangat memungkinkan dilakukan sebgaimana yang telah dilakukan perusahaan perkebunan lainnya yangtelah berjalan melalui program bapak angkat atau melalui bantuan dan sosial bagi masyarakat.

 

KESIMPULAN

Pengembangan sapi potong dengan sistem kereman ini sangat berpotensi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, terutama masyarakat di sekitar perkebuna teh yang sangat terbatas sumberdayanya. Hasil daging dari sapi kereman relatif lebih lunak dan kualitas daging yang baik serta jumlah bobot yang lebih baik usaha penggemukan sapi potong dengan sistem pemeliharaan kereman  sangat menguntungkan.

Untuk membantu pengembangan peternakan sapi potong di masyarakat marjinal diperlukan kerjasama semua pihak terutama pihak Pemerintah daerah dan Pihak Perusahaan untuk membangun kemitraan dengan masyarakat sehingga masyarakat mampu membangun usaha peternakan dan dapat meningkatkan taraf kehidupan yang lebih sejahtera.

 

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih disampaikan kepada penulis jurnal sehingga dapat dijadikan karya ilmiah. Dan juga disampaikan kepada Bapak Prof. Dr.Urip Santoso, M.Sc sebagai Dosen Pengasuh Mata Kuliah. Semoga kesejahteraan masyarakat sekitar perkebunan teh dapat di tingkatkan dengan pengembangan sapi potong dengan sisten kereman.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ardati, 2006. Prospek dan Analisa Usaha Penggemukan Sapi Potong Di kalimantan Timur Ditinjau Dari Sosial Ekonomi, EPP.Vol.3.No.1.2006:21-30

 

BPTP Kalimantan Tengah, 2009, Teknologi Penggemukan Sapi secara Kereman, Info Teknologi Pertanian, BPTP kalimantan Tengah

http://duniasapi.com/id/budidaya/1621-penggemukan-sapi-tradisional.htm Akses tanggal 31 Agustus 2012.

http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-sapi-potong.html Akses tanggal 03 September 2012

Saputra, Dkk., 2009. Strategi Pengembangan Ternak Sapi Potong Berwawasan Agribisnis Di Propinsi Aceh, Jurnal Manajemen Agribisnis Vol 6. No. 2.

Setiyono, P.B.W.H.E., Suryahadi, T. Torahmat, dan R. Syarief. 2007. Strategi suplementasi protein ransum sapi potong berbasis jerami dan dedak padi. Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Peternakan 30(3): 207−217.

Kusnadi, 2008, Inovasi Teknologi Peternakan Dalam Sistem Integrasi Tanaman-Ternak Untuk Menunjang Swasembada Daging Sapi. Pengembangan Inovasi Pertanian 1(3) 2008 :189 – 205

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s