Jurnal Bengkulu Mandiri

Membangun Bengkulu Menuju Budaya Riset

PERTUMBUHAN DAN KELULUSAN BENIH IKAN JAMBAL SIAM ( (Pangasius hipotalamus) DENGAN PEMBERIAN PAKAN BOKASHI YANG DIBUDIDAYAKAN DI AIR TAWAR September 3, 2012

Filed under: Peternakan — Urip Santoso @ 6:59 am
Tags: ,

Oleh:  Novran Tri Bakti1) Urip santoso2) Dede Hartono3)

Abstrak

Perlakuan yang terbaik terdapat pada perlakuan KP75D25. Pada perlakuan KP75D25 rata-rata pertumbuhan bobot mutlak sebesar 5,63 gram, rata-rata pertumbuhan panjang mutlak sebesar 6,65 gram, rata-rata laju pertumbuhan spesifik 2.05 % dan kelulushidupan 100 %. Adapun kisaran parameter kualitas air pada perlakuan KP75D25 yaitu suhu 27-29 oC, pH 5-7,5 DO 4,3-6,2 mg/l, CO2 7,5-8,2 mg/l dan NH3 0,046-0,454 mg/l. Pemberian pakan bokashi dengan komposisi KP75D25 (75 % kotoran puyuh dan 25 % dedak halus) dapat diaplikasikan kepada petani ikan sebagai pakan benih ikan jambal siam, karena mengandung protein yang tinggi dan tidak mencemari lingkungan. Untuk air rawa masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut berapa dosis EM4 yang tepat untuk meningkatkan pH air rawa.

Kata kunci :  kelulus hidupan ikan jambal siam diberi  pakan bokasi

PENDAHULUAN

Semakin bertambahnya jumlah penduduk, maka kebutuhan masyarakat akan protein hewani yang berasal dari ikan juga meningkat. Ikan jambal siam (Pangasius hypophtalmus) merupakan jenis ikan air tawar yang banyak dibudidayakan dan merupakan komoditi perikanan Provinsi Bengkulu yang potensial untuk dibudidayakan. Ikan jambal siam meskipun tidak populer pembesarannya di kolam rawa, khususnya rawa non pasang surut, namun sudah pernah dicobakan di Kertamulia Muara Enim, Sumatera Selatan (Susanto,2002).

Provinsi Bengkulu merupakan salah satu Provinsi yang memiliki lahan gambut cukup luas. Total luas lahan gambut tersebut mencapai 1.102.395 ha dimana tingkat ketebalannya antara 0,5 hingga 2 meter dan lebih dari 2 meter (Badan Pengkajian dan penerapan Teknologi,1997). Perairan yang terdapat di lahan gambut disebut perairan rawa. Air di lahan rawa berasal dari sungai dan limpahan air hujan yang terakumulasi. Di lahan rawa lebak, air berasal dari akumulasi air hujan yang tidak terdrainase dan limpahan air sungai disekitarnya yang meluap di musim hujan.

Selama ini pengembangan budidaya ikan jambal siam banyak dilakukan di perairan tawar. Namun, semakin berkurangnya lahan yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya ikan, maka saat ini lahan rawa telah mulai dimanfaatkan sebagai areal budidaya ikan dan juga pertanian. Menurut data statistik Provinsi Riau mempunyai luas 9.456.160 ha dan diantaranya sebanyak 1.701.000 ha adalah tanah gambut. Perairan yang terdapat di kawasan gambut disebut dengan perairan rawa (Koesnadi,2000). Secara umum kondisi perairan rawa kaya akan bahan organik. Adapun masalah yang ditemukan pada perairan rawa meliputi faktor fisika, kimia dan biologi yaitu: warna airnya coklat kemerahan, pH 3-5, miskin unsur hara dan produktifitas rendah, sehingga kondisi seperti ini kurang memenuhi syarat didalam budidaya perikanan (Hasibuan, Mulyadi dan Rusliadi, 2006). Oleh karena itu agar dapat dimanfaatkan untuk usaha budidaya perikanan, perlu dicarikan teknologi yang dapat meningkatkan kualitas air rawa. Teknologi EM4 (Efektivitas Mikroorganisme 4) dapat menguraikan bahan-bahan organik, sehingga menjadi senyawa yang sangat dibutuhkan agar perairan menjadi lebih subur (PT.Songgolangit Persada,1995).

Keberhasilan usaha pembudidayaan ikan jambal siam juga tergantung pada kualitas pakan. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pakan adalah dengan menggunakan teknologi EM4 (Efektivitas Mikroorganisme4) yaitu suatu teknologi fermentasi bahan organik yang terdapat pada bahan pakan yang menghasilkan pakan bokashi. Pakan bokashi adalah hasil fermentasi bahan-bahan organik antara lain dedak, ampas kelapa, tepung ikan, kotoran ayam, kotoran puyuh, kotoran itik dan bahan organik lainnya dari limbah hasil pertanian dan peternakan. Bahan-bahan tersebut dapat dibuat pakan bokashi yang merupakan salah satu jenis pakan alternatif untuk pengganti pakan buatan yang harganya mahal. Penggunaan pakan bokashi dapat mengurangi biaya produksi karena bahan-bahan yang digunakan berasal dari limbah pertanian dan peternakan yang mudah diperoleh. Cara pembuatannya mudah dan biaya yang digunakan lebih murah (Hasibuan, Boer dan Pardinan, 2003).

Pemberian EM4 dan pakan bokashi dapat meningkatkan kualitas air rawa sehingga laju pertumbuhan dan kelulushidupan ikan jambal siam akan dapat ditingkatkan. Bahan organik yang digunakan pada pakan bokashi dengan memanfaatkan teknologi EM4 antara lain bokashi dedak halus dan tepung ikan, dapat memacu pertumbuhan ikan baung. Hasibuan dan Nuraini (2000) menjelaskan bahwa pemberian pakan bokashi pada larva ikan baung pada campuran dedak 25 % dan tepung ikan 75 % memberikan hasil pertumbuhan yang terbaik dengan berat rata-rata 0,298 gram. Hasil penelitian Putri (1999) mengenai pengaruh pemberian pakan bokashi dedak halus dan tepung ikan, pada larva ikan jambal siam yang di pelihara pada media air tawar, pertumbuhannya lebih baik dari pada yang diberi pakan pelet CP 783. Kualitas air yang diperoleh antara lain amoniak berkisar antara 0,000-0,153 mg/l.

Berdasarkan hal yanng telah diuraikan maka penelitian terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan benih ikan jambal siam yang diberi pakan bokashi dedak halus dan kotoran puyuh, dibudidaya pada  air rawa perlu dilakukan.

 

METODE PENELITIAN

Penelitin ini dilaksanakan selama 60 hari yang dimulai dari tanggal 01 januari 2012 sampai dengan 01 Februari 2012 di Hachery ikan air tawar Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Bengkulu.

Objek penelitian yang digunakan adalah benih ikan jambal siam yang berukuran berkisar antara 6,4 cm yang diperoleh dari desa kandang kota Bengkulu sebanyak 120 ekor. Pakan yang digunakan adalah pelet seri  CP781-2 produksi PT.Charoen Phokpan dan pakan bokashi dedak halus dan kotoran puyuh.

Wadah yang digunakan dalam penelitian ini adalah akuarium yang berukuran 110 x 40 x 50 cm3 sebanyak 12 unit. Masing-masing akuarium di isi dengan air rawa yang diambil di Hachery ikan air tawar Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Bengkulu. dengan ketinggian air 20 cm dan padat tebar 10 ekor/wadah.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen yang terdiri dari satu faktor dengan empat taraf perlakuan. Untuk memperkecil kekeliruan masing-masing taraf perlakuan dilakukan ulangan sebanyak tiga kali. Adapun perlakuan yang diterapkan yaitu pemberian pakan bokashi 25% kotoran puyuh dan 75% dedak halus (KP25D75), 50% kotoran puyuh dan 50% dedak halus (KP50D50), 75% kotoran puyuh and 25% dedak halus halus (KP75D25) dan Pelet seri CP 781-2 (sebagai kontrol).

Benih diadaptasikan terlebih dahullu terhadap pakan dan kondisi laboratorium selama 7 hari. Selanjutnya barulah benih di adaptasikan kewadah pemeliharaan air rawa dan pakan bokashi selama 7 hari. Setelah benih beradaptasi di media pemeliharaan air rawa dan pakan bokashi, barulah dilakukan penimbangan bobot tubuh awal dan pengukuran panjang awal benih.

Pemberian pakan bokashi dilakukan secara ad libitum 3 kali sehari yaitu pada pukul 08.00 WIB, 12.30 WIB dan 17.30 WIB. Pemberian pakan in sesuai dengan yang dilakukan oleh Tang (2003).

Penyamplingan bobot dan panjang benih di lakukan setiap 2 minggu sekali. Pengukuran kualitas air seperti suhu dan pH dilakukan setiap 3 hari sekali, sedangkan DO, CO2 dan NH3 di ukur pada awal penelitian, pertengahan penelitian dan akhir penelitian. Peubah yang diukur pada penelitian ini adalah:

  1. 1.             Pertumbuhan Bobot Mutlak.

Pertumbuhan bobot mutlak dapat dihitung dengan menggunakan rumus Effendie (1979) yaitu :

Wm            =   Wt-Wo

Dimana :

Wm            =   Pertumbuhan berat mutlak (g).

Wt              =   Bobot akhir (g)

Wo             =   Bobot akhir (g)

  1. 2.             Pertumbuhan Panjang Mutlak

Pertumbuhan panjang mutlak dapat dihitung dengan menggunakan rumus Effendie (1979) yaitu:

Lm             = Lt-Lo

Diman :

Lm             =  Pertumbuhan panjang mutlak (cm)

Lt               =  Panjang akhir (cm)

Lo              =  Panjang awal (cm)

  1. 3.             Laju Pertumbuhan Spesifik.

Laju pertumbuhan spesifik dapat dihitung menggunakan rumus Zonneveld, Huisman dan Boon (1991) yaitu:

(Ln.Wt – Lo.Wo)

Dimana :

SGR = Laju pertumbuhan spesifik (%)   Wt  = Berat awal (g) dan

Wo = Berat akhir (g)

  1. 4.             Kelulushidupan.

Kelulushidupan benih ikan jambal siam dihitung menggunakan rumus Effendie (1979) yaitu:

Dimana :

SR= Kelulushidupan (%).

Nt = Jumlah benih akhir penelitian (ekor).

No = Jumlah benih awal penelitian (ekor).

 

  1. 5.             Parameter Kualitas Air.

Parameter kualitas air yang diukur selama penelitian adalah suhu, pH, Oksigen terlarut (DO), CO2 dan NH3.

Data yang diperoleh selam penelitian di tabulasikan dalam bentuk tabel dan dilakukan uji homogenitas. Apabila data homogen, selanjutnya dilakukan uji statistik F (ANAVA). Bila uji statistik menunjukkan perbedaan yang nyata dimana F hitung > F tabel maka dilakukan uji rentang Neuman-Keuls untuk menentukan perbedaan antar perlakuan (Sudjana, 1991).

Hasil pengukuran parameter kualitas air pada masing-masing perlakuan di tabulasikan dan dianalisa secara deskriptif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. 1.      Hasil
  2. a.      Pertumbuhan Bobot Mutlak Benih ikan Jambal Siam

Hasil pengamatan pertumbuhan bobot benih ikan jambal siam yang dilakukan selama penelitian dapat dilihat pada Lampiran 1, sedangkan data bobot rata-rata benih pada masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Tabel 4

Tabel.4    Bobot Rata-rata Benih Ikan Jambal Siam (Pangasius hypophthalmus) Selama Penelitian

Perlakuan

Bobot rata-rata (g) Minggu ke-

0

2

4

6

8

KP25D75

KP50D50

KP75D25

P100

2,3

2,3

2,3

2,3

3,04

3,75

4

3,35

4

5,62

6,66

5,22

5,1

6,8

7,78

6,40

6,96

7,5

7,93

7,18

Keterangan:

KP25D75  = kotoran Puyuh 25 % dan Dedak Halus 75 %

KP50D50  = kotoran Puyuh 50 % dan Dedak Halus 50 %

KP75D25  = kotoran Puyuh 75 % dan Dedak Halus 25 %

P100       = Pelet 781-2 Charoen Pokphan

Berdasarkan Tabel. 4 dapat dilihat perbedaan bobot rata-rata individu benih ikan jambal siam pada awal penelitian dan akhir penelitian. Pada akhir penelitian didapatkan bahwa perlakuan KP75D25 menunjukkan angka pertumbuhan bobot rata-rata yang tertinggi yaitu sebesar 7,93 gram dan perlakuan KP25D75 menunjukkan angka pertumbuhan bobot rata-rata yang terendah yaitu sebesar 6,96 gram.

Selanjutnya dari data pertumbuhan bobot rata-rata benih ikan jambal siam tersebut diperoleh pertumbuhan bobot mutlak. Adapun data rata-rata pertumbuhan bobot mutlak pada masing-masing perlakuan dapat dilihat pada   Tabel. 5.

Tabel. 5   Rata-rata Pertumbuhan Bobot Mutlak Benih Ikan Jambal Siam (Pangasius hypophthalmus) Selama Penelitian

Ulangan

Bobot rata-rata (g) Minggu ke-

KP25D75

KP50D50

KP75D25

P100

 

1

2

3

4,58

5,21

4,71

5,19

5,21

5,25

5,56

5,61

5,72

4,84

4,86

4,93

Jumlah

13,96

15,65

16,89

14,64

Rata-rata

4,66 c

5,21 b

5,63 a

4,88ab

Ket   :  Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5%

Berdasarkan Tabel. 5 dapat dilihat perbedaan rata-rata pertumbuhan bobot mutlak benih ikan jambal siam pada masing-masing perlakuan. Pertumbuhan bobot mutlak tertinggi terdapat pada perlakuan KP75D25 yaitu sebesar 5,63 gram dan yang terendah terdapat pada perlakuan KP25D75 sebesar 4,66 gram.

  1. b.      Pertumbuhan Panjang Mutlak Benih Ikan Jambal Siam

Hasil pengamatan pertumbuhan panjang benih ikan jambal siam yang dilakukan selama penelitian dapat dilihat pada Lampiran 3, sedangkan data panjang rata-rata benih pada masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Tabel. 6.

Tabel. 6   Panjang Rata-rata Benih Ikan Jambal Siam (Pangasius hypophthalmus) Selama Penelitian.

Perlakuan

Panjang rata-rata (cm) Minggu ke-

0

2

4

6

8

KP25D75

KP50D50

KP75D25

P100

 

6,40

6,40

6,40

6,40

6,78

7,81

8,21

7,28

8,21

8,83

9,43

8,61

9,16

9,90

10,64

9,74

12,03

12,71

13,04

12,33

Berdasarkan  Tabel. 6 dapat dilihat perbedaan panjang rata-rata benih ikan jambal siam pada awal penelitian dan akhir penelitian. Pada akhir penelitian didapatkan bahwa perlakuan KP75D25 menunjukkan angka pertumbuhan panjang rata-rata rertinggi yaitu sebesar 13,04 cm dan perlakuan KP25D75 menunjukkan angka pertumbuhan panjang rata-rata yang terendah yaitu sebesar 12,03 cm.

Selanjutnya dari data pertumbuhan panjang rata-rata benih ikan jambal siam tersebut diperoleh pertumbuhan panjang mutlak. Adapun data rata-rata pertumbuhan panjang mutlak pada masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Tabel.7.

Tabel. 7   Rata-rata Pertumbuhan Panjang Mutlak Benih Ikan Jambal Siam (Pangasius hypophthalmus) selama penelitian

Ulangan

Rata-rata Pertumbuhan Panjang Mutlak (cm)

KP25D75

KP50D50

KP75D25

P100

1

2

3

 

5,58

5,63

5,70

6,25

6,30

6,39

6,59

6,67

6,71

5,90

5,93

5,98

Jumlah

16,91

18,94

19,97

17,81

Rata-rata

5,63 c

6,31 b

6,65 a

5,93 ab

Berdasarkan Tabel. 7 dapat dilihat perbedaan rata-rata pertumbuhan panjang mutlak benih ikan jambal siam pada masing-masing perlakuan. Pertumbuhan panjang mutlak tertinggi terdapat pada perlakuan KP75D25 yaitu sebesar 6,65 cm dan yang terendah terdapat pada perlakuan KP25D75 sebesar 5,63 cm.

  1. c.       Laju Pertumbuhan Spesifik Benih Ikan Jambal Siam

Hasil pengamatan laju pertumbuhan spesifik pada benih ikan jambal siam yang diperoleh selama penelitian dapat dilihat pada Tabel. 8 Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 5.

Tabel. 8   Rata-rata Laju Pertmbuhan Spesifik Benih Ikan Jambal Siam (Pangasius hypophthalmus) Selama Penelitian

Ulangan

Rata-rata Laju Pertumbuhan Spesifik (%)

KP25D75

KP50D50

KP75D25

P100

1

2

3

 

1,82

1,85

1,85

1,96

1,97

1,97

2,04

2,05

2,08

1,88

1,89

1,90

Jumlah

5,52

5,9

6,17

5,67

Rata-rata

1,84 c

1,96 b

2,05 a

1,89ab

Ket   :  angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5%

Dari Tabel. 8 dapat dilihat bahwa rata-rata laju pertumbuhan spesifik tertinggi diperoleh pada perlakuan KP75D25 sebesar 2,05 % dan rata-rata laju pertumbuhan spesifik terendah diperoleh pada perlakuan KP25D75 sebesar 1,84 %.

  1. d.      Kelulushidupan

Kelulushidupan benih ikan jambal siam selama penelitian berkisar antara 80-100 %. Pengamatan kelulushidupan benih ikan jambal siam selam penelitian untuk jelasnya dapat dilihat pada Tabel. 9 dan Lampiran 7


 

Tabel. 9   Rata-rata Kelulushidupan Benih Ikan Jambal Siam (Pangasius Hypophthalmus) Selama Penelitian

Ulangan

Kelulushidupan

KP25D75

KP50D50

KP75D25

P100

1

2

3

 

80

80

80

90

100

100

100

100

100

80

100

90

Jumlah

240

290

300

270

Rata-rata

80 c

  96,66 b

100 a

90ab

Ket   :  angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama tidak berbeda nyta pada taraf 5%

Dari Tabel. 9 dapat dilihat bahwa kelulushidupan yang tertinggi terdapat pada perlakuan KP75D25 100%, diikuti perlakuan KP50D50 96,66%, P100 90% dan yang terendah KP25D75 80%.

  1. e.       Parameter Kualitas Air

Parameter kualitas air yang diukur pada penelitian ini adalah suhu, pH, oksigen terlarut, karbondioksida dan amonia. Hasil pengukuran kualitas air selama penelitian dapat dilihat pada Tabel. 10 dan Lampiran 9

 

Tabel. 10   Hasil Pengukuran Kualitas Air Selama Penelitian

 Perlakuan

Parameter

Suhu (0C)

pH

DO (mg/l)

CO2 (mg/l)

NH3 (mg/l)

KP25D75

KP50D50

KP75D25

P100

27-29

27-29

27-29

27-29

5-7,5

5-7,5

5-7,55-6

4,0-5,3

4,2-6,3

4,3-6,2

4,3-5,0

6,7-8,2

7,1-8,3

7,5-8,2

6,4-8,6

0,064-0,541

0,042-0,528

0,046-0,454

0,015-0,681

Dari Tabel. 10 dapat dilihat bahwa kisaran parameter kualitas air yang diperoleh sangat mendukung kehidupan benih ikan jambal siam.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa pemberian komposisi pakan bokashi kotoran puyuh dan dedak halus berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan benih ikan jambal siam.

Perlakuan yang terbaik terdapat pada perlakuan KP75D25. Pada perlakuan KP75D25 rata-rata pertumbuhan bobot mutlak sebesar 5,63 gram, rata-rata pertumbuhan panjang mutlak sebesar 6,65 gram, rata-rata laju pertumbuhan spesifik 2.05 % dan kelulushidupan 100 %. Adapun kisaran parameter kualitas air pada perlakuan KP75D25 yaitu suhu 27-29 oC, pH 5-7,5 DO 4,3-6,2 mg/l, CO2 7,5-8,2 mg/l dan NH3 0,046-0,454 mg/l.

Pemberian pakan bokashi dengan komposisi KP75D25 (75 % kotoran puyuh dan 25 % dedak halus) dapat diaplikasikan kepada petani ikan sebagai pakan benih ikan jambal siam, karena mengandung protein yang tinggi dan tidak mencemari lingkungan.

Untuk air rawa masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut berapa dosis EM4 yang tepat untuk meningkatkan pH air rawa.

DAFTAR PUSTAKA

 

Susanto,H., 1996. Tekhnik Kawin Suntik Ikan Ekonomis. PT.Penebar Swadaya, Jakarta.

Susanto, H., 2002. Budidaya Ikan di Pekarangan. Penebar Swadaya, Jakarta. 152 hal.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi., 1997. Laporan Survei Awal Master Plan Purigatro Riau. BPPT, Jakarta. 37 hal.

Koesnadi, 2000., Mengelola Air Gambut dan Air Kotor Untuk Air Minum. PT.Penebar Swadaya. Jakarta.

Hasibuan, N., 2004. Pengelolan Limbah Menggunakan Teknologi EM4 untuk Budidaya Ikan pada Institut Pengembangan Sumberdaya Alam Bali. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 34 hal.

Hasibuan. N, Mulyadi, Rusliadi., 2006. Penuntun Praktikum Budidaya Perairan Rawa. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau (tidak diterbitkan).

Hasibuan, N dan Nuraini., 2000. Pertumbuhan Larva Ikan Baung (Mystus nemurus CV) yang diberi Pakan Pelet Bokashi Dedak halus dan Tepung ikan. Laporan penelitian fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru, 64 hal.

PT.Songgolangit Persada., 1995. Cara Pembuatan Bokashi dan Aplikasi. Jakarta.

Wididana, G.N., Rayatmo, S. Higa, T., 1996. Tanya Jawab Teknologi Efektive Mikroorganisme. Koperasi Karyawan. Departemen Kehutanan. Jakarta.

Putri.Y.E., 1999. Pengaruh Pemberian Pakan Bokashi Melalui Teknologi EM4 (Effective microorganisme) Terhadap Pertumbuhan Benih Ikan jambal Siam (Pangasius hypophthalmus). Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru (tidak diterbitkan).

Saanin, S., 1986. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Binacipta, Bogor. 508 hal.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s