Jurnal Bengkulu Mandiri

Membangun Bengkulu Menuju Budaya Riset

Diskusi Prospek Ikan Bandeng Umpan July 10, 2012

Filed under: Peternakan — Urip Santoso @ 2:56 pm
Tags: ,

Sebagai tindak lanjut diskusi Bengkulu Menjangkau Samudra di Bank Indonesia yang diselenggarakan oleh DRD Bengkulu tanggal 19 April 2012, maka diadakan pemaparan proposal pemeliharaan bandeng umpan sebagai langkah awal menuju Bengkulu Menjangkau Samudera tanggal 10 Juli 2012 di Kantor Gubernur Bengkulu. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bengkulu menyatakan bahwa mengenai umpan bandeng untuk ikan tangkap belum ada programnya, tetapi demplot pembesaran bandeng dan untuk konsumsi  sudah dilakukan dari dana DEKON.

1)      Konsep Bengkulu Menjangkau Samudera (BMS) oleh Dedy Bachtiar

Bengkulu mempunyai potensi yang besar di sector kelautan. Enggano daerah lintasa ikan tuna, Enggano potensi besar untuk pelagis besar dan kecil. 311 ton/tahun untuk pelagis kecil. Selama ini belum dimanfaatkan secara optimal di Enggano. Lebih banyak kapal asing disana yang menangkap ikan disana, nelayan hanya memanfaatkan sebagai kecil.

BMS merupakan visi ke depan untuk memanfaatkan potensi kelautan di Bengkulu. Tujuan: optimalisasi pemanfaatan sumber daya perikanan. Melibatkan berbagai pihak, seperti swasta nasional dan daerah serta pemerintah, merangkul semua stakeholders.

BMS pada dasarnya menyampaikan aspirasi yang berkembang di masyarakat perikanan untuk dapat melaksanakan penangkapan ikan lebih ketengah laut, ikan bernilai ekonomis tinggi mutu ekspor, dimana potensinya sangat tinggi.

Perlu beberapa hal

1)      Pengembangan ikan tangkap untuk mengoptimalkan sd perikanan.

2)      Pengembangan budidaya (laut dan darat) untuk mendukung ikan tangkap; sebagai umpan

3)      Pengembanagn insfrastruktur, seperti Pulau Baii sebagai tempat pendaratan atau tempat lain.

Pengembangan penyediaan fasilitas seperti TPI, jalan, air bersih dll.

4)      Pengembangan SDM. Menyiapkan sdmnya sehingga mampu mengembangkan ikan tangkap seperti tuna dan pelagis besar; memerlukan teknologi tinggi dan biaya besar. Tingkataan kemampuannya melalui pendidikan formal aupun nonformal, riset untuk rekayasa teknologi termasuk teknologi informasi ikan tangkap dan cuaca dll. Long line perlu umpan hidup. Orientasi kepada kebutuhan pasar.

Propek Umpan Bandeng sebagai umpan hidup

1)      Kapal long line dari Sumbar Kebutuhan bandeng umpan di perairan Bengkulu (luar Enggano) mencapai 400.000 ekor/2 minggu. Sumbar hanya menyediakan 35.000 ekor per 2 minggu. Belum termasuk kebutuhan dari asosiasi Tuna long-line Indonesia.

2)      Kebutuhan bandeng konsumsi juga meningkat di Provinsi Bengkulu.

3)      Tambak telah tersedia di Padang Srai 250 ha.

4)      Harga bandeng umpan dengan pemeliharaan 2 bulan harganya Rp 800-1000

5)      Pasar local dan Sumatera masih sangat terbuka dan terus mengalami pemingkatan permintaan. Ada permintaan dari Taiwan, Sibolga.

6)      Semua di atas didukung bahwa teknologi budidaya bandeng sudah dikuasai oleh masyarakat petambak  yang terbukti pernah mensuplay long-line ke Taiwan sampai 3 x.

7)      Bandeng yang tidak digunakan untuk umpan hidup digunakan sebagai bandeng konsumsi.

Kendala:

1)      Modal: Perlu modal untuk budidaya bandeng umpan yang dibudidayakan secara komersial.

2)      Pasar  (banyak dibutuhkan jadi tak masalah. Tambak 250-300 ha di Padang Serai perlu dimanfatakan seoptimal mungkin. Bisa diperluas bias sampai 700-800 ha. Tahap awal  direncanakan 5 ha untuk umpan bandeng. Diharapkan peningkatan pendapatan nelayan, Pemda serta masyarakat lainnya. Outpunya pemberdayaan masyarakat baik pemilik tambak maupun masyarakat lainnya.

3)      Tambak yang dikelola sdr Syarifuddin seluas 1,3 ha (2 petak) membutuhkan biaya Rp. 34.800.000. 2,5 bulan sebanyak 210.000 ekor, kematian maks 20%, hasilkan 168.000 ekor; harga 600. Hasilnya 100.800.000,- pendapatan 100.800.000 – 34.800.000 = 66.000.000. Tambak yag dikelola oleh M. Rusli 1,5 ha (3 petak) biaya Rp 48.000.000,- Pendapatan 95.600.000. Pemeliharaan 3 bulan sebanyak 300.000 ekor dengan harga Rp 600/ekor.  Menghasilkan 240.000 ekor dengan harga 600 menghasilkan 144.000.000. Pendapatan 144.000.000 – 48.400.000 = 95.600.000. Tambak pak Abdul rahman 0,6 ha, biaya Rp 20.110.000.

4)      Perhitungan usaha sederhana: 0,6 ha biaya 20.110.000; pemeliharaan 2,5 bulan sebanyak 120.000 ekor, mortalitas maksimal 20% menghasilkan 96.000 ekor dengan harga 600/ekor menghasilkan 57.600.000. Pendaptan 57.600.00-20.110.000 = 37.490.000.

5)      Bengkulu tepat sebagai produsen bekerja sama dengan Sumbar. Bengkulu bias menyediakan bandeng umpan.

Kesimpulan

1)      Bengkulu bias sebagai pemasok bandeng umpan

2)      Bengkulu bias long-line dari nelayan untuk ikan tuna

Diskusi:

1)      DKP bisa memback up dalam hal perijinan budidaya di perikanan

2)      Asisten 2: untuk bisa terlaksana perlu ada komitmen dengan pengusaha/swasta untuk budidaya umpan bandeng. Pasar sudah jelas! Perlu inovasi dari perikanan. Coba bank membantu. Dempot oleh DKP terus dilakukan. Perlu MoU. Perlu kerjasama terintegrasi baik pemerintah, swasta, nelayan dll. Perlu dikembangkan minapolitan, sehingga potensi laut Bengkulu bias dikembangkan secara optimal.

3)      Rinaldi: prospek laut Bengkulu sangat besar. Sekarang yang diperlukan adalah penyelarasan dengan penyandang dana. Potensi laut, potensi tambak! Bank bagaimana membantu petambak. Perlu dipikirkan sumber benih! Prospek bandeng umpan sangat bagus.

4)      Kadin: ada profit yang bagus, ini peluang bagi semua pihak dan untuk icon Bengkulu. Ini adalah peluang usaha bukan program. Biro ekonomi apa nih tindak lanjutnya. Kita harus mulai bergerak. Pelaku tampak sudah ada. Nanti tim 7 rapat di Kadin. Pemaparan langsung di Kadin dan sehingga akan terlaksana. Rapat perlu tindak lanjut berupa aksi nyata.

5)      Bank Bengkulu: peluang pasar ada. Perlu ada payung hukumnya. Dari sumber dana banyak, tapi butuh mekanismenya bagaimana sehingga jelas. Ada program pusat investasi pemerintah, disediakan dana 500 trilyun di keuangan. Mekanismenya melalui dana CSR bank bias kerjasama dengan Pemda; atau dana dari APBD. Jadi perlu jelas mekanismenya!

6)      Petambak:  Usaha ini akan berupa usaha yang membagi laba sesuai dengan saham yang ditanam. Mengenai persentase pembagian laba akan disepakati bersama.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s