Jurnal Bengkulu Mandiri

Membangun Bengkulu Menuju Budaya Riset

POTRET KEADAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI DI PROPINSI BENGKULU June 14, 2012

Filed under: SDA & LH — Urip Santoso @ 5:55 am
Tags: ,

OLEH: YULIA ARINDA ATMAJA

ABSTRAK

Daerah-daerah aliran sungai di Propinsi Bengkulu sebagian besar telah tercemar oleh polutan, berdasarkan fakta-fakta yang ada diantaranya adalah merkuri, mangan, fosfat, nitrat dan nitrit, poliklorin bifenil (PCB), residu pestisida organiklorin, minyak dan hidrokarbon, radionuklida, logam-logam berat, dan kotoran manusia. Semua polutan akan menimbulkan dampak terhadap segi fisik, biologis, kimiawi, maupun ekologis dearah aliran sungai. Makalah ini bertujuan untuk membahas kondisi atau gambaran keadaan aliran-aliran sungai yang ada di Propinsi Bengkulu serta masalah-masalah yang terdapat didalamnya.  Masalah-masalah tersebut dapat diantisipasi bila semua lapisan masyarakat mau bekerjasama, tidak membuang sampah serta polutan ke dalam sungai, menciptakan sumur resapan pembuangan limbah, dan pemerintah memberikan kebijakan disertai sanksi yang tegas.

 Pendahuluan

Keberadaan sungai sangat memegang peranan penting bagi kemaslahatan hidup orang banyak terutama bagi masyarakat yang hidup disekitarnya. Sejsk zaman dahulu daerah-daerah aliran sungai memegang peranan penting sebagai pusat peradaban manusia. Beragam aktivitas manusia terjadi di sekitar aliran sungai guna memenuhi kebutuhannya mulai dari pemanfaatan sumberdaya air, flora, fauna sampai ke sumberdaya alam yang ada di sekitarnya.

Menurut Amelia (2008), DAS merupakan satu kesatuan ekosistem yang unsure-unsur utamanya terdiri dari sumberdaya tanah, sumberdaya air, vegetasi, dan sumberdaya manusia sebagai pelaku pemanfaatan atau pengguna sumberdaya alam.

Namun sayangnya dewasa ini eksploitasi DAS oleh manusia makin marak dan berkembang pesat, sehingga menimbulkan ketimpangan-ketimpangan dalam ekosistemnya. Manusia-manusia yang tidak bertanggungjawab kerap kali mengeksploitasi, memanfaatkan pembangunan sebesar-besarnya demi keuntungan ekonomi semata tanpa mengindahkan kaidah-kaidah ekologisnya.

Propinsi Bengkulu memiliki beberapa Daerah Aliran Sungai yang memegang peranan penting bagi perairan di kota Bengkulu. Namun daerah-daerah aliran sungai tersebut sudah banyak yang mengalami kerusakan baik dari segi fisik, biologis, kimiawi, maupun dari ekologisnya, sehingga memerlukan perhatian serius dari semua pihak.

Rumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan dari latar belakang, terdapat rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Apa pengertian Daerah Aliran Sungai?
  2. Masalah-masalah apasajakah yang terjadi di Daerah Aliran Sungai di Propinsi Bengkulu?
  3. Apa saja dampak yang timbul akibat dari masalah-masalah yang terdapat pada Daerah Aliran Sungai di Propinsi Bengkulu?
  4. Bagaimana cara pencegahan atau solusi yang dapat dilakukan terhadap kerusakan-kerusakan Daerah Aliran Sungai di Propinsi Bengkulu?

Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk membahas kondisi atau gambaran keadaan aliran-aliran sungai yang ada di Propinsi Bengkulu serta masalah-masalah yang terdapat didalamnya. Di dalam makalah ini juga akan dibahas penyebab serta penanggulangan yang mungkin dapat dilakukan untuk mencegah kerusakan serta menjaga kelestarian Daerah Aliran Sungai di Propinsi Bengkulu.

Manfaat

Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat dalam memberikan informasi mengenai masalah-masalah yang terdapat di sekitar Daerah Aliran Sungai di Propinsi Bengkulu, kepada semua lapisan masyarakat untuk dapat turut serta menjaga dan melestarikannya demi kelangsungan ekosistem yang berkesinambungan.

Pengertian Daerah Aliran Sungai

Menurut Abdulrahman, dkk (1993), DAS merupakan suatu kawasan atau wilayah dataran yang membentuk suatu kesatuan wilayah tata air yang menampung, menyimpan, dan mengalirkan air hujan yang jatuh ke atasnya menuju ke laut atau danau melalui suatu sungai utama.

DAS merupakan suatu system hidrologi, yaitu apabila kawasan tersebut mendapat masukan dalam bentuk hujan, maka akan mendapat respon dari DAS tersebut yang dicerminkan dengan sifat aliran sungai serta fliktuasi aliran air bawah tanah (Yuwono, 2001).

DAS adalah sebuah ekosistem yang terdiri dari unsur tanah, flora dan fauna yang terdapat didalamnya, serta air yang mengalir dari hulu ke hilir hingga menuju lautan. Daerah aliran sungai dapat dimanfaatkan oleh masyarakat disekitarnya untuk pemenuhan kebutuhan mulai dari air, hewan-hewan yang terdapat di sungai seperti ikan, udang, dsb. Lahannyapun dapat digunakan sebagai keramba.

Namun dewasa ini, banyak terjadi masalah-masalah yang terdapat di daerah aliran sungai khususnya daerah-daerah aliran sungai di Propinsi Bengkulu yang akan dibahas lebih lanjut.

Masalah-Masalah Yang Terjadi Pada Daerah-Daerah Aliran Sungai Propinsi Bengkulu

  1. 1.             Daerah Aliran Sungai Yang Tercemar Merkuri (Hg) Di Tambang Emas Rakyat Kabupaten Lebong

Propinsi Bengkulu memiliki daerah pertambangan emas di Kecamatan Lebong Selatan Kabupaten Lebong, selain adanya pertambangan yang telah memiliki izin penambanagn, namun ada juga penambangan-penambangan illegal yang dilakukan oleh masyarakat setempat, mereka diberi istilah PETI (Pertambangan Tanpa Izin). Dalam perkembangannya PETI tidak hanya pada komoditi galian emas tetapi juga diterapkan pada bahan galian lain baik golongan A, B maupun C.

Menurut Heryando (2008), maraknya kegiatan penambangan bahan galian C ternyata memberikan masalah bagi daerah, karena sebagian besar penambangan dilakukan tanpa memiliki izin.

Adapun yang menjadi masalah adalah tata cara penambangan oleh penambang-penambang emas PETI yang pada prosesnya menggunakan cairan merkuri (Hg) yang sangat berbahaya, dan pada akhirnya limbah yang tercemar oleh merkuri dibuang ke sungai.

Berdasarkan penelitian Apriani, dkk (2012), diketahui jumlah merkuri yang hilang yaitu sebesar 49,72 gram dan rata-rata merkuri yang hilang untuk setiap satu kali proses penggelundungan sebesar 1,24 gram. Jika diakumulasikan rata-rata merkuri yang hilang dalam satu tahun, maka untuk setiap satu kali proses penggelundungan dalam satu alat gelundung diperoleh merkuri sebesar 453,69 gram.

  1. 2.             Daerah aliran Sungai Yang Tercemar Akibat Kegiatan Penambangan Batu Bara di Bengkulu

Berdasarkan data Badan Lingkungan Hidup Propinsi Bengkulu (2008), daerah aliran sungai Bengkulu membentang dari Kabupaten Bengkulu Tengah bagian hulu, ke bagian hilir yang merupakan ibukota Propinsi Bengkulu. Dengan panjang sekitar 48 Km dan luas daerah tangkapan air (catchment area) 500,65 Km2.

Permasalahan dimulai sejak adanya perambahan hutan yang dilakukan  beragam aktivitas dari perusahaan karet dan satu pabrik CPO kelapa sawit, sehingga semakin meningkatnya erosi, sedimentasi dan fluktuasi debit sungai. Kerusakan juga semakin diperparah oleh eksploitasi tambang batu bara di hulu daerah aliran sungai Bengkulu.

  1. 3.             Daerah  Sungai Yang Kritis Di Daerah aliran Sungai Manna

DAS Manna memiliki luas sekitar 69.171,5 hektar, mencakup areal mulai dari hulu di Kabupaten Lahat Propinsi Sumatera Selatan, sampai di hilir yaitu Kabupaten Bengkulu Selatan, Propinsi Bengkulu.

Banyaknya aktivitas oleh masyarakat sekitar di daerah aliran sungai  Manna, mulai dari kegiatan rumah tangga yang menghasilkan limbah domestic hingga pembangunan di sekitar DAS Manna, sehingga tidak menutup kemungkinan terjadinya pencemaran air dan degradasi fungsi DAS.

Berdasarkan penelitian Jaya (2012), secara keseluruhan  wilayah DAS Manna sebagian besar berada pada kategori agag kritis yaitu seluas 33.711,4 Ha (46,8 %). Selanjutnya diikuti oleh kategori potensial kritis seluas 19.128,7 Ha (26,5 %), kritis seluas 16.043,8 Ha (22,3 %), tidak kritis seluas 2.136,9 Ha (3 %) dan sangat kritis seluas 1.051,1 Ha (1,5 %).

Dampak Yang Terjadi Akibat Masalah-Masalah Yang Timbul Di Daerah Aliran Sungai Propinsi Bengkulu

Berdasarkan beragam permasalahan yang telah diungkapkan di atas maka dampak yang utama adalah adanya pencemaran air.  Menurut Wikipedia (2012), pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Pencemaran air dapat disebabkan oleh berbagai hal dan memiliki karakteristik yang berbeda-bada. Meningkatnya kandungan nutrient dapat mengarah pada eutrofikasi. Sampah organik seperti air comberan (sewage) menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen pada air yang menerimanya, mengarah pada berkurangnya  oksigen sehingga berdampak parah pada seluruh ekosistem. Industry membuang berbagai macam polutan ke dalam air limbahnya seperti logam berat, toksin organic, minyak, nutrient, dan padatan.

Polutan yang terdapat di Daerah Aliran Sungai Propinsi Bengkulu berdasarkan fakta-fakta yang ada diantaranya adalah merkuri, mangan, fosfat, nitrat dan nitrit, poliklorin bifenil (PCB), residu pestisida organiklorin, minyak dan hidrokarbon, radionuklida, logam-logam berat, dan kotoran manusia. Semua polutan akan menimbulkan dampak terhadap segi fisik, biologis, kimiawi, maupun ekologis dearah aliran sungai.

  1. Dampak terhadap segi fisik Daerah Aliran Sungai

Dampak pencemaran terhadap segu fisik DAS adalah adanya perubahan warna air dari jernih menjadi keruh, bahkan coklat dan berbau. Terjadinya degradasi, erosi dan juga pendangkalan air sungai.

Menurut Kemeneg LH (2007), degradasi DAS adalah hilangnya nilai dengan waktu, termasuk menurunnya potensi produksi lahan dan air yang diikuti tanda-tanda perubahan watak hidrologi sistem sungai (kualitas, kuantitas dan kontinuitas).

  1. Dampak terhadap segi biologis Daerah Aliran Sungai

Zat-zat polutan yang mencemari air akan membawa pengaruh bagi biota yang hidup di dalam sungai tersebut, mengakibatkan matinya bakteri-bakteri yang berguna sebagai proses penjernihan air sungai secara alami. Selain itu hewan-hewan yang lain seperti ikan-ikan kecil dan udangpun akan mengalami kematian.

  1. Dampak terhadap segi kimiawi Daerah Aliran Sungai

Dari segi kimiawi air yang netral telah tercemar oleh zat-zat polutan yang banyak mengandung berbagai jenis racun sehingga bila digunakan atau dkonsumsi oleh manusia akan sangat membahayakan, dalam jangka panjang akan mengakibatkan berbagai macam penyakit seperti kanker, leukemia dan juga kelahiran cacat.

  1. Dampak terhadap segi ekologis Daerah Aliran Sungai

Dari segi ekologis akan terjadi ketidakseimbangan ekosistem sungai dan danau, serta mengurangi nilai estetika lingkungan.

Pencegahan Atau Solusi Yang Dapat Dilakukan Terhadap Kerusakan Daerah Aliran Sungai

Hendaknya terdapat kesadaran mulai dari diri masing-masing terhadap fenomena serta masalah-masalah yang timbul di Daerah Aliran Sungai. Untuk mencegah terjadinya pencemaran air sungai oleh aktivitas masyarakat, hendaknya tidak membuang sampah serta mencemari sungai dengan larutan-larutan detergen, minyak dan sebagainya, serta tidak melakukan MCK, termasuk buang air besar di sungai. Menciptakan sumur resapan untuk pembuangan air limbah domestik agar limbah cucian, detergen dan sebagainya tidak mengalir langsung ke sungai.

Melakukan kegiatan memilah-milah sampah antara sampah organik dan sampah non organik. Bagi sampah organik sebaiknya diolah menjadi pupuk dengan cara membuat lubang di dalam tanah untuk menampung sampah organik sampai pembusukan sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Sedangkan untuk sampah non organik tidak dibuang sembarangan melainkan dikumpulkan di suatu TPA (tempat Pembuangan Akhir), atau bila perlu sampah non organik  yang berupa plastik dan sebagainya, dapat diolah kembali dan dijadikan kerajinan sehingga lebih bernilai ekonomis.

Untuk industri-industri besar hendaknya membuat penampungan-penampungan limbah dan diolah terlebih dahulu sebelum dialirkan ke sungai, atau bila perlu sisa-sisa limbah hendaknya diolah dan didaur ulang kembali.

Bagi pemerintahpun hendaknya dapat memberikan perhatian lebih dengan memberikan kebijakan-kebijakan untuk dapat lebih menjaga lingkungan yang disertai sanksi-sanksi tegas, memberikan penyuluhan dan pemberdayaan terhadap masyarakat mengenai lingkungan hidup serta memberikan keterampilan dalam mengolah sampah menjadi barang yang lebih bernilai ekonomis.

 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas dapat diketahui bahwa keadaan Daerah Aliran Sungai di Propinsi Bengkulu telah banyak terjadi kerusakan, diantaranya adalah telah tercemarnya air oleh polutan berbahaya yang diakibatkan oleh pembuangan limbah domestik dan limbah industri, terjadinya degradasi, erosi serta pendangkalan air sungai. Namun hal tersebut dapat diantisipasi bila semua lapisan masyarakat mau bekerjasama, tidak membuang sampah serta polutan ke dalam sungai, menciptakan sumur resapan pembuangan limbah, dan pemerintah memberikan kebijakan disertai sanksi yang tegas.

Saran

Saran yang dapat disampaikan adalah, mulailah dari dari sekarang dan dari diri sendiri menjaga Daerah Aliran Sungai di sekitar kita, yang merupakan salah satu sumber air yang sangat penting bagi kebutuhan kita juga bagi lingkungan. Tidak lagi membuang sampah dan polutan di sungai melainkan memilah-milah antara sampah organik dan sampah non organik untuk diproses lebih lanjut, menjadi pupuk  ataupun bahan kerajinan sehingga lebih bernilai ekonomis.

DAFTAR PUSTAKA

Abdulrahman, L.D., B.R. Prawiradiputra, dan A. Hermawan.  1993.  Laporan Akhir UAPC-FSR (Upland Agriculture Conservation Project – Farming System Research) di Daerah Aliran Sungai.  Proyek Penelitian Hutan, tanah dan Air.  BPPP Departemen Pertanian.  Salatiga.

2008.  Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Babon.  http://ordinaryplanet.com.jurnal.item.2

Apriani Leni, Muhammad Faiz Barchia, dan Bandi Hermawan.  2012.  Potensi Pelepasan Merkuri pada Lingkungan Tambang Emas Rakyat di Lebong Utara Kabupaten Lebong.  Tesis.  Fakultas Pertanian.  Universitas Bengkulu.

Arifin Daud.  2011.  Sungai Bengkulu Tercemar.  BLH.  Penelitian Ulayat.  Bengkulu.

Badan Lingkungan Hidup Propinsi Bengkulu.  2008.  Laporan Akhir Pemantauan Kualitas Sungai Musi dan Sungai Bengkulu.  Propinsi Bengkulu.

2008.  Pencemaran dan Teksikologi Logam Berat.  Penerbit Rineka Cipta.  Jakarta.

Jaya Taruna.  2012.  Studi Tingkat Kekritisan Lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Manna.  Tesis.  Fakultas Pertanian.  Universitas Bengkulu.

Kementrian Negara Lingkungan Hidup RI.  2007.  Rencana Aksi Nasional dalam Menghadapi Perubahan Iklim.  Jakarta.

2012.  Pencemaran Air.  http://id.wikipedia.org/wiki.pencemaran_air 

 Yuwono, S. B.  2001.  Studi Karakteristik Fisik Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Abung Bagian Hulu Lampung Utara.  Seminar Nasional Pertanian Berkelanjutan.  Bandar Lampung.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s