Jurnal Bengkulu Mandiri

Membangun Bengkulu Menuju Budaya Riset

April 2, 2012

Filed under: Umum — Urip Santoso @ 4:59 pm
Tags: , , ,

USULAN KONSEP SISTEM INOVASI DAERAH (SIDa) PROVINSI BENGKULU

Oleh: Urip Santoso 

Sistem inovasi pada dasarnya merupakan sistem yang terdiri dari sehimpunan aktor, kelembagaan, jaringan, kemitraan, hubungan interaksi dan proses produktif yang mempengaruhi arah perkembangan dan kecepatan inovasi dan difusinya (termasuk teknologi dan praktek terbaik) serta proses pembelajaran. Dengan demikian sistem inovasi sebenarnya mencakup basis ilmu pengetahuan dan teknologi (termasuk di dalamnya aktivitas pendidikan, aktivitas penelitian dan pengembangan, serta rekayasa), basis produksi (meliputi aktivitas-aktivitas nilai tambah bagi pemenuhan kebutuhan bisnis dan non bisnis serta masyarakat umum), dan pemanfaatan dan difusinya dalam masyarakat serta proses pembelajaran yang berkembang.

Untuk mewujudkan Sistem Inovasi Nasional dibutuhkan strategis sebagai berikut (Taufik, ?):

1) Memperbaiki kondisi dasar sebagai prasyarat bagi peningkatan upaya pengembangan/penguatan sistem inovasi.

2) Melakukan reformasi kebijakan inovasi di berbagai sektor/bidang dan lintas-sektor/bidang serta pada tataran pemerintahan yang berbeda, secara bertahap dan berkelanjutan.

3) Mengembangkan kepemimpinan (leadership) dan memperkuat komitmen nasional dalam pengembangan/penguatan sistem inovasi nasional dan daerah.

4) Meningkatkan koherensi kebijakan inovasi di tingkat nasional dan daerah.

Sistem Inovasi Daerah merupakan keseluruhan proses pengembangan inovasi yang melibatkan berbagai pihak meliputi Perguruan Tinggi, pengusaha, komunitas dan lembaga penelitian di daerah dalam rangka memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Strategi yang dikemukakan oleh Taufik (?) dapat dijadikan salah satu acuan dalam mewujudkan SIDa.

Untuk membangun SIDa di Provinsi Bengkulu diperlukan beberapa langkah, yaitu:

1)      Identifikasi unggulan pada masing-masing kabupaten/kota. Ada beberapa cara untuk mengidentifikasi produk dan daerah/wilayah ungulan, yaitu: a) setiap kabupaten/kota memberikan informasi produk unggulan di kabupaten/kota tersebut. Metode ini dilakukan dengan asumsi bahwa setiap kabupaten/kota telah memahami potensi daerahnya masing-masing; b) melakukan kajian secara mendalam mengenai produk dan wilayah unggulan di masing-masing kabupaten; c) kombinasi keduanya. Pada tahun 2011, telah dilakukan kajian mengenai produk unggulan oleh Bank Indonesia, Unib dan Balitbangda. Bahan ini dapat dijadikan salah satu acuan untuk membangun SIDa.

2)      Melakukan pemetaan potensi SIDa di setiap kabupaten/kota, sebab untuk setiap kabupaten/kota mempunyai karakteristik yang spesifik. Dengan cara ini diharapkan SIDa yang dibangun sesuai dengan kebutuhan kabupaten/kota.

3)      Begitu SIDa telah dibentuk, maka sangat penting adanya komitmen dari para Kepala Daerah  secara nyata dan sistemik.

Beberapa konsep SIDa telah dibangun di beberapa daerah seperti Jawa Tengah. SIDa Jawa Tengah terdiri dari 3, yaitu Klaster UMKM, Desa Inovatif dan Kabupaten/Kota Inovatif. Sementara di Sumatera Selatan SIDa yang dikembangkan berupa unggulan produk yaitu karet.

Bagaimana dengan di Provinsi Bengkulu? Provinsi Bengkulu dapat mengadopsi SIDa yang telah diterapkan di daerah lain dengan beberapa modifikasi.

            Di Provinsi Bengkulu terdapat banyak UMKM yang bergerak di bidang sejenis, yang mulai berusaha dari hulu sampai hilir. Nah, UMKM sejenis ini dapat dikembangkan menjadi SIDa untuk mendorong pembangunan dan perekonomian di Provinsi Bengkulu. Tentu saja hal ini memerlukan kajian yang memadai jenis produk apa yang telah berkembang di suatu kabupaten/kota yang sudah mengarah kepada  suatu system usaha dari hulu sampai hilir. Jika sudah ditemukan, maka diperlukan penguatan kelembagaan agar dapat dijadikan SIDa.

Di Provinsi Bengkulu juga terdapat beberapa desa yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi Desa Inovatif sebagaimana yang telah dikembangkan di Provinsi Jawa Tengah.

            Berdasarkan uraian di atas ada 2 jenis SIDa yang dapat dikembangkan di Provinsi Bengkulu, yaitu SIDa berbasis Teknologi pada UMKM, dan Desa Inovatif

 

1)      Sistem Inovasi Daerah Berbasis Teknologi pada UMKM

Teknologi: teknologi sebagai ‘kumpulan alat, aturan dan prosedur yang merupakan penerapan pengetahuan ilmiah terhadap suatu pekerjaan tertentu dalam cara yang memungkinkan pengulangan.

Menurut Undang-Undang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UU UMKM) Republik Indonesia nomor 20 tahun 2008 definisi UMKM adalah sebagai berikut :

1. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro sebagaimana di atur dalam Undang-Undang ini, (UU UMKM nomor 20 tahun 2008).

2. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki , dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil sebagimana dimaksud dalam Undang-Undang ini, (UU UMKM nomor 20 tahun 2008)..

3. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki , dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tak langsung dari usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagimana dimaksud dalam Undang-Undang ini, (UU UMKM nomor 20 tahun 2008).

(1) Kriteria Usaha Mikro adalah sebagai berikut:

a. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

b. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah).

(2) Kriteria Usaha Kecil adalah sebagai berikut:

  1. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
  2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 2.500.000.000,- (dua milyar lima ratus juta rupiah).

(3) Kriteria Usaha Menengah adalah sebagai berikut:

  1. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 10.000.000.000,- (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
  2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp । 2.500.000.000,- (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 50.000.000.000,- (lima puluh milyar rupiah).

Apa SIDa berbasis Teknologi pada UMKM?

Perguruan Tinggi, pengusaha, LSM dan Pemerintah Daerah secara bersama untuk memikirkan pengembangan teknologi tepat guna untuk diterapkan bagi kelompok UMKM terplih dalam suatu wilayah agar dapat berkembang dan berdaya saing.  Sebelum menentukan kelompok UMKM terpilih, maka diperlukan analisis tentang produk unggulan di suatu kabupaten/kota yang telah berkembang dari hulu sampai hlir – meskipun belum sempurna. UMKM-UMKM yang bergerak di bidang produk unggulan tersebut kemudian digabungkan menjadi satu kelompok UMKM. Untuk itu, semua pihak yang berkaitan dengan produk unggulan bersatu padu mendukung pengembangan kelompok UMKM terpilih. Pihak-pihak tersebut seperti penyedia bahan baku, budidaya, pengolah produk, pasar, Pemerintah Pusat/Daerah, Perguruan Tinggi, Balitbang, Perbankan, dan pihak lain yang terkait.

Bagaimana membentuk kelompok UMKM Inti?

Untuk keberhasilan SIDa maka dipilih kelompok UMKM di suatu kabupaten/kota dengan mekanisme sebagai berikut:

  1. Kepala Daerah menunjuk Litbang untuk membentuk tim untuk keperluan di atas.
    2. Anggota tim terdiri dari SKPD terkait pengembangan ekonomi, Kadin dan Asosiasi perusahaan sejenis, Perguruan Tinggi dan tokoh masyarakat.
  2.  Rapat bersama dan didukung analisis data untuk menentukan kelompok UMKM Inti

Bagaimana membentuk Forum Rembug Kelompok UMKM Inti?

  1. Identifikasi pihak-pihak terkait untuk pengembangan kelompok UMKM inti
  2. Membentuk Forum Rembug kelompok UMKM
  3. Membuat AD/ART, Rencana Usaha dan SK Legalitas Forum
  4.  Kelompok UMKM terpilih dikukuhkan oleh Kepala Daerah

Bagaimana melakukan Identifikasi kebutuhan teknologi?

  1.  Dilakukan melalui diskusi kelompok terfokus dengan pihak-pihak yang terkait.
  2. Identifikasi permintaan pasar dengan harapan untuk mengetahui produk yang dihasilkan.
  3. Dari produk yang dihasilkan diidentifikasi kebutuhan teknologi yang diperlukan.
  4. Identifikasi program pengembangan teknologi.
  5. 5.      Identifikasi pihak-pihak terkait untuk memfasilitasi kebutuhan teknologi

Bagaimana Usaha Perkuatan Kelembagaan UMKM ?

  1. Pelatihan pengurus kelompok  UMKM, : pelatihan untuk mengidentifikasi kebutuhan kelompok UMKM, menyusun program, pelatihan monev.
  2. Pencerahan dalam membangun kebersamaan.
  3. Melakukan pertemuan pengurus secara rutin.
  4. Studi banding ke kelompok UMKM lain, pusat penyedia bahan baku, pusat potensi pasar.
  5. Melakukan perluasan jejaring baik paaar, pemasok bahan baku, penyedia pendanaan maupun berbagai lembaga -lembaga penguatan teknologi.

Bagaimana melakukan monitoring dan evaluasi?

  1. Ketua dan pengurus kelompok UMKM didampingi Bappeda dan Litbang Kab/ Kota secara periodik mengadakan rapat koordinasi untuk monitoring dan evaluasi
  2. Rapat koordinasi mengundang seluruh pengurus kelompok UMKM, SKPD Kab/Kota terkait dan pihak-pihak lain.
  3. Materi : evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan, pelaksanaan pendampingan kelompok UMKM.
  4. Setiap pertemuan harus dibuatkan notulen rapat dan hasilnya dibagikan peserta rapat guna tindak lanjut.

Kunci Keberhasilan SIDa berbasis Teknologi pada UMKM

  1. Ketua dan pengurus kelompok UMKM mempunyai komitmen tinggi bagi pengembangan UMKM-UMKM  yang menjadi anggota.
  2. Kepala Daerah beserta SKPD terkait dan DPRD mendukung program pengembangan UMKM.
  3. Lembaga Litbang Pemerintah dan swasta bersama-sama dengan Perguruan Tinggi untuk memfasilitasi kebutuhan teknologi UMKM..
  4. Adanya peran serta pengusaha besar sebagai penyedia pasar..
  5. Usaha pengembangan UMKM merupakan usaha proses, sehingga membutuhkan waktu dan dialog.

2) Desa Inovatif Berbasis Produk Unggulan

Desa inovatif adalah desa yang mampu memanfaatkan sumber daya desa dengan cara baru. Beberapa langkah yang diperlukan untuk membangun Desa Inovatif adalah sebagai berikut:

a)      Para pemuda dari berbagai bidang keahlian (sarjana) dan keterampilan di desa tersebut berdiskusi dengan perangkat desa dan pihak terkait untuk mengkaji potensi desa dan produk unggulan desa tersebut.

b)      Setelah dipahami dan disepakati potensi dan produk unggulan yang sangat berpotensi untuk mendorong pembangunan di desa tersebut, maka kemudian para pemuda, perangkat desa dan pihak-pihak yang terkait membicarakan hal ini dengan warga di desa tersebut Dalam perkumpulan atau rembug desa tersebut disusunlah program-program pengembangan desa, \dengan menggunakan asset lokal yang sudah ada. Kegiatan difokuskan pada potensi lokal yang ada dan pemberdayaan masyarakat setempat. Program-program disusun mulai dari program hulu (sarana dan prasarana, perbaikan budidaya dll) sampai hilir (pengolahan, pemasaran dll). Bentuk pemasaran juga perlu didiskusikan dalam rembug desa tersebut. Salah satu model pemasaran yang dapat diterapkan adalah model pemasaran bersama baik secara langsung maupun menggunakan teknologi informasi.

c)      Dikembangkan teknologi tepat guna untuk produk unggulan terpilih untuk mendukung keberhasilan Desa Inovatif. Selain produk unggulan sebagai inti pengembangan, juga perlu dikembangkan hal-hal lain yang dapat mendorong pengembangan desa. Dengan demikian, setiap warga desa dapat mengembangkan usahanya sesuai dengan keterampilan dan minatnya. Pada dasarnya desa inovatif melahirkan program-program pemberdayaan yang sifatnya baru dan melahirkan para usahawan baru. Tentu saja dibutuhkan pendamping baik dari para penyuluh pertanian maupun universitas dan pihak-pihak lainnya.

d)     Pelaksanaan program-program yang telah disepakati bersama secara konsisten oleh semua pihak yang terkait di desa tersebut.

e)      Perlu dilakukankan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program, sehingga segala kekurang/kelemahan yang terjadi dapat segera diantisipasi.

Kunci dari pengembangan desa inovatif adalah para pemuda yang bertindak sebagai inisiator dengan didampingi Kepala Desa yang harus fasilitatif.

3) Kabupaten/Kota Berbasis Riset

Provinsi Bengkulu juga dapat mengembangkan kapupaten/kota berbasis riset. SIDa ini mengutamakan bahwa setiap pengambilan keputusan atau kebijakan daerah selalu didasarkan kepada hasil kajian yang obyektif dan mendalam. Untuk itu diperlukan perubahan system yang menyeluruh pada system di birokrasi, perguruan tinggi, pengusaha daerah dan semua pihak yang terkait dalam pembangunan di Provinsi Bengkulu.

Ciri-ciri Kabupaten/Kota Berbasis Riset

Mampu meningkatkan kesejahteraan hajat hidup masyarakat dan pembangunan daerahnya dengan memanfaatkan segala potensi untuk menghasilkan nilai lebih secara berkelanjutan berdasarkan hasil riset/kajian yang dilakukan oleh SDM berkualitas, menguasai iptek, kompetitif dan memiliki jiwa kewirausahaan.

Bagaimana cara membangunnya?

Kaji atau teliti potensi kabupaten/kota secara mendalam dan obyektif dan berdasarkan hasil kajian/riset tentukan arah kebijakan (dalam bentuk Perda, perbup/perwakot, RPJMD, dll). Berdasarkan hasil riset/kajian tentukan sektor yang akan dikembangkan, kemudian bangun SDM-nya, bangun infrastruktur, bangun sistem, tentukan prosedurnya dan tentukan capaian yang hendak dicapai.

Apa saja syaratnya?

Adanya komitmen dari kepala daerah  dan DPRD, adanya daya dukung SDM (aparat pemerintah dan tenaga professional), kebijakan (legal/formal), daya dukung SDM masyarakat,  penyediaan anggaran, penyediaan sarana dan infrastruktur pendukung.

Apa saja yang dikaji/diriset?

Ada 3 kategori sector utama yang menjadi sasaran kajian/riset:

1)      Penguatan Kelembagaan Pemda

a)      Reformasi birokrasi, menata lembaga, pns.

b)      Pelayanan publik, kinerja, kemampuan, sarana.

2)      Infrastruktur Iptek

a)      Sarana dan prasarana, infrastruktur utama dan pendukung,

b)      SDM. Pendidikan masyarakat, budaya riset.

c)      Penggunaan teknologi, teknologi informasi, Teknologi Tepat Guna.

3)      Sektor perekonomian lokal

a)      Perdagangan, jasa, industri, fasilitas usaha,

b)      Pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, perikanan, fasilitasi;

c)      Pariwisata, budaya, peningkatan potensi, pengembangan.

 Catatan: Usulan konsep ini dimodifikasi dari Konsep SIDa Jawa Tengah

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s