Jurnal Bengkulu Mandiri

Membangun Bengkulu Menuju Budaya Riset

PEMBANGUNAN KEBUN RAKYAT POLA AGROFORESTRI (HUTAN RAKYAT) MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI DAN BERWAWASAN LINGKUNGAN DI KABUPATEN KEPAHIANG February 1, 2012

Filed under: Pertanian — Urip Santoso @ 7:48 am
Tags: , ,

 Oleh : RIS IRIANTO 

ABSTRAK

Pengembangan perkebunan dengan menanam beberapa jenis tanaman perkebunan pada lahan yang sama atau dinamakan penanaman pola agroforestri/hutan rakyat atau dikenal juga dengan pola polikultur bermanfaat untuk meningkatkan pendapatan petani, sekaligus dapat menjaga dan memperbaiki lingkungan. Perkebunan pola agroforestri/hutan rakyat atau dikenal juga dengan pola polikultur yang dilaksanakan di Kabupaten Kepahiang dengan cara menanam tanaman pada lahan masyarakat dengan 3 (tiga) strata ketinggian tajuk; 1. Kopi yang telah disambung pada strata bawah; 2. Kakao pada strata tengah; dan 3. Tanaman Sengon pada strata atas sebagai tanaman pelindung/penaung serta ditanam sebagai tanaman pagar di batas kebun.

Dari segi peningkatan pendapatan petani, dengan menanam tanaman agroforestri di atas, pendapatan petani akan bertambah bila dibandingkan hanya menanam tanaman monokultur melalui peningkatan jenis, jumlah produksi, resiko gagal panen bila masih menggunakan pola monokultur (kopi) dan pendapatan tambahan dari pemeliharaan ternak.

Ditinjau dari segi lingkungan, perkebunan pola agroforestri/hutan rakyat atau dikenal juga dengan pola polikultur lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan perkebunan monokultur. Dengan polikultur maka diversitas/keragaman hayati meningkat pada lahan tersebut sehingga secara ekologi struktur lahan tersebut akan lebih mantap. Tanaman dengan tiga strata tersebut bertindak sebagai penghadang fisik antara air hujan dan permukaan tanah, sehingga air hujan yang jatuh menetes secara perlahan, tidak menghempas permukaan tanah sehingga run off dan erosi dan pencemaran air dapat dikendalikan. Tanaman polikultur dapat berfungsi hampir sama dengan fungsi hutan dan dapat mendukung fungsi hutan di atasnya dalam mempertahankan fungsi hidrologis dan tata air di dataran tinggi sebagai pengendali banjir di musim hujan, sekaligus tendon air di musim kemarau, selain itu pola ini juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan melalui penyerapan karbon yang lebih besar.

Selengkapnya

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s