Jurnal Bengkulu Mandiri

Membangun Bengkulu Menuju Budaya Riset

DAMPAK KEGIATAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN DALAM UPAYA PENINGKATAN PEREKONOMIAN DAN PENUTUPAN LAHAN DI PROPINSI BENGKULU July 24, 2011

Filed under: Kehutanan — Urip Santoso @ 6:47 am
Tags: , , ,

Oleh: Sodikin

ABSTRAK

 

Rehabilitasi Hutan dan Lahan merupakan program Kementerian Kehutanan untuk menekan laju degradasi dan menekan tingkat kekritisan hutan. Indonesia yang laju degradasi hutan mencapai 1,08  juta hektar pertahun, dan tingkat pemanasan global yang sangat tinggi, maka perlu adanya upaya-upaya yang dapat menetralisir keadaan tersebut. Selain masalah kekritisan hutan, pemanasan global, dampak lain dari degradasi hutan atau kerusakan hutan adalah tingkat perekonomian yang sangat rendah baik yang tinggal di kawasan hutan maupun sekitar hutan. Program Rehabilitasi  Hutan dan Lahan di kawasan lindung/konservasi, dan  kegiatan pembuatan hutan rakyat, areal model, kebun bibit rakyat, penghijauan lingkungan, penanaman turus jalan, penanaman  tanaman sepadan sungai di Propinsi Bengkulu dapat menekan kekritisan Hutan dan lahan 6,05% sampai dengan tahun 2010. Dalam pemberdayaan masyarakat dan meningkatkan perekonomian serta menekan angka pengangguran telah dilaksanakan program Kebun Bibit Rakyat (KBR), pada tahun 2010 telah terealisasi sebanyak 78 unit KBR yang tersebar di Propinsi Bengkulu atau setara dengan jumlah bibit siap tanaman sebanyak 3.900.000 batang.

 

  1. I.       PENDAHULUAN

Indonesia memiliki luas hutan tropis terbesar ketiga di dunia, yaitu seluas ± 136 juta Ha. Kawasan hutan tersebut memiliki kekayaan alam, yang luar biasa besar dan dianggap sebagai paru-paru dunia, mempunyai peranan penting sebagai system penyangga kehidupan dan penggerak perekonomian.

Laju degradasi hutan semakin meluas di Indonesia, sedikitnya 47 juta hektar  kondisinya sudah rusak, dan 42 juta hektar  keadaanya sudah tidak berpohon lagi dan sekitar 1,08 juta hektar per tahunya luas hutan Indoensia menyusut.  Hal ini diakibatkan oleh illegal loging, pembabatan liar,  perambahan hutan oleh masyarakat, yang secara terus menerus melakukan hal yang sama, sehingga degradasi hutan tidak dapat tertahan lagi,

Degradasi hutan memberikan dampak yang sangat besar terhadap pemanasan global yang merupakan suatu kenyataan yang telah kita rasakan bersama. Yaitu terganggunya ekosistem, kondisi cuaca yang ekstrim, terganggunya system tata air daerah aliran sungai serta ancaman terjadinya bencana alam banjir, tanah longsor dan kekeringan, bahkan terganggunya ketahanan pangan.

Timbulnya pemanasan global  yang berdampak sangat besar terhadap perubahan iklim yang ditandai oleh peningkatan suhu udara dan perubahan cuaca yang telah membawa dampak yang luas bagi segi kehidupan manusia dan diperkirakan akan terus memburuk jika emisi gas rumah kaca tidak dapat dikurangi dan distabilkan, yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi system produksi pangan, sumberdaya air, pemukiman, kesehatan, energy, dan system keuangan.

Penebangan hutan yang tidak terkendali selama puluhan tahun dan menyebabkan terjadinya penyusutan hutan tropis secara besar-besaran. Laju kerusakan hutan di Indonesia periode 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per tahun, sedangkan pada periode 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Ini menjadikan Indonesia merupakan salah satu tempat dengan tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia.

Semakin meluasnya lahan kosong atau gundul akibat penebangan liar yang melibatkan oknum tertentu tidak dapat dipungkiri. Sudah saatnya aksi penebangan liar yang terjadi di sejumlah hutan lindung harus segera mendapat perhatian lebih serius dari semua pihak. Kejadian ini akan menyebabkan timbulnya deforensi hutan, yang merupakan suatu kondisi dimana tingkat luas area hutan yang menunjukkan penurunan baik dari segi kualitas dan kuantitas.

Indonesia memiliki 10% hutan tropis dunia yang masih tersisa. Luas hutan alam asli Indonesia menyusut dengan kecepatan yang sangat mengkhawatirkan. Hingga saat ini, Indonesia telah kehilangan hutan aslinya sebesar 72 persen.

Fungsi hutan sebagai penyimpan air tanah juga akan terganggu akibat terjadinya pengrusakan hutan yang terus-menerus. Hal ini akan berdampak pada semakin seringnya terjadi kekeringan di musim kemarau dan banjir serta tanah longsor di musim penghujan. Pada akhirnya, hal ini akan berdampak serius terhadap kondisi perekonomian masyarakat.

Penebangan hutan skala besar dimulai pada tahun 1970 dan dilanjutkan dengan dikeluarkannya izin-izin pengusahaan hutan tanaman industri di tahun 1990, yang melakukan tebang habis (land clearing). Selain itu, areal hutan juga dialihkan fungsinya menjadi kawasan perkebunan skala besar yang juga melakukan pembabatan hutan secara menyeluruh, menjadi kawasan transmigrasi dan juga menjadi kawasan pengembangan perkotaan. Di tahun 1999, setelah otonomi dimulai, pemerintah daerah membagi-bagikan kawasan hutannya kepada pengusaha daerah dalam bentuk hak pengusahaan skala kecil. Di saat yang sama juga terjadi peningkatan aktivitas penebangan hutan tanpa ijin yang tak terkendali oleh kelompok masyarakat yang dibiayai pemodal (cukong) yang dilindungi oleh oknum aparat pemerintah dan keamanan.

Berbagai tindak kejahatan terhadap hutan, selain mengakibatkan pemanasan global juga mengakibatkan kerusakan ekosistem dan kualitas lingkungan hidup, hilangnya biodiversity serta menurunya kesejahteraan masyaraka saat ini dan generasi di masa mendatang.

Dengan diberlakukanya otonomi daerah, kerusakan hutan di Propinsi Bengkulu telah mencapai 578.548 hektar atau 45 % dari 920.964 hektar.  Kerusakan tersebut juga disebabkan oleh kegiatan pembalakan liar (illegal loging) oleh masyarakat di beberapa daerah di Propinsi Bengkulu terutama di kawasan hutan lindung, sebagian besar luas kawasan hutan di propisni Bengkulu merupakan hutan yang pengelolaannya terbatas.

Di sisi lain hutan merupakan sumberdaya alam yang mempunyai peranan penting begai kehidupan manusia karena mampu menghasilkan barang dan jasa dan dapat menciptakan kesetabilan lingkungan. Hutan yang semula dianggap tidak akan habis berangsur-angsur mulai berkurang. Bahnyak lahan hutan digunakan untuk kepentingan lain, seperti pertanian, perkebunan, industri dan penggunaan lainya.

Dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dan menuntuk tercukupinya kebutuhan pangan, kebutuhan kayu bakar, kebutuhan kayu pertukangan dan tempat pemukiman. Di lain pihak lahan pertanian sebagai penghasil pangan luasnya terbatas, sehingga alternative utama untuk memenuhi kebutuhan  pangan adalah mengkonservasi lahan hutan menjadi lahan pertanian. Keterbatasan lahan pertanian oleh masyarakat sekitar hutan akan berakibat pada kondisi hutan di sekelilingnya, mereka akan menggantungkan hidupnya pada hutan tanpa pengelolaan yang tepat. Hal ini akan mengancam kelestarian hutan serta menurunkan fungsi dari peruntukan hutan.

Sebagian besar budaya masyrakat petani di  propinsi Bengkulu adalah bercocok tanam dengan tanaman kopi di dalam dan disekitar kawasan hutan. Cara yang paling mudah adalah membuka kebun kopi dikawasan lindung, luasnya kebun kopi masih menjadi tolak ukur tingginya derajat seseorang. Budaya seperti ini menjadi factor penyebab tertinggi terhadap kerusakan  dan perambahan hutan.

Dampak dari luas nya kerusakan hutan di Propinsi Bengkulu adalah bukan saja terjadi banjir dimusim hujan dan kekurangan air dimusim kemarau, tetapi juga kelangkaan akan kebutuhan kayu bakar, kayu bahan bangunan tingkat perekomian masyarakat  dan pengangguran.

Kementerian Kehutanan melalui program Rehabilitasi Hutan dan Lahan memiliki maksud dan tujuan yang sangat penting untuk memperbaiki lahan yang rusak dan lahan yang kritis serta lahan yang tidak produktif, serta terbangunanya kesadaran masyarakat untuk menanam tanaman serbaguna pada lahan-lahan kosong atau lahan kritis. Salah satu upaya untuk penanggulangan laju deforestasi dan lahan kritis adalah melalui kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan serta pembangunan hutan tanaman.

 

 

  1. II.    PEMBAHASAN

 

  1. A.       Rehabilitasi Hutan dan Lahan Dengan Kegiatan Reboisasi dan Penghijauan di Propinsi Bengkulu

Hutan adalah suatu kesatuan  ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya hayati yang didominasi  pepohonan  dalam persekutuan alam lingkungan, yang satu dengan yang lain  tidak dapat dipisahkan .  Kawasan hutan adalah  wilayah tertentu  yang ditunjuk atau ditetapkan oleh pemerintah  untuk mempertahankan  keberadaanya sebagai hutan tetap yang terdiri dari hutan produksi, hutan lindung dan hutan konservasi. Dan Hutan Konservasi adalah hutan dengan cirri khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman  tumbuhan  dan satwa serta ekosistemnya, yang terdiri dari Kawasan Suaka Alam (KSA), Kawasan Pelestarian Alam (KPA) dan Tamana buru.

Luas wilayah propinsi Bengkulu yang terdiri dari  Areal Penggunaan lainnya (APL) seluas 1.057.906 hektar (53,46%), dan 920.964 hektar (46,54%) merupakan kawasan hutan.  Kawasan hutan tersebut dibagi menurut fungsi hutan dengan rincian berupa Cagar Alam (CA) seluas 6.723 hektar, Taman Nasional (TN) seluas 405.286 hektar, Taman Wisata Alama (WA) seluas 14.954 hektar, Taman Hutan Raya (Tahura) seluas 1.122 hektar, Taman Buru (TB) seluas 16.797 hektar, Hutan Lindung (HL) seluas 252.042 hektar, Hutan Produksi Terbatas seluas 182.210 hektar, Hutan Produksi Tetap (HP) seluas 34.965 hektar, dan Hutan Produksi Khusus (HPKH)/ PLG seluas 6.865 hektar.

Berdasarkan data spasial lahan kritis pada tahun 2005, di Propinsi Bengkulu terdapat lahan kritis seluas 621.762 hektar (31,42%) yang terdiri dari kawasan hutan lindung sebesar 190.092 hektar,

Pada tahun 2006 sampai dengan 2010 telah dilaksanakan Rehabilitasi Hutan dengan kegiatan Reboisasi yang telah dilaksanakan pada kawasan lindung dan konservasi seluas 11.065 hektar. Pada kawasan lindung tersebar di kabupaten Bengkulu Tengah di Hutan Lindung Bukit Daun register 5, Kabupaten Bengkulu Utara di hutan lindung Boven Lais register 41, kabupaten Kepahiang  hutan lindung Balai Rejang Register 6, dan kabupaten Lebong di hutan lindung Bukit Resam sedangkan untuk kawasan konservasi di kabupaten  Rejang Lebong pada Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba, kabupaten Seluma pada Taman Buru  (TB) Bukit Kabu, kabupaten Muko-muko pada Taman Wisata Alam (TWA) Air Hitam dan Kota Bengkulu pada  Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Panjang dan Pulau Baii’

Sedangkan untuk rehabilitasi  lahan dengan Penghijauan atau di luar kawasan hutan melalui kegiatan pembuatan hutan rakyat, areal model, kebun bibit rakyat, penghijauan lingkungan, penanaman turus jalan, penanaman  tanaman sepadan sungai dan lain-lain seluas 26.578,325 hektar. Maka pada tahun 2006 sampai dengan 2010, lahan kritis di Propinsi Bengkulu dapat ditekan menjadi 6,05%, atau berkurang lahan kritis menjadi 37.643,325 hektar dari luas lahan kritis 621.762 hektar. .Kondisi ini telah memberikan sumbangan terhadap penutupan lahan di Propinsi Bengkulu.

Dari data diatas pembangunan rehabilitasi hutan dan lahan terbagi menjadi dua kegiatan yaitu kegiatan mengembalikan kondisi fisik hutan yaitu dengan merehabilitasi dan membangun dalam bentuk kegiatan reboisasi yaitu pembangunan yang dilaksanakan di dalam kawasan hutan , seperti pembangunan rehabilitasi pada kawasan hutan lindung dan Taman Wisata Alam dan Taman Buru.  Sementara di luar kawasan hutan dilakukan

dengan merehabilitasi dan membangun dalam bentuk kegiatan penghijauan, antara lain seperti hutan rakyat, areal model, penghijauan lingkungan, penanaman turus jalan, penanaman tanaman sepadan sungai dan lain-lain.

Selain mengembalikan kondisi fisik hutan dan lahan juga dilakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan sosialisasi, bimbingan teknis, penyuluhan dan pelatihan. Kegiatan pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar hutan merupakan kegiatan perhutanan social dilakukan melalui program hutan kemasyarakatan, hutan desa dan pembangunan kebun bibit rakyat.

Program hutan kemasyarakatan dan hutan desa dilakukan bertujuan meningkatkan perekonomian masyarakat di dalam dan sekitar kawasan hutan lindung maupun hutan produksi, melalui program ini masyarakat di dalam dan disekitar hutan diberi akses dan legalitan dalam mengelola dan memanfaatkan hasil hutan dengan mengembangkan budidaya hasil hutan bukan kayu pada kawasan hutan lindung dan hasil hutan kayu tanaman dan hasil hutan bukan kayu pada kawasan hutan produksi.  Sementara untuk memenuhhi kebutuhan bibit dalam rangka pemulihan kondisi lahan yang kritis dilakukan pemberdayaan masyarakat melalui program kebun bibit rakyat,  dimana masyarakat dengan dibimbing oleh petugas dalam merencanakan, memilih sendiri jenis komoditi yang akan dikembangkan.

 

  1. B.        Kegiatan Rehabilitasi dengan program KBR di Propinsi Bengkulu

Salah satu upaya pemerintah untuk memperdayakan masyarakat dalam penyediaan bibit berkualitas dilakukan melalui Pembangunan Kebun Bibit Rakyat (KBR). Kebun bibit Rakyat  adalah upaya penyediaan bibit berkualitas melalui pembuatan bibit tanaman hutan dan jenis tanaman MTS oleh kelompok pengelola. Bibit KBR digunakan untuk merehabilitasi dan menanam lahan kritis, lahan kosong dan lahan tidak produktif diwilayahnya.   Disamping itu KBR juga dipakai sebagai wadah pemberian pengetahuan dan keterampilan mengenai pembuatan persemaian, penanaman dengan menggunakan benih/bibit yang berkualitas, serta peningkatan pendapatan masyarakat.

Dalam mendukung penyelenggaraan Kebun Bibit Rakyat, pemerintah telah menetapkan kebijakan terkait sebagai acuan dalam implementasinya melalui Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.24/Menhut-II/2010 Jo P.46/Menhut-II/2010 dan Peraturan Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Nomor P.07/V-Set/2010 Jo P.09/V-Set/2010 Jo P.14/V-Set/2010 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kebun Bibit Rakyat (KBR).

Kebun  Bibit  Rakyat  merupakan  fasilitasi  pemerintah  dalam  penyediaan  bibit tanaman  hutan  dan  jenis  tanaman  serbaguna  (MPTS)  yang  prosesnya  dibuat secara  swakelola  oleh  kelompok  tani.  Bibit  hasil  Kebun  Bibit  Rakyat  digunakan untuk merehabilitasi dan menanam di lahan kritis, lahan kosong dan lahan tidak produktif di wilayahnya, dan membangun kesadaran masyarakat untuk menanam tanaman dengan jenis tanaman hutan dan jenis tanaman serbaguna lainya.

Untuk mendukung keberhasilan rehabilitasi hutan dan lahan serta program pembangunan hutan tanaman tersebut, disamping dibutuhkan benih dan bibit dalam jumlah besar juga diperlukan benih dan bibit yang berkualitas yang berasal dari induk yang jelas dan memiliki kualitas yang baik.

Penggunaan benih dan bibit berkualitas disertai dengan penerapan budidaya yang tepat dan manajemen yang baik dapat meningkatkan keberhasilan penanaman, produktivitas dan kualitas hutan, serta nilai komersial tegakan. Dengan demikian keberhasilan dan efisiensi program rehabilitasi hutan dan lahan serta program pembangunan hutan tanaman dapat meningkat.

Saat ini partisipasi masyarakat untuk menanam jenis tanaman hutan dan jenis tanaman serbaguna (MPTS) dirasakan cukup baik dan semakin meningkat, namun terkendala dengan kemampuan mereka memproduksi bibit berkualitas. Masyarakat cenderung menanam tanaman hutan dari benih atau bibit asalan. Akibatnya masyarakat sering kecewa karena tanaman yang ditanam ternyata memerlukan waktu lebih panjang untuk berproduksi dan kualitas hasilnya kurang memuaskan. Salah satu upaya pemerintah untuk memberdayakan masyarakat dalam penyedian bibit berkualitas dilakukan melalui Pembangunan Kebun Bibit Rakyat (KBR).

Kebun Bibit Rakyat adalah upaya penyediaan bibit berkualitas melalui pembuatan bibit tanaman hutan dan jenis tanaman MPTS oleh kelompok pengelola. Bibit hasil KBR nantinya akan digunakan untuk merehabilitasi dan menanami lahan kritis, lahan kosong dan lahan tidak produktif di wilayahnya. Disamping itu KBR juga dipakai sebagai wahana pemberian pengetahuan dan keterampilan mengenai pembuatan persemaian, penanaman dengan menggunakan benih/bibit yang berkualitas, serta peningkatan pendapatan masyarakat.

Dalam pelaksanaan KBR terdapat dua tahap yaitu pembuatan bibit dan penanaman. Pada tahap pembuatan bibit/persemaian di Propinsi Bengkulu yang di fasilitasi oleh Balai Pengelolaan DAS Ketahun melalui Kementerian Kehutanan pada tahun 2010 telah terealisasi 78 unit KBR, dimana dalam 1 unit KBR yang beranggotakan kurang lebih 15 – 20 orang. Dalam 1 unit KBR membuat 50.000 batang bibit siap tanam, dan memerlukan tenaga kerja sebanyak kurang lebih 15 – 20 orang. Dengan demikian dari 78 unit KBR akan menghasilkan bibit sebanyak  3.900.000 batang, dan menyerap tenaga kerja kurang lebih sebanyak 1.560 orang (HOK).

Pada tahapan pembuatan bibit/persemaian pemerintah memberikan bantuan dana dalam 1 unit KBR sebanyak Rp. 50.000.000,-/unit yang dikelolah oleh Kelompok KBR. Sehingga uang/ dana yang masuk di Propinsi Bengkulu dalam pelaksanaan KBR yang dikelolah oleh Kelompok KBR sebanyak Rp. 3.900.000.000,- . Jumlah tersebut telah memberikan income kepada petani khususnya dan masyarakat Propisi Bengkulu umumnya. Pada tahapan ini telah memeberikan gambaran yang signifikan terhadap perekonomian dan mengurangi pengangguran di Propinsi Bengkulu.

Selain membuat bibit/persemaian, kelonpok tani diwajibkan untuk menanam hasil bibit yang telah dibuat. Dimana dalam 1 kelompok tani KBR menyiapkan lahan seluas 125 ha, baik di dalam kawasan maupun di luar kawasan hutan. Dengan menanam seluas 125 ha per kelompok tani KBR, pada lahan kritis atau lahan yang kosong.

Sasaran Penanaman KBR adalah desa-desa yang mempunyai keriteria antara lain  yaitu berada dalam DAS Prioritas, berada di dalam dan sekitar kawasan hutan, memiliki lahan kritis, lahan kosong atau lahan tidak produktif, mata pencaharian penduduknya bergantung pada sektor  pertanian secara umum serta terdapat kelompok pengelola.

Di  samping  itu,  Kebun  Bibit  Rakyat  juga  dipakai  sebagai  sarana  untuk mengurangi  terjadinya  resiko  sosial  berupa  kemiskinan  akibat  degradasi  hutan dan  lahan  serta  sebagai  tempat  pemberian  pengetahuan  dan  keterampilan mengenai pembuatan persemaian, penanaman dengan menggunakan benih/bibit yang berkualitas.

 

  1. III.             KESIMPULAN

 

  1. Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan memlalui kegiatan pembuatan hutan rakyat, areal model, kebun bibit rakyat, penghijauan lingkungan, penanaman turus jalan, penanaman  tanaman sepadan sungai dan lain-lain pada lahan-lahan kosong dan ktitis pada tahun 2006 sampai dengan 2010, lahan kritis atau penutupan lahan di Propinsi Bengkulu dapat ditekan menjadi 6,05%, atau berkurang lahan kritis menjadi 37.643,325 hektar dari 621.762 hektar.
  2. Pemberdayaan masyarakat melalui Kebun Bibit Rakyat (KBR) memberikan nilai secara ekonomi bagi masyarakat pengelola Pembuatan Bibit Kebun Rakyat dan menekan tingkat pengangguran di Propinsi Bengkulu.
  3. Kegiatan Kebun Bibit Rakyat (KBR) akan memberi kesadaran dan budaya masyarakat di Propinsi Bengkulu untuk gemar tanam menanam kayu-kayuan.

 

UCAPAN TERIMA KASIH

 

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Urip Santoso, M.Sc. selaku dosen yang telah memberikan bimbingan dan pengetahuan kepada kami  mahasiswa program pasca sarjana pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan (PSL) Universitas Bengkulu. Kementerian Kehutanan Direktorat Bina Pengelolaan DAS dan Pehutanan Sosial Balai Pengelolaan DAS Ketahun Bengkulu, yang telah menyediakan perpustakaan bahan bacaan bidang kehutanan, dan rekan rekan seangkatan Program Pasca sarajana PSL Universitas Bengkulu.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Pusat Hubungan Masyarakat Kementerian Kehutanan, 2010. Satu Milyar Pohon Indonesia Untuk Dunia (One Billion Indonesia Trees For The World). Kementerian Kehutanan Jakarta.

 

Surili – 53/2010, Rimbawan Jawa Barat. Melestarikan Lingkungan dan Meningkatkan Ekonomi Masyarakat melalui Pembangunan Kehuanan,  Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat

 

Kementerian Kehutanan. Aktualisasi Kebijaksanaan Kehutanan. Kumpulan Siaran Pers Semester I tahun 2010. Menyiasati Dampak Perubahan Iklim. Pusinfo Kementerian Kehutanan Jakarta.

 

Majalah Kehutanan Indonesia (MKI). Rehabilitasi Besar-besaran Didukung Kebun Bibit Rakyat. Edisi XI tahun 2010. Jakarta

 

BPDAS Ketahun, 2002. Master Plan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (MP RHL) Propinsi Bengkulu tahun 2003-2007. Balai Pengelolaan DAS Ketahun. Bengkulu

 

Balai Pengelolaan DAS Ketahun, 2011. Statistik Balai Pengelolaan DAS Ketahun Bengkulu tahun 2010. Bengkulu

 

BPDAS Ketahun, 2011. Laporan tahunan Balai Pengelolaan DAS Ketahun2010. Balai Pengelolaan DAS Ketahun. Bengkulu

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s