Jurnal Bengkulu Mandiri

Membangun Bengkulu Menuju Budaya Riset

DEGRADASI MANGROVE ( HUTAN BAKAU ) DI PROPINSI BENGKULU March 26, 2011

Filed under: Kehutanan — Urip Santoso @ 7:38 am
Tags: ,

Oleh : KOS EDI, SE

ABSTRAK

Semua bencana alam yang sering terjadi di Indonesia akhir-akhir ini sangat perlu kita cermati. Salah satu penyebab timbulnya bencana alam tersebut adalah dikarenakan adanya kerusakan ekosistem atau lingkungan yang menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem.

Untuk di Propinsi Bengkulu masalah utama lingkungan adalah kerusakan hutan, termasuk di dalamnya hutan lindung, Taman Nasional Kerinci Sebelat, hutan magrove dan hutan pantai. Kerusakan hutan ini disebabkan oleh antara lain perkebunan, tambak, pemukiman dan pembangunan pariwisata.Salah satu jenis hutan di Bengkulu yang saat ini telah rusak adalah hutan mangrove, yang salah satu jenisnya adalah Rhizophora (bakau). Sebagian besar hutan mangrove yang ada di Propinsi Bengkulu adalah jenis hutan bakau. Hutan Bakau di sepanjang pantai barat dan timur pulau Sumatera telah rusak lebih dari 50 %. Propinsi Bengkulu memiliki laut sepanjang 525 km pantai Bengkulu telah mengalami kerusakan dan perlu dilakukan penanganan atau pengelolaan seperti reboisasi. Reboisasi hutan mangrove atau hutan bakau sangat penting karena akan dapat menjaga abrasi pantai, mengembalikan habitat biota laut atau muara serta meminimalisir terjadinya bencana akibat gelombang tsunami.

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan diatas maka penulis bertujuan untuk :

  1. Mengetahui tingkat kerusakan atau degradasi hutan Mangrove (Hutan Bakau) di Propinsi Bengkulu.
  2. Melakukan dan mencari jalan keluar agar hutan mangrove dapat terjaga kelestariannya.
  3. Melakukan rehabilitasi terhadap hutan mangrove yang telah rusak dan tercemar oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab.

Mengingat sangat banyaknya manfaat hutan bakau atau mangrove, maka upaya penyelamatan ekosistem bakau terutama di Provinsi bengkulu menjadi mutlak untuk dilakukan, demi keselamatan bumi dan umat manusia terutama masyarakat pesisir pantaii dan nelayan Provinsi Bengkulu.

PENDAHULUAN

Semua bencana alam yang sering terjadi di Indonesia akhir-akhir ini sangat perlu kita cermati. Salah satu penyebab timbulnya bencana alam tersebut adalah dikarenakan adanya kerusakan ekosistem atau lingkungan yang menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem. Untuk mengurangi benacana atau mengurangi kerugian akibat bencana tidak ada jalan lain, selain memperbaiki lingkungan yang telah rusak. Hal ini tentunya sangat memerlukan partisipasi dan motivasi dari semua pihak baik dari masyarakat, swasta dan Pemerintah.

Untuk di Propinsi Bengkulu masalah utama lingkungan adalah kerusakan hutan, termasuk di dalamnya hutan lindung, Taman Nasional Kerinci Sebelat, hutan magrove dan hutan pantai. Kerusakan hutan ini disebabkan oleh antara lain perkebunan, tambak, pemukiman dan pembangunan pariwisata.

Akibat kerusakan lingkungan terutama hutan, termasuk hutan magrove yang salah satu jenisnya adalah hutan bakau di propinsi Bengkulu, telah menyebabkan terjadinya banjir di musim hujan, kekeringan di musim kemarau, rusaknya pasilitas jalan dan pemukiman nelayan karena hempasan gelombang laut, berkurangnya keanekaragaman hayati menurunnya mutu air di Daerah Aliran Sungai sampai ke muara dan banyak akibat lain yang ditimbulkannya.

Salah satu jenis hutan di Bengkulu yang saat ini telah rusak adalah hutan mangrove, yang salah satu jenisnya adalah Rhizophora (bakau). Sebagian besar hutan mangrove yang ada di Propinsi Bengkulu adalah jenis hutan bakau. Hutan Bakau di sepanjang pantai barat dan timur pulau Sumatera telah rusak lebih dari 50 %. Propinsi Bengkulu memiliki laut sepanjang 525 km pantai Bengkulu telah mengalami kerusakan dan perlu dilakukan penanganan atau pengelolaan seperti reboisasi. Reboisasi hutan mangrove atau hutan bakau sangat penting karena akan dapat menjaga abrasi pantai, mengembalikan habitat biota laut atau muara serta meminimalisir terjadinya bencana akibat gelombang tsunami.

Hutan mangrove(bakau) adalah hutan yang berada di daerah tepi pantai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut, sehingga lantai hutanya selalu tergenang air. Pengertian lain hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di daerah pantai, biasanya terdapat di daerah teluk dan muara sungai yang dicirikan oleh :

1.            Tidak terpengaruh iklim.

2.            Dipengaruhi pasang surut.

3.            Tanah tergenang air laut.

4.            Tanah rendah pantai.

5.            Hutan tidak mempunyai struktur tajuk.

Adapun jenis-jenis pohonya adalah api-api (Aviceniasp.), Pedada (Sonneratia sp.), bakau (Rhizophora sp.), lacang (Brugueira sp.), Nyirih (Xylocarpus sp.), dan nipah (Nypa sp.) dan lain-lain. Di Propinsi Bengkulu hutan mangrove secara umum didominasi oleh hutan bakau (Rhizophora sp.) yang saat ini 50 % telah mengalami kerusakan sehingga diperlukan upaya penanganan dan pengelolaan sebelum ekosistem tersebut punah atau lenyap.

Permasalahan hutan Mangrove (Hutan Bakau) di Propinsi Bengkulu

Permasalahan pokok yang dihadapi oleh ekosistem bakau atau mangrove di Propinsi Bengkulu saat ini adalah kenyataan yang ada telah 50 % hutan bakau atau mangrove di Bengkulu telah mengalami kerusakan dengan sebaran sepanjang 525 km garis pantai Barat Sumatera. Diperkirakan luas hutan bakau disepanjang pantai barat sekitar 5.250 ha, tersebar dari kabupaten Muko-Muko sampai Kabupaten Kaur. Hutan Bakau tersebut sebagaian telah rusak dan hilang, sementara yang relatif masih utuh adalah bakau yang berada di Pulau Enggano. Hutan Bakau di Pulau Engganosebagian besar tersebar di bagian pantai Pulau Enggano, termasuk ke dalam kawasan hutan konversi, seperti cagar alam Teluk Klowe, cagar alam sungai Bahewa dan Taman Burung Gunung Nanua dengan luas 1.536,8 ha. Sebagian hutan bakau juga terletak di sebelah barat Pulau Enggano yaitu cagar alam tanjung Laksaha dan secara spot-spot terletak di sebelah selatan kawasan cagar alam Kioy (Senoaji dan Suminar, 2006). Hutan Mangrove atau hutan bakau di Enggano mempunyai ketebalan antara 50 – 1500 m. Komposisi jenis penyusunya terdiri dari 16 jenis salah satunya yang dominan adalah Rhizophora Apicullata, Rhizophora mucronata atau yang dikenal dengan bakau. Lebar hutan bakau di sana bervariasi mulai dari 50 – 1000 m. Potensi hutan bakau di daerah ini cukup tinggi yaitu 320 m3/ha dengan jumlah pohon 350 pohon/ha. Pohon-pohon yang berdiameter di atas 50 cm mencapai 30 % dengan rata-rata diameter pohon adalah 36 cm dan tinggi 9 cm.

Kondisi rusaknya mangrove atau khusunya hutan bakau di Bengkulu terutama di sepanjang garis pantai dari Muko-muko sampai Kaur disebabkan karena :

1.            Pemanfaatan hutan bakau yang tidak terkontrol, karena kebutuhan dan ketergantungan masyarakat yang menempati wilayah pesisir sanagat tinggi selaian itu pemenfaatan kayu bakau untuk keperluan rumah tangga.

2.            konversi hutan mangrove atau bakau untuk berbagai kepentingan seperti pembuatan tambak udang seperti di kabupaten Bengkulu Utara yang saat ini telah ditinggalkan dan terbengkalai, untuk perkebunan kelapa sawit yang banyak dimanfaatkan disepanjang pinggir pantai Muko-muko, Bengkulu Utara, Kota Bengkulu dan Seluma. Selain itu hutan bakau propinsi Bengkulu juga telah banyak dikonversi ke pembangunan fisik seperti jalan raya pantai panjang dan pembangunan hotel sepanjang pantai panjang Bengkulu serta pembangunan fisik sarana pariwisata.

Rusaknya hutan bakau dipropinsi Bengkulu telah menyebabkan hal-hal sebagai berikut :

1.            Intrusi air laut

Intrusi air laut adalah masuknya atau merembesnya air laut ke arah daratan sampai mengakibatkan air tawar sumur/sungai menurun mutuair, bahkan menjadi payau atau asin (Harianto, 1999). Dampak intrusi air laut sangat penting, karena air tawar yang tercemar intrusi air laut akan menyebabkan keracunan bila diminum dan dapat merusak akar tanaman . Intrusi air laut telah terjadi dihampir sebagaian besar wilayah pantai Bengkulu. Dibeberapa tempat bahkan mencapai lebih dari 1 Km.

2.            Turunnya kemapuan ekosistem mendegrasi sampah organik, minyak bumi dan sumber pencemar lainnya yang umumnya terdapat di wilayah sepanjang pantai dan wilayah pesisir.

3.            Penurunan dan keanekaragaman hayati di wilayah pesisir.

4.            Peningkatan abrasi pantai, seperti yang banyak terjadi di sepanjang pantai Bengkulu, yang telah merusak sampai kepemukiman dan jalan raya.

5.            Turunya sumber makanan, tempat pemijah dan bertelur boita laut, yang mengakibatkan turunya produksi tangkapan ikan masyarakat.

6.            Turunnya kemampuan ekosistem dalam menahan tiupan angin, gelombang air laut seperti yang terjadi masuknya gelombang tinggi air laut ke pemukiman masyarakat di pantai Muara Maras Kabupaten Seluma yang merusak rumah dan perahu nelayan.

7.            Peningkatan pencemaran pantai, karena rusaknya hutan bakau sehingga tidak ada lagi pengendali lingkungan.

 

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan diatas maka penulisan paper ini bertujuan untuk :

1.      Mengetahui tingkat kerusakan atau degradasi hutan Mangrove (Hutan Bakau) di Propinsi Bengkulu.

2.      Melakukan dan mencari jalan keluar agar hutan mangrove dapat terjaga kelestariannya.

3.      Melakukan rehabilitasi terhadap hutan mangrove yang telah rusak dan tercemar oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab.

 

PEMECAHAN MASALAH PENGELOLAAN MANGROVE (HUTAN BAKAU) DI BENGKULU

Di kawasan hutan Propinsi Bengkulu, hutan mangrove khusunya bakau belum di lakukan pengelolaan sama sekali kecuali bagar alam di Pulau Enggano, hal ini dapat dilihat dari kenyataan yang ada hampir sebagian hutan bakau yang berada di sepanjang pantai Bengkulu telah mengalami kerusakan bahkan yang sudah tidak ada lagi seperti dipinggir pantai Muara Maras dan Padang Bakung Kabupaten Seluma. Sementara hutan bakau di Bengkulu Utara telah banyak rusak menjadi tambak, begitu juga di Pulau Baai telah banyak berubah menjadi kebun kelapa sawit dan peruntukan lainnya.

Dalam upaya konservasi hutan mangrove dan sempadan pantai sesuai dengan Keppres No. 32 tahun 1990 harus dipedomani. Sempadan pantai adalah kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai, sedangkan kawasan hutan mengrove (hutan bakau) adalah kawasan pesisir laut yang merupakan habitat hutan yang berfungsi memberikan perlindungan kepada kehidupan pantai dan lautan. Sempadan pantai berupa jalur hijau sebesar 100 m dari pasang tertinggi ke arah daratan.

Pemanfaatan hutan bakau di Bengkulu untuk memenuhi kebutuhan masyarakatan dan dunia usaha telah menyebabkan menurunya kualitas dan fungsi hutan bakau. Sudah saatnya masyarakat Bengkulu sadar dan turut menjaga kelestarian ekosistem hutan bakau. Ekosistem bakau dikatakan lestari jika fungsi ekologi dan sosial ekonominya dapat berjalan dengan baik. Fungsi ekologi meliputi kemampuan daya dukung ekosistem bakau terhadap lingkungan sekitarnya, dan dikatakan baik jika : 1. Tutupan area pohon tinggi, 2. Siklus energi berjalan dengan baik, 3. keseimbangan lingkungan terjaga. Kemudian untuk fungsi sosial ekonomi, dikatakan baik jika ekosistem bakau masih dapat dimanfaatkan secara lestari oleh masyarakat sekitar. Pemanfaatan hutan bakau yang ada telah rusak bahkan dibeberapa tempat sudah habis, hal ini dikarenakan pengelolaan dan pemanfaatannya tidak sesuai dengan ketentuan yang seharusnya. Oleh karena itu diperlukan upaya dalam melakukan pengelolaan hutan bakau di Bengkulu sehingga dapat memperbaiki yang telah rusak dan mempertahankan yang masih ada.

Upaya-upaya yang dapat dan harus dilakukan dalam mengelola hutan bakau di Propinsi Bengkulu antara lain :

1.            Penanaman kembali bakau

Terhadap hutan bakau yang telah seperti di Bengkulu Utara, Pulau Baai, dan Seluma harus dilakukan penanaman kembali. Penanaman kembali melibatkan masyarakat. Model yang dilakukan yaitu dengan melibatkan masyarakat dalam pembibitan, dan pemeliharaan serta pemanfaatan hutan bakau berbasis konservasi. Model ini memberikan keuntungan kepada masyarakat antara lain terbukanya peluang lapangan pekerjaan sehingga terjadi peningkatan pendapatan masyarakat.

2.            Harus dilakukan kembali tata ruang wilayah  pesisir seperti peruntukan pemukiman, peruntukan vegetasi, peruntukan usaha tambak, pariwisata, konservasi dan lain-lain.

3.            Meningkatkan motivasi dan kesadaran serta tanggung jawab masyarakat untuk menjaga dan memanfaatkan hutan bakau secara bertanggung jawab.

4.            Mengeluarkan perizinan usaha dan penggunaan lahan bakau dengan memperhatikan aspek konservasi.

5.            Meningkatkan pengetahuan dan penerapan kearifan lokal tentang konservasi sesuai kondisi spesifik daerah.

6.            Meningkatkan pemberdayaan masyarakat pesisir dan nelayan sehingga mampu beusaha dengan baik dan meningkatkan pendapatan mereka.

7.            Membuat dan melaksanakan program yang dapat mengkomunikasikan upaya-upaya konservasi ekosistem hutan bakau, rapat koordinasi, sosialisasi, seminar, loka karya, penelitian dan lain sebagainya.

8.            Penegakan hukum terhadap pelanggar hukum dan perusak lingkungan.

9.            Perbaikan ekosistem wilayah pesisir secara terpadu dan berbasis masyarakat, yang artinya dalam memperbaiki keosistem wilayah pesisr. Masyarakat sangat penting dilibatkan yang kemudian dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Selain itu juga mengandung pengertian bahwa konsep-konsep lokal (kearifan lokal tentang ekosistem dan pelestariannya perlu ditumbuh kembangkan kembali sejauh dapat mendukung program tersebut.

10.        Komitmen yang kuat dari pemerintah dan masyarakat Provinsi Bengkulu untuk menjaga dan melestarikan hutan bakau melalui upaya penyatuan persepsi dan penyatuan gerakan bersama, didukung dengan fasilitas yang memadai.

Khusus dalam upaya melakukan reboisasi dan rehabilitasi hutan bakau di Bengkulu, maka keberhasilannya diukur melalui beberapa kriteria dan indikator keberhasilan. Untuk menentukan keberhasilan rehabilitasi tersebut bukanlah suatu hal yang mudah karenanya banyaknya faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakau. Adapun kriteria suatu kegiatan rehabilitasi dapt diukur dengan menggunakan kriteria yang mencakup:

1.      Kriteria persiapan; dengan indikator yang dipakainadalah ketersediaan dat tentang tapak, tata hubungan kerja, serta kuantitas dan kualitas SDM.

2.      Kriteria pemilihan lokasi; dengan indikator yang dipakai adalah kepastian status lokasi, kejelasan fungsi kawasan/lokasi, serta seleksi dan persiapan areal.

3.      Kriteria pelaksanaan; dengan indikator ketersediaan bibit, pemilihan jenis yang sesuai, pendekatan teknologi persentase tumbuh, dan partisipasi masyarakat.

4.      Kriteria monitoring; indikator yang dipakai dalah pelaksanaan penanaman pemeliharaan tanaman dan berkelanjutan.

Perasalahan dan kendala kegiatan rehabitilasi hutan bakau beberapa daerah di Bengkulu seperti bekas tambak di Bengkulu Utara, kerusakan hutan bakau di pulau Baai dalam pelaksanaan rehabilitasinya harus memperhatikan beberapa hal yang sering kali terjadi di beberapa daerah lain yang dapat menyebabkan kegagalan diantaranya:

1.      Kesalahan dalam waktu penanaan pemilihan jenis dan teknologi rehabilitasi yang tidak sesuai dengan karakteristik lokasi rehabilitasi.

2.      Tingginya aktivitas (perahu) di beberapa lokasi yang mengganggu keberhasilan kegiatan penanaman.

3.      Sempitnya waktu dari mulai perencanaan sampai dengan pelaksanaan kegiaan sehingga tujuan untuk memberdayakan masyarakat dalam kegiatan rehabilitasi tidak dapat tercapai secara baik.

4.      Tingkat kesjahteraan masyarakat di sekitar ekosistem huan bakau atau mangrove yang masih rendah menjadi permasalahan utama yang harus segera dipecahkan dalam pelaksanaan kegiatan penyelamatan dan rehabilitasi hutan bakau.

5.      Kurangnya keterlibatan masyarakat terutama dalam proses perencanaan penanaman dan kegiatan pemeliharaan tanaman rehaabilitasi berkaitan pula dengan pembinaan yang dilakukan untuk masyarakat, mengingat masih rendahnya kepedulian masyarakat pada pemahaman pentingnya keberadaan hutan bakau atau mangrove (Dirjen P3K DKP, 2004).

Kesimpulan

Fungsi hutan mangrove dalam hal ini khususnya bakau dalam ekosistem pesisir dan pantai sangat penting baik secara fungsi fisisk seperti menjaga garis pantai tetap stabil, melindungi pantai dari erosi laut/abrasi, intrusi air laut, mempercepat perluasan lahan dam mengolah limbah. Fungsi biologis seperti iempat pembenihan ikan, udang, tempat pemijahan biota air, sarang burung, dan habitat alami berbagai jenis biata sehingga menjaga biodiversitas. Fungsi ekonomi seperti sumber bahan bakar pertambakan, tempat pembuatan garam, sumber bahan makanan obat-obatan, minuman, perikanan, pertambakan, pakan ternak, pupuk sumber bahan kertas, tanah dan lain sebagainya. Mengingat sangat banyaknya manfaat hutan bakau atau mangrove, maka upaya penyelamatan ekosistem bakau terutama di Provinsi bengkulu menjadi mutlak untuk dilakukan, demi keselamatan bumi dan umat manusia terutama masyarakat pesisir pantai dan nelayan Provinsi Bengkulu.

DAFTAR PUSTAKA

Dirjen P3K DKP. 2004. Pedoman pengelolaan ekosistem mangrove. Departemen Kelautan dan Perikanan RI Jakarta

Harianto, S.P.1999. Konservasi mangrove dan potensi pencemaran Teluk Lampung.

Jurnal Manajemen dan Kualitas Lingkungan, 1(1):9-15

Kompas .2000. Separuh hutan bakau Sumatera Barat rusak.Kompas 28 Februari.2000.

Santoso.U.2007.Permasalahan dan Solusi Lingkungan Hidup di Provinsi Bengkulu.Pertemuan PSL PT-Sumatera tgl 20.Februari.2006

Senoaji G. dan R. Seminar.2006.Daya Dukungan Lingkungan Pulau Enggano Provinsi Bengkulu Bappedalda dan PSL Universitas Bengkulu.Bengkulu.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s