Jurnal Bengkulu Mandiri

Membangun Bengkulu Menuju Budaya Riset

Masyarakat Desa Sekitar Hutan Lindung Bukit Daun Di Bengkulu March 25, 2011

Filed under: Kehutanan — Urip Santoso @ 10:31 pm
Tags: , ,

Oleh: Gunggung Senoaji

Posted on 17 Oktober 2010 by gunggungsenoaji| 2 Komentar

Hutan merupakan sumberdaya alam yang mempunyai peranan penting bagi kehidupan manusia karena mampu menghasilkan barang dan jasa serta dapat menciptakan kesetabilan lingkungan (Steinlin,  1988).  Sejalan dengan waktu, hutan yang semula dianggap tidak akan habis berangsur-angsur mulai berkurang.  Banyak lahan hutan digunakan untuk kepentingan lain, seperti pertanian, perkebunan, pemukiman, industri dan penggunaan lainnya. Di Provinsi Bengkulu luas kawasan hutan yang telah beralih fungsi menjadi lahan pertanian, perkebunan, pemukiman, tanah kosong, dan kebun campuran mencapai 286.777 hektar atau sekitar 31,14% dari luas total hutan yang ada (Pemerintah Propinsi Bengkulu, 2008).

Permasalahan konversi hutan ini berakar dari pertambahan penduduk yang terus meningkat. Pertambahan penduduk menuntut tercukupinya kebutuhan pangan, kebutuhan kayu bakar, kebutuhan kayu pertukangan, dan tempat pemukiman.  Di lain pihak lahan pertanian sebagai penghasil pangan luasannya terbatas, sehingga alternatif utama untuk pemenuhan kebutuhan pangan adalah mengkonversi lahan hutan menjadi lahan pertanian (Simon, 2001).  Keterbatasan lahan yang dimiliki oleh masyarakat di sekitar hutan akan berakibat pada kondisi hutan di sekelilingnya.  Mereka akan menggantungkan hidupnya pada hutan yang ada di sekeliling pemukimannya guna memenuhi kebutuhan hidup yang terus meningkat.  Tanpa pengelolaan yang tepat, hal  seperti ini merupakan ancaman bagi keberadaan dan kelestarian hutan, serta dapat menurunkan fungsi dari peruntukan hutan ini.

Penduduk Desa Air Lanang berjumlah 285 kepala keluarga (KK) , dengan mata pencaharian pokok masyarakatnya adalah petani (98,6 %).  Jenis pekerjaan penduduk akan berhubungan erat dengan tekanan masyarakat ke dalam hutan.  Senoaji dan Ridwan (2006) menjelaskan bahwa masyarakat desa hutan yang jenis pekerjaannya petani cenderung akan meningkatkan  tekanan penduduknya ke dalam kawasan hutan; hal ini disebabkan karena semakin terbatasnya lahan pertanian akibat pertambahan jumlah penduduk.  Kebutuhan lahan setiap petani dengan komoditas kopi adalah 0,3 hektar/jiwa atau 1,5 hektar per kepala keluarga, ini berarti  masyarakat di desa ini kekurangan lahan pertanian; sehingga untuk memperluas lahan pertaniannya mereka membuka hutan lindung yang ada di sekeliling pemukimannya.

Sebanyak 66,7 % responden masyarakat desa membuka kebun di dalam kawasan hutan.  Rata-rata luas lahan garapan masyarakat di desa ini setiap kepala keluarga adalah 2,5 hektar; dengan demikian jika dirata-ratakan berdasarkan jumlah petani dan luas lahan garapan serta kepemilikan lahannya, maka setiap kepala keluarga petani di desa ini memiliki luas lahan di dalam kawasan hutan sekitar 1,6 hektar.  Jika setiap kepala keluarga membuka lahan kebun di hutan seluas 1,6 hektar, maka lahan hutan yang terbuka di desa ini telah mencapai 456 hektar, dan akan terus bertambah sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk.

Hasil komoditas utama petani di Desa Air Lanang adalah kopi.  Hasil pertanian lainnya umumnya digunakan sendiri untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh karena itu pendapatan petani di Desa Air Lanang sangat ditentukan oleh produksi kopi dan harga jual kopi .  Produksi rata-rata kopi per tahun adalah 500 kg per hektar.

Akibat bertambahnya jumlah penduduk, lahan pertanian yang tersedia menjadi terbatas;  sedangkan budaya untuk memiliki kebun kopi tetap menjadi tuntutan masyarakat.  Cara  yang paling mudah untuk memiliki kebun adalah dengan membuka kebun kopi di kawasan hutan lindung. Di beberapa tempat, luasnya kebun kopi masih menjadi tolak ukur tingginya derajat seseorang.  Budaya seperti ini menjadi faktor penyebab tingginya kerusakan hutan lindung  Beberapa masyarakat desa mengakui bahwa perbuatan membuka kebun di hutan lindung adalah perbuatan yang melanggar aturan.  Namun karena desakan kebutuhan ekonomi dan terbatasnya lahan di luar kawasan hutan, terpaksa mereka membuka kebun di hutan lindung.

Pemerintah, melalui Departemen Kehutanan, telah mengupayakan pengelolaan hutan di desa ini dengan konsep hutan kemasyarakatan, yakni konsep pengelolaan hutan lindung yang memberikan kesempatan kepada masyarakat sekitar desa untuk memanfaatkan lahan hutannya dengan memperhitungkan aspek pemilihan jenis tanaman dan jarak tanam.  Jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman kopi dan tanaman pertanian masyarakat dengan  tanaman kehutanan multi purpose tree species (MPTS) atau tanaman kayu-kayuan seperti : kayu bawang, surian, durian, pete, pinang, dan kemiri, dengan menggunakan jarak tanam pohon tertentu seperti 6 x 6 meter.

Program hutan kemasyarakatan di desa ini mulai digulirkan sejak tahun 1999 mulai dari pembentukan kelembagaan, pelatihan, penyiapan bibit, penanaman, pendampingan, dan monitoring evaluasi.  Hasil wawancara dengan masyarakat dan pengamatan langsung di lapangan, secara fisik persentase penanaman tananaman MPTS yang dilakukan cukup berhasil, hanya saja tanaman kemiri atau pinang yang ditanam di lahannya sudah mulai ditebangi oleh masyarakat.  Alasan mereka pohon-pohon tersebut mengganggu pertumbuhan kopi.  Tujuan akhir dari program hutan kemasyarakatan sebenarnya adalah menggantikan tanaman kopi dengan tanaman kehutanan.  Harapannya, jika tanaman kehutanannya sudah menghasilkan dan tanaman kopinya sudah ternaungi, petani akan mengurangi aktifitasnya terhadap kopi dan beralih kepada budidaya tanaman kehutanan.  Sehingga nantinya lahan kebun hutannya dipenuhi oleh tanaman-tanaman kayu keras yang lebih banyak memberikan fungsi perlindungan lingkungan dibanding kopi.  Namun setelah sekitar sembilan tahun penanaman dan pertumbuhan tanaman pohon  telah baik, petani tetap mengutamakan tanaman kopinya dan bahkan mulai menebangi tanaman hutannya. Berhasilkan program hutan kemasyarakatan ?  ternyata budaya berkebun kopi memegang peranan penting dalam aspek pengelolaan hutan seperti ini.  Sudah saatnya pemerintah membuat program pengelolaan hutan yang dapat mengakomodir kepentingan masyarakat desa hutan dengan tetap mengutamakan fungsi perlindungan lingkungan.

 

One Response to “Masyarakat Desa Sekitar Hutan Lindung Bukit Daun Di Bengkulu”

  1. fauzy Says:

    ada kemiri berjumlah besar?
    harga perkilo yang sudah di kupas brp?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s