Jurnal Bengkulu Mandiri

Membangun Bengkulu Menuju Budaya Riset

UPAYA KONSERVASI MELALUI PENGURANGAN TINGKAT KEHILANGAN (LOSSES) BATUBARA DI PROVINSI BENGKULU December 27, 2010

Filed under: SDA & LH — Urip Santoso @ 10:58 pm
Tags: ,

Oleh: Achmad Rifani

Abstrak

Batubara di Provinsi Bengkulu diendapkan pada zaman Miosen-Pliosen di dalam cekungan busur depan pegunungan vulkanik pada lingkungan pengendapan laut dangkal-transisi bersama-sama dengan batuan sedimen yang lainnya seperti batu lempung, batu pasir, batu lanau, lempung tufaan dan serpih gampingan. Sesuai dengan genesanya maka batubara tersebut membentuk beberapa lapisan dengan ketebalan yang berbeda-beda, Sebaran batubara umumnya tidak merata selain itu kandungan unsur dan kualitas kalorinya juga berbeda-beda. Hal ini akan menyebabkan timbulnya masalah dalam upaya konservasi. Dari sisi kemudahan penambangan, perusahaan akan mengambil batubara yang tebal dan kalori yang tinggi untuk mendapatkan keuntungan maksimal atau dengan menambang pada kedalaman tertentu atau stripping ratio yang rendah dengan menyisakan lapisan tipis dan berkalori rendah, Lapisan batubara yang tidak diambil ini disebut sebagai losses (kehilangan). Selain penambangan, losses juga dapat terjadi pada tahapan pengolahan dan  pengangkutan. Tingkat kehilangan (losses) rata-rata 5-10 %  pada tahap penambangan, 5 % pada tahap pengolahan /pencucian dan 5 % pada tahap pengangkutan dan bongkar muat di pelabuhan. Dengan pengawasan yang ketat dan penerapan metode penambangan yang baik diharapkan terjadi pengurangan tingkat kehilangan menjadi maksimal 2% pada masing-masing tahapan kegiatan penambangan batubara di Provinsi Bengkulu.

Kata kunci : batubara, losses, konservasi

Latar Belakang

Provinsi Bengkulu mempunyai sumber daya bahan galian batubara yang merupakan salah satu sumber energi yang penting di Indonesia. Kegunaan utama batubara adalah sebagai bahan bakar sumber dalam industri semen, industri logam, pembangkit listrik, pembuatan briket dan sebagai komoditas ekspor yang menghasilkan devisa bagi negara/daerah.

Kebutuhan bahan bakar ini setiap tahunya semakin meningkat baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun kebutuhan luar negeri, sesuai dengan meningkatnya penggunaan batubara ini. Kecepatan tingkat kebutuhan batu bara dalam negeri tidak secepat tingkat produksinya. Kebutuhan tahun 2010 sebesar 40 juta-45 juta ton per tahun, kebutuhan tersebut termasuk untuk pembangkit listrik (PLTU Batu Bara), kebutuhan untuk pabrik semen, serta industri lainnya (Widagdo, 2010).

Hasil pemantauan Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral Kementerian ESDM menunjukkan bahwa kehilangan batubara dari proses penambangan hingga pengapalan antara 5-10%. Bahkan terdapat penambangan batubara yang angka kehilangannya mencapai 5% pada tahap penambangan, 5 % pada tahap pencucian dan 5% pada tahap pengangkutan. Sehingga nilai perolehannya hanya 86,75 %. Artinya setiap penambangan batubara sebanyak 1.000.000 ton, hanya 867.500 ton batubara yang dapat dijual/dimanfaatkan, tentunya hal itu membawa kerugian sangat besar bagi negara (Ishlah, 2004).

Menyikapi hal tersebut maka perlu adanya upaya konservasi untuk meminimalkan kehilangan (losses) dan memaksimalkan perolehan (recovery) serta mengamankan hak-hak pemerintah.

Prinsip Konservasi Sumber Daya Batubara

Sumber daya batubara adalah sumber daya alam yang tak terbarukan, maka pengelolaan, pengusahaan dan pemanfaatannya mutlak harus optimal, bagi perusahaaan, masyarakat, pemerintah maupun lingkungannya.

Konservasi mineral dan batubara bertujuan untuk mengupayakan terwujudnya pemanfaatan mineral dan batubara secara bijak, optimal dan mencegah pemborosan dengan sasaran untuk menjamin manfaat pertambangan mineral dan batubara secara berkelanjutan (Suhendar, 2010).

Penerapan prinsip konservasi sumber daya batubara dapat dilakukan dengan :

a.   Mengoptimalkan produksi penambangan dengan cara :

1. Menerapkan teknik pertambangan dan perlatan yang tepat

2. Memaksimalkan cut off grade.

3. Mencegah ceceran dalam penggalian dan pengangkutan

4. Menghindari dilution

5. Mengoptimalkan recovery

b.   Mengoptimalkan pengolahan

1. Menerapkan teknik pengolahan dan peralatan yang tepat

2. Menerapkan head grade antara lain dengan cara blending

3. Memproduksi beberapa macam jenis dan kualitas produk

4. Menempatkan dan mendata jumlah dan kualitas tailing dengan baik

c.   Memperlakukan batubara kadar marjinal dengan baik

1. Menempatkan dan mendata jumlah dan kualitasnya dengan baik

2. Tidak mencampurnya dengan waste

3. Mengupayakan agar mudah untuk dapat dimanfaatkan apabila diperlukan

Sumber Daya dan Cadangan

Sumber daya batu bara adalah bagian dari endapan batu bara yang diharapkan dapat dimanfaatkan. Sumber daya batu bara ini dibagi dalam kelas-kelas sumber daya berdasarkan tingkat keyakinan geologi yang ditentukan secara kualitatif oleh kondisi geologi/tingkat kompleksitas dan secara kuantitatif oleh jarak titik informasi. Sumber daya ini dapat meningkat menjadi cadangan apabila setelah dilakukan kajian kelayakan dinyatakan layak (Amandemen 1- SNI 13-5014-1998 ICS 73.020).

Dari tahapan eksplorasi yang telah dilaksanakan oleh Dinas ESDM maupun sektor swasta, hingga saat ini telah dilokalisir daerah-daerah yang mengandung bahan galian batubara, beberapa lokasi baru dilaksanakan eksplorasi tinjau, prospeksi dan pendahuluan, beberapa tempat sudah rinci dan sudah ditambang (berproduksi). Sumber daya batubara di wilayah Bengkulu dapat dilihat pada Tabel 1.

 

Tabel 1.  Sumber daya batubara di wilayah Bengkulu

Sumber daya Batubara                                  Jumlah (ton)
Sumber daya terukur                                    122.913.304

Sumber daya terunjuk                                   169.295.783

Sumber daya tereka                                      101.087.376

Sumber : Dinas ESDM Provinsi Bengkulu, 2007

Cadangan batubara adalah bagian dari sumber daya batubara yang telah diketahui dimensi, sebaran kuantitas, dan kualitasnya, yang pada saat pengkajian kelayakan di nyatakan layak untuk ditambang (Amandemen 1- SNI 13-5014-1998 ICS 73.020).

Besaran sumberdaya dan cadangan batubara dihitung berdasarkan Klasifikasi Sumber daya dan cadangan Batubara (Amandemen 1- SNI 13-5014-1998) dengan asumsi bahwa kondisi geologi sederhana dan titik-titik informasi (singkapan, lubang bor) sesuai dengan kriteria pada SNI. Bahkan titik bornya sangat rapat. Sedangkan penentuan cadangan dibantu dengan membuat stratmodel dan perangkat lunak Minescape. Stratmodel didasarkan pada prinsip-prisip stratigrafi dengan asumsi urutan lapisan batubara yang diendapkan pada suatu periode tertentu yang menerus/selaras (conformable sequence), tidak saling memotong dan mengikuti pola struktur geologi regional. Stratmodel juga mampu menyimpan semua data geologi yang meliputi data lubang bor, titik survey, poligon batas pengukuran topografi dan patahan serta membuat suatu model dalam bentuk tabel dan gridfile. Perhitungan cadangan batubara akan menjadi lebih akurat dan teliti jika nilai SG yang digunakan dalam perhitungan berbeda per seam. Sementara itu, ketebalan minimal yang dihitung sebagai cadangan minimal dengan ketebalan 67 cm. Lapisan atas batubara setebal 7 cm dan 10 cm dibawahnya tidak diambil sehingga jumlah batubara yang tertambang minimal 50 cm.             Menurut data dari Dinas ESDM Provinsi Bengkulu tahun 2009, cadangan batubara di Provinsi Bengkulu  sebesar 82.216.328 Ton dengan jumlah cadangan yang tertambang selama kurun waktu produksi antara tahun 1989 sampai dengan tahun 2009 sebesar 731.328,83 ton.

 

Kualitas batubara

Kualitas batubara adalah sifat fisika dan kimia dari batubara yang mempengaruhi potensi kegunaannya. Kualitas batubara ditentukan oleh maseral dan mineral matter penyusunnya, serta oleh derajat coalification (rank). Umumnya, untuk menentukan kualitas batubara dilakukan analisa kimia pada batubara yang diantaranya berupa analisis proksimat dan analisis ultimat. Analisis proksimat dilakukan untuk menentukan jumlah air (moisture), zat terbang (volatile matter), karbon padat (fixed carbon), dan kadar abu (ash), sedangkan analisis ultimat dilakukan untuk menentukan kandungan unsur kimia pada batubara seperti : karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, unsur tambahan dan juga unsur jarang (Tirasonjaya, 2006).

Kualitas batubara ditentukan dengan analisis batubara di laboraturium, diantaranya adalah analisis proksimat dan analisis ultimat. Analisis proksimat dilakukan untuk menentukan jumlah air, zat terbang, karbon padat, dan kadar abu, sedangkan analisis ultimat dilakukan untuk menentukan kandungan unsur kimia pada batubara seperti : karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, unsur tambahan dan juga unsur jarang.

Kualitas batubara ini diperlukan untuk menentukan apakah batubara tersebut menguntungkan untuk ditambang selain dilihat dari besarnya cadangan batubara di daerah penelitian. Untuk menentukan jenis batubara, digunakan klasifikasi American Society for Testing and Material (Tabel 2).

Tabel 2. Klasifiaksi batubara menurut American Society for Testing and Material

 

 

 

 

 

 

 

Standar Nasional Indonesia Amandemen 1 – SNI 13-5014-1998 mengklasifikasikan batubara menurut kepentingannya dalam industri, yaitu :

a.   Batubara Energi Rendah (Brown Coal)

Batu bara energi rendah adalah jenis batu bara yang paling rendah peringkatnya, bersifat lunak, mudah di remas, mengandung kadar air yang tinggi (10-70%), terdiri atas batu bara energi rendah lunak (soft brown coal) dan batu bara lignitik atau batu bara energi tinggi (lignitic atau hard brown coal) yang memperlihatkan struktur kayu. Nilai kalorinya kurang dari atau sama dengan 7000 kalori/gram (dry ash free -ASTM).

b.   Batubara Energi Tinggi (Hard coal)

Batu bara energi tinggi adalah semua jenis batu bara yang peringkatnya lebih tinggi dari brown coal, bersifat lebih keras, tidak mudah diremas, kompak, mengandung kadar air yang relatif rendah, umumnya struktur kayu tidak tampak lagi, dan relatif tahan terhadap kerusakan fisik pada saat penanganan (coal handling ). Nilai kalorinya lebih dari 7000 kalori/gram (dry ash free-ASTM)

Berdasarkan  hasil analisis perusahaan dan surveyor pemerintah, nilai kalori batubara di Provinsi Bengkulu berkisar 5000-7200 kal/gr.

Tabel 3. Contoh hasil analisa batubara dari tambang di Provinsi Bengkulu

SAMPLE CODE MASS OF SAMPLE QUALITY
TM IM AC VM FC TS CV CV
PC 112 ST TM BLK III

PC 114 ST I HB BLK VII

PC 117 ST I SJ BLK IX

1137

1983

1452.31

17.29

18.62

19.90

9.15

5.99

5.06

9.04

10.61

17.49

40.82

40.24

36.67

40.99

43.16

40.78

0.41

0.33

0.41

6,120

6,253

5,753

7481

7498

7426

TM      = % air total (adb)

IM       = % air inheren (adb)

VM      = % zat terbang (adb)

FC       = % karbon padat (adb)

AC      = % kadar abu (adb)

TS        = % sulfur (adb)

CV      =  Nilai Kalori

Karena kualitas batubara pada setiap daerah prospek berbeda. Untuk memperoleh kualitas batubara sesuai dengan permintaan konsumen, maka diperlukan percampuran (bleending). Nilai kalor perlu dilakukan pengontrolan ketat oleh pemerintah, karena harga batubara tergantung pada nilai kalor, kadar abu, kadar organik dan sebagainya.

Stock batu bara di Provinsi Bengkulu harus menjadi prioritas pengelolaan batu bara di dalam negeri. Dengan rata-rata design boiler batu bara PLU (Pemerintah dan Independent Power Producer/ IPP-listrik swasta) berkualitas lebar, maka penambang yang dapat memproduksi dan memasarkan batu bara dengan kualitas rendah, pemerintah harus bisa memberi insentif (misalnya pengurangan pajak). Selain itu, insentif juga harus diberikan pada perusahaan yang menggunakan batu bara dengan kualitas rendah.

 

Operasi Penambangan

Penambangan batubara di Provinsi Bengkulu hampir seluruhnya dilakukan dengan sistem open pit menggunakan metode truck and shovel, yang dalam pelaksanaanya digunakan acuan standar operasional yang lazim pada usaha pertambangan internasional. Pemberaian yang dilakukan menggunakan peledakan diharapkan dapat menghasilkan fragmen batuan yang sesuai harapan dengan memperhatikan faktor geologi sehingga nilai Powder Factor (PF) nya cukup rendah. Pemberaian juga dilakukan dengan menggunakan alat berat. Di Provinsi Bengkulu, bagian batubara setebal 7 cm pada lapisan top belum diambil secara maksimal untuk digunakan sebagai bahan baku PLTU. Dengan demikian, bagian yang pada awalnya dimodelkan sebagai waste juga belum dimanfaatkan.

Proses selanjutnya setelah pemberaian adalah pemuatan dan transportasi. Di Provinsi Bengkulu, batubara dari wilayah penambangan diangkut ke pelabuhan Pulau Baai dengan menggunakan dump truck kapasitas rata-rata 14 – 17 ton/rit.

Stock batubara yang diangkut dapat diambil dari areal front penambangan (direct hauling) dan dapat juga diambil di stocpile tambang yang sudah ada. Penamaan stock biasanya berdasarkan kualitas mengacu hasil analisa PT. Sucofido Bengkulu, pemisahan stock batubara sudah dilakukan di stockpile tambang dan prioritas pengangkutan batubara tergantung koordinasi antara tambang dan stockpile Pulau Baai.

Lokasi penambangan terdekat di Provinsi Bengkulu terdapat di Kabupaten Bengkulu Tengah dengan jarak ± 34 Km dari pelabuhan Pulau Baai. Jalan yang dilalui sebagian besar jalan negara kelas II dengan kontur jalan yang bervariasi.

 

Pembatas Cadangan dan Kehilangan (Losses)

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa tidak mungkin akan diperoleh cadangan tertambang 100% dari cadangan insitu, dimana akan terjadi dilution sepanjang tahap penambangan. Sebelum mulai menghitung suatu nilai cadangan tertambang, maka ada 2 (dua) faktor utama yang harus dikuantifikasi, yaitu Faktor Pembatas Cadangan dan Faktor Losses (Suhala, 1995).

a.    Faktor-faktor pembatas suatu cadangan :

1.      Minimum ketebalan lapisan batubara, hal ini berhubungan dengan teknik penambangan & stripping ratio.

2.      Maksimum ketebalan tanah penutup, hal ini berhubungan dengan nilai stripping ratio.

3.      Maksimum stripping ratio, hal ini berhubungan dengan nilai atau tingkat kelayakan penambangan.

4.      Maksimum kemiringan lapisan batubara, hal ini akan berhubungan dengan teknologi penambangan dan nilai stripping ratio.

5.      Minimum (%) yield proses untuk mendapatkan batubara bersih, yaitu kalau diperkirakan akan dilakukan proses pencucian.

6.      Maksimum kandungan abu, yaitu sesuai dengan standar pasar yang akan dimasuki.

7.      Maksimum kandungan sulfur, yaitu sesuai dengan standar pasar yang akan dimasuki.

8.      Batasan alamiah – geografis, yaitu berhubungan dengan batasan-batasan alam yang harus diperhatikan, seperti adanya sungai besar, daerah konservasi alam, atau adanya jalan negara, atau adanya suatu areal tertentu yang tidak mungkin dipindahkan.

9.      Batasan alamiah – geologi, yaitu berhubungan dengan batasan-batasan geologi, seperti adanya sesar, intrusi, dan lain-lain.

b.   Faktor Losses

Yaitu faktor-faktor kehilangan cadangan akibat tingkat keyakinan geologi maupun akibat teknis penambangan. Beberapa faktor losses adalah :

1.      Geological Losses, yaitu faktor kehilangan akibat adanya variasi ketebalan, parting, maupun pada saat pengkorelasian lapisan batubara. Biasanya untuk kemudahan, langsung diambil nilai umum yaitu 5 – 10%.  Namun dapat juga dengan memperhatikan pola variasi ketebalan batubara, yaitu dengan bantuan analisis statistik. Parameter statistik yang dapat digunakan adalah : standard deviasi, koefisien variasi, atau standard error.

Rata-rata = » m ; Standard Deviasi =

Koef. variasi =

 

2.      Mining Losses, yaitu faktor kehilangan akibat teknis penambangan, seperti faktor alat dan faktor safety. Secara umum, untuk metoda Strip Mining digunakan mining losses sebesar 10%, sedangkan untuk tambang bawah tanah digunakan mining losses sebesar 40-50% yaitu (metoda Long Wall mempunyai Recovery 60-70%, metoda Room & Pillar mempunyai Recovery 50-60%), untuk auger mining digunakan mining losses sebesar 60-70% (atau Recovery 30-40% sesuai dengan spesifikasi peralatannya). Untuk metoda Strip Mining (open pit), kadang-kadang juga digunakan pendekatan ketebalan lapisan yang akan ditinggalkan, yaitu 10 cm pada roof & 10 cm pada floor. Jika ketebalan lapisan hanya 1 m, maka Mining Losses = 20%., sedangkan jika ketebalan lapisan adalah 2 m maka Mining Losses = 10%., dan jika ketebalan lapisan adalah 5 m maka Mining Losses = 4%.

3.      Processing and Transporting Losses, yaitu faktor kehilangan (recovey » yield) akibat diterapkannya metoda pencucian batubara atau kehilangan pada proses pengangkutan ke Stockpile. Kehilangan ini sangat  tergantung pada hasil uji ketercucian (washability test), dimana harga perolehan (yield) ditentukan dari hasil uji tersebut sedangkan kehilangan pada saat transportasi tergantung pada volume angkut, jarak tempuh, karakteristik jalan dan kecepatan kendaraan.

Faktor-faktor pembatas pada umumnya sudah cukup jelas. Dalam penerapannya, faktor-faktor pembatas tersebut akan menjadi Pit Limit dalam penambangan. Sedangkan faktor-faktor losses diterapkan pada saat proses perhitungan cadangan, dan dapat dikuantifikasi besar nilai losses tersebut.

 

Upaya Pengurangan Tingkat Kehilangan (losses) Batubara

Upaya yang dilakukan untuk mengontrol kehilangan (losses) batubara dengan ketat dan sangat baik dengan melakukan pengawasan pada setiap proses penambangan. Komponen utama dalam pengawasan ini adalah alat ukur yang selalu dikalibrasi secara periodik dan bersama dengan pihak kontraktor. Tetapi, timbul kendala karena pada setiap proses pengawasan digunakan alat ukur dan metode pengukuran yang berbeda serta terdapat kendala kehilangan yang tidak terlihat.            Kehilangan ini dapat terjadi pada setiap proses penambangan. Kehilangan ini berbeda dengan kehilangan yang terlihat pada proses pengangkutan berupa batubara yang tercecer di jalan. Kehilangan yang tidak terlihat dapat diketahui melalui perhitungan. Perhitungan dilakukan di dua tempat, yaitu di pit dan stockpile. Untuk perhitungan di pit digunakan Rumus :

OPI + CE = CG +CPI + LC dengan :

OPI = Opening Pit Inventory

CE = Coal Exposed

CG = Coal Getting

CPI = Closing Pit Inventory

LC = Loss Coal

Untuk perhitungan di Stockpile digunakan Rumus :

OS + CG = CS +CB + LC dengan :

OS = Opening Stockpile

CG = Coal Getting

CS = Closing Stockpile

CB = Coal Barging

LC = Loss Coal

Nilai recovery tambang juga dipengaruhi oleh proses pemberaian. Jika dalam kenyataan proses pemberaian juga dilakukan terhadap batubara yang sebelumnya dimodelkan sebagai waste, maka recovery penambangan akan tinggi. Hal ini tentu saja sesuai dengan kaidah konservasi. Tingginya recovery juga dapat disebabkan penebalan lapisan batubara yang tidak teramati pada saat eksplorasi, perbedaan kondisi model dan kondisi nyata di lapangan.

Proses selanjutnya setelah pemberaian adalah pemuatan dan transportasi. Untuk proses ini kontraktor tambang harus berusaha mengurangi losses dengan cara membatasi timbunan di dalam dump truck sehingga batubara tidak mudah jatuh tercecer di perjalanan menuju tempat crushing, menetapkan batas kecepatan dump truck dan memasang rambu kecepatan di jalan tambang. Jarak pengangkutan juga dapat diperpendek dengan cara membuat jalan yang lebih lurus agar tercapai efisiensi. Selain faktor efisiensi jalan yang lurus juga diharapkan mengurangi resiko dari faktor keamanan.

Dengan pengawasan yang ketat pada setiap tahapan penambangan meliputi pengawasan pada tahapan Penyelidikan Umum, Eksplorasi, Penambangan, Pengangkutan, Pengolahan/Pemurnian dan Pasca Tambang serta penerapan metode penambangan yang baik diharapkan terjadi pengurangan tingkat kehilangan menjadi maksimal 2% pada masing-masing tahapan kegiatan penambangan batubara di Provinsi Bengkulu.

 

Kesimpulan

Upaya konservasi batubara dapat dilakukan dengan pengurangan kehilangan (losses) batubara. Untuk memaksimalkan upaya tersebut maka dapat dilakukan langkah ; perhitungan  secara detail sumber daya dan cadangan batubara yang ditinjau setiap tahunnya, penerapan metode pemberaian dan penambangan yang memaksimalkan pengambilan cadangan yang tertinggal, penerapan metode pengolahan dan pengangkutan batubara yang meminimalkan kehilangan/ceceran batubara serta selalu dilakukan pengawasan ketat untuk mengurangi losses maksimal 2% .

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. Ir. Urip Santoso, S. IKom.,   M.Sc., Ph.D yang telah memberikan pengetahuan mengenai Penyajian Ilmiah dan Bapak M. Ikhwan Salam, Kepala Bidang Pengusahaan Pertambangan dan Energi Dinas ESDM Provinsi Bengkulu yang memberikan bantuan berupa bahan bacaan dan literatur sehingga tulisan ini dapat terselesaikan.

Daftar Pustaka

1.        Arifin, B., 2000, Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia, Erlangga, Jakarta

2.        Ishlah, T. dan Fujiono, H., 2004,  Evaluasi Konservasi Sumber Daya Batubara Di Sekitar Tanjung Redep Kabupaten Berau Kalimantan Timur, Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral Departeman ESDM, Jakarta

3.        Sembiring, S. F., 2009, Jalan Baru Untuk Tambang, Mengalirkan Berkah Bagi Anak Bangsa, Gramedia, Jakarta

4.        Simatupang, Marangin dan Sutaryo, 1992, Pengantar Pertambangan Indonesia, Asosiasi Pertambangan Indonesia, Jakarta

5.        Sudrajat, A.,1999, Teknologi dan Manajemen Sumberdaya Mineral, ITB, Bandung

6.        Suhala, Supriatna, A. Fatah Yusuf, Muta’alim, 1995, Teknologi Pertambangan di   Indonesia, Diskusi Panel Interaksi Pekan Interaksi Geolodi, Institut Teknologi Bandung, Bandung

7.    Suhendar, D. I., 2010, Pengawasan Konservasi Mineral dan Batubara, Direktorat Jenderal Mineral Batubara dan Panas Bumi Departemen ESDM, Jakarta

8. Suyartono, S., 2001, Hidup Dengan Batubara, Dari Kebijakan Hingga Pemanfaatan, yayasan Media Bhakti Tambang, Jakarta

9.      Suryatono, S., 2004, Good Mining Practice, Pengelolaan Pertambangan Yang Baik dan Benar, Studi Nusa,  Semarang

10.  Sutaryo, S., 1996, Potensi Sumberdaya Mineral dan Kebangkitan Pertambangan Indonesia, Asosiasi Pertambangan Indonesia, Jakarta

11. Tirasonjaya, F., 2006, Kualitas Batubara, http://ilmubatubara.wordpress.com/ 2006/09/03/kualitas-batubara.html (12 September 2010)

12. Widagdo, S., 2010, Batu Bara, Produk Strategis yang Harus Jadi Prioritas untuk Industri Nasional, http://www.indonesiaindonesia.com, (16 September 2010)

13.  Standar Nasional Indonesia., SNI 13-4726-1998. Klasifikasi Sumber Daya Mineral dan Cadangan.

14.  Standar Nasional Indonesia., SNI 13-5014-1998. Klasifikasi Sumber Daya dan Cadangan Batubara

15.  Zen, M.T., 1984, Sumberdaya dan Industri Mineral, Gajah Mada University Press, Yogyakarta

16.  _______________,2001, Konsep Rancangan Peraturan Pemerintah Tentang Konservasi Bahan Galian, Direktorat Inventarisasi Sumberdaya Mineral Departemen ESDM, Jakarta

17.  _______________, 2004, Profil Perusahaan Tambang Batubara di Propinsi Bengkulu 2004, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Bengkulu, Bengkulu

18.  _______________, 2007, Potensi dan Informasi Energi dan Sumber Daya Mineral, Pemerintah Provinsi Bengkulu Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral, Bengkulu

19.  _______________, 2009, Statistik dan Informasi Pertambangan 2009, Pemerintah Provinsi Bengkulu Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral, Bengkulu

 

One Response to “UPAYA KONSERVASI MELALUI PENGURANGAN TINGKAT KEHILANGAN (LOSSES) BATUBARA DI PROVINSI BENGKULU”

  1. anisah Says:

    thanks for your info.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s