Jurnal Bengkulu Mandiri

Membangun Bengkulu Menuju Budaya Riset

Konsumsi Protein Asal Ayam Ras June 2, 2009

Filed under: Peternakan — Urip Santoso @ 10:44 pm
Tags: ,

 Oleh: Prof. Urip Santoso

            Telah diketahui bahwa protein memegang peranan yang sangat penting bagi kesehatan manusia. Protein antara lain berperan penting dalam perkembangan sel otak, memelihara dan mengganti sel yang rusak dll. peranan ini tidak tergantikan oleh zat nutrisi lainnya. Oleh sebab itu, protein harus ada dalam makanan manusia.

            Kebutuhan protein bagi manusia berbeda-beda tergantung kepada umur, jenis aktivitas dll. menurut Winarno et al (1980) sebaiknya 25% dari kebutuhan protein dipenuhi dari hewan. Misalnya bila kita membutuhkan 51 gram protein setiap harinya (kebutuhan orang dewasa), maka protein hewaninya adalah 12,75 gram per hari denganprotein nabatinya sebesar 38,25 gram. Kebutuhan protein dari hewani ini dapat dipenuhi dari ikan atau produk air lainnya dan dari ternak. Jika target minimal konsumsi protein asal ternak sebanyak 5 gram, maka sisanya dapat dipenuhi dari ikan sebesar 7,75 gram. Ikan  selain sebagai sumber protein juga kaya akan asam lemak omega 3 yang mempunyai peranan penting bagi perkembangan sel otak, retina mata dll. disinyalir asam lemak ini dapat meningkatkan perkembangan kecerdasan anak-anak.protein asal hewan sangat penting bagi kita karena komposisi asam aminonya lebih seimbang, sumber mineral penting, dan sumber vitamin B12 yang tidak ada dalam produk nabati, dan yang penting lebih lezat. Variabilitas konsumsi sumber protein ini sangat penting untuk memberikan pengaruh suplementari yang positif. Hal ini dapat melengkapi kekurangan yang ada pada satu jenis sumber protein. Selain karena dapat menyeimbangkan asam amino yang dikonsumsi, maka dengan variabilitas tersebut, akan diperoleh keseimbangan zat gizi lainnya, mengingat sumber protein yang dikonsumsi bukanlah protein murni.

 

Protein asal Ayam Ras

 

            Kebutuhan protein asal ternak bagi masyarakat Indonesia ditargetkan sebesar 5 gram/kapita/hari yang terdiri dari daging 22 gram, telur 6 gram dan susu 6 gram per kapita per hari. Variabilitas konsumsi protein asal ternak ini perlu dilakukan, selain dapat memberikan pengaruh suplementer, untuk menghindari kebosanan, dan juga dapat menciptakan variabilitas lapangan pekerjaan. Namun, tentunya jumlah tersebut bukan merupakan harga mati. Kita bisa saja membeli sumber protein hewani yang sesuai dengan kemampuan ekonomi ini. Dari semua produk ternak, maka daging asal ayam atau unggas lainnya dan telur merupakan sumber protein yang relative lebih murah. Oleh karena itu sangatlah wajar jika konsumsi produk asal ayam meningkat  cukup tajam (Tabel I).

            Dari table I terlihat bahwa konsumsi telur meningkat dari 1,8 kg/kapita/tahun pada tahun 1985 menjadi 3,1 kg pada tahun 1996 atau naik sebesar 72%. Konsumsi daging broiler juga meningkat dari 2,0 kg pada tahun 1985 menjadi 4,9 kg atau naik sebesar 145%. Dapat dilihat bahwa konsumsi daging broiler meningkat lebih pesat daripada telur. Padahal harga telur relatif lebih murah daripada daging broiler. Prilaku konsumen ini kurang diketahui sebabnya. Ada dugaan bahwa lebih rendahnya konsumsi telur berkaitan dengan kandungan kolensterol yang tinggi pada telur. Diketahui bahwa kolesterol dapat meningkatkan kolesterol darah dan merupakan salah satu penyebab penyakit jantung koroner. Meskipun demikian, ada ahli yang membuktikan bahwa mengkonsumsi telur dalam jumlah yang wajar tidak akan menaikkan kolesterol darah.

Konsumsi daging broiler sebesar 4,9 kg ini kira-kira sudah mencapai 60,5% dari target konsumsi daging sebesar 8,1 kg. Ini menunjukkan bahwa daging broiler telah dipilih oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Jumlah konsumsi telur sebesar 3,1 kg per kapita per tahun pada tahun 1996 ini telah melebihi target minimal konsumsi telur. Mengingat telur juga merupakan sumber protein asal ternak yang murah, maka kemungkinan akan terjadi peningkatan konsumsi di masa yang akan datang. Oleh sebab itu komposisi konsumsi protein asal ternak telah diubah, dimana konsumsi telur ditargetkan menjadi 4 kg/kapita/tahun. Sementara itu, diperkirakan konsumsi daging asal ruminansia (kambing, sapi, kerbau, domba) kurang meningkat pesat dikarenakan harganya yang mahal, maka diharapkan sumber protein asal daging dapat dipenuhi dari daging ayam yang harganya lebih murah.

            Jika kita hitung konsumsi asal ayam ini secara kasar, maka ditemukan angka sebesar 3,7 gram/kapita/hari. Perlu diingat bahwa konsumsi ini belum termasuk konsumsi protein asal unggas lain seperti ayam buras, itik, angsa, entok, puyuh dll. konsumsi protein asal unggas lain ini diduga cukup banyak jumlahnya.

 

Upaya pemerataan konsumsi protein asal ayam

            Namun demikian, jika kita tinjau lebih jauh lagi, distribusi konsumsi protein asal ayam sangat lebar. Artinya angka rata-rata yang tertera pada tabel I itu tidak menunjukkan unsur pemerataan karena deviasinya yang sangat lebar. Kondisi ini dapat dimaklumi, mengigat belum adanya pendapatan yang merata. Sebagian besar masyarakat Indonesia mempunyai pendapatan menengah ke bawah. Hanya segelintir orang saja yang dapat menikmati pendapatan yang tinggi atau bahkan sangat berlebihan. Oleh karena itu, wajarlah jika terjadi banyak orang yang mengkonsumsi produk ayam secara berlebihan, namun jauh lebih banyak lagi orang-orang yang mengkonsumsi produk ini dalam jumlah sedikit, dan bahkan banyak pula yang tidak mengkonsumsinya kecuali pada pesta pernikahan.

           

 

 

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka peningkatan pemerataan pendapatan menjadi sangat mendesak untuk segera dilaksanakan baik oleh pemerintah, swata ataupun individu-individu. Sebab, tampaknya secara  umum jika pendapatan kita meningkat, maka kita cenderung untuk meningkatkan kualitas makanan yang kita konsumsi.

            Pemerataan pendapatan masyarakat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  1. pemerataan berusaha bagi masyarakat.
  2. hilangkan monopoli dalam berusaha.
  3. tingkatkan pendapatan masyarakat bawah.
  4. tingkatkan ketrampilan/pengetahuan masyarakat.
  5. ciptakan lapangan kerja yang potensial.
  6. memotivasi dan mengusahakan secara sungguh-sungguh masyarakat untuk mengembangkan kewirausahaan yang mandiri.

 

 

Produk       Tahun        
Ayam 85 90 91 92 93 94 95 96
Telur 1,8 2,2 2,3 2,3 2,4 2,2 2,3 3,1
Daging broiler 2,0 2,7 2,9 3,4 3,7 4,2 4,4 4,9

 

            Program peningkatan pemerataan pendapatan ini, harus pula diimbangi oleh program peningkatan kesadaran gizi dan pemerataan gizi. Hal ini sangat penting, karena baik masyarakat atas maupun bawah jika tidak dibekali kesadaran gizi yang tinggi maka mereka akan cenderung untuk mengkonsumsi dalam jumlah yang berlebihan bagi yang kaya, atau meskipun pendapatannya cukup mereka lebih suka membelanjakannya pada kebutuhan sekunder dan bahkan mungkin tersier. Jika kesadaran gizi tinggi maka mereka akan mengkonsumsi dalam jumlah yang wajar. Atau jika mereka telah mempunyai pendapatan yang meningkat mereka akan memprioritaskan kepada konsumsi gizi. Atau bahkan meskipun pendapannya pas-pasan mereka akan berusaha mengkonsumsinya dengan membeli produk-produk sumber protein yang murah namun baik.

            Dengan dua cara ini diharapkan terjadi keseimbangan yang baik, sehingga pemerataan gizi dapat tercapai dalam waktu yang relatif singkat terutama pada masyarakat bawah. Tugas tersebut memang tidak hanya tanggung jawab pemerintah semata, tetapi juga merupakan tanggung jawab kita semua. Terakhir saya kutip pendapat Santoso (1996), bahwa pendapatan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan gizi dan kebutuhan primer lainnya yang layak pada tahun 1996 adalah sebesar Rp. 200.000,-/kapita/bulan. Jadi jika mempunyai anak dua orang, maka pendapatan kita minimal  harus Rp. 800.000/bulannya. Hasil perhitungan ini tentunya sudah tidak layak pada tahun 2000 ini, mengingat harga barang-barang yang melambung tinggi. Namun setidak-tidaknya hal ini dapat memberikan gambaran  bahwa untuk dapat hidup layak memerlukan pendapatan yang tinggi (Poultry Indonsia, Januari 2000).

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s