Jurnal Bengkulu Mandiri

Membangun Bengkulu Menuju Budaya Riset

Tata Kerja dan Tata Cara Pelaksanaan Dewan Riset Nasional May 29, 2009

Filed under: Peraturan — Urip Santoso @ 1:50 am
Tags: , , ,

 

PERATURAN DEWAN RISET NASIONAL

Nomor : 01/DRN/PER[V11/2007

TENTANG

TATA KERJA DAN TATA CARA PELAKSANAAN DEWAN RISET

NASIONAL

DEWAN RISET NASIONAL

Menimbang                     : a. bahwa Sidang Paripuma Dewan Riset Nasional tanggal 18 Juli 2007 bertempat di Serpong

                                          telah menyempumakan Tata Kerja dan Tata Cara Pelaksanaan Dewan Riset Nasional;

                                       b.                                           bahwa sehubungan dengan tersebut huruf (a), dan dalam rangka mendukung pelaksanaan

                                          Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2005 tentanc, Dewan Riset                        Nasional, dipandang perlu mengesahkan Tata Kerja dan Tata Cara Pelaksanaan Dewan Riset        Nasional dengan Peraturan. Dewan Riset Nasional .

 

Mengingat                  :1. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2005 tentang Dewan Riset                         Nasional;

                                     2. Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi Nomor 89/M/KpN/2005 tentang Keanggotaan

                                          Dewan Riset Nasional Periode 2005‑2008;

                                     3. Peraturan Menteri Negra Riset dan Teknologi  Nomor 07/M/PER/VII/2006 tentang organi­

                                          sasi dan Tata Keria Sckretariat Dewan Riset Nasional.

 

Memperhatikan               :1.Sidang Paripuma DRN Tanggal 6 Juni 2005;

                                                                                                                                                                                                                 2.Program Keda Dewan Riset Nasional Tahun 2006;

                                     3. Sidang Paripuma DRN Tanggal 21 Desember 2006;

                                     4. Sidang Paripuma DRN Tanggal 18 Juli 2007.

 

 

                                                MEMUTUSKAN:

 

Menetapkan                       : PERATURAN DEWAN RISET NASIONAL TENTANG TATA KERJA DAN TATA

                                       CARA PELAKSANAAN DEWAN RISET NASIONAL.

                                    

PERTAMA                       : Mengesahkan Peraturan Tentang Tata Keda dan Tata Cara Pelaksanaan Dewan Riset                      Nasional

 

                                          Hasil Sidang Paripuma Dewan Riset Nasional tanggal 18 Juli 2007 di Serpong,                               sebagaimana terlampir dalam Peraturan Dewan Riset Nasional.

 

KEDUA                            : Dengan berlakunya Peraturan Dewan Riset Nasional ini, maka Keputusan Dewan Riset   

                                          Nasional Nomor : Ol/K/Kp/X/2000 tentang Tata Tertib dan Tata Kerja Dewan Riset Nasional

                                          dinyatakan tidak berlaku.

 

KETIGA                           : Peraturan Dewan Riset Nasional ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.  

 

                                                                                                                                    Ditetapkan di Jakarta

                                                                                                                                    Pada tanggal 18 Juli 2007

DEWAN RISET NASIONAL

 

                                                                WAKIL KETUA                                                  KETUA

                                                                               

                                                                                Ttd                                                          ttd

 

                                                                THOMAS DARMAWAN                  MAHDI KARTASASMITA

 

 

SEKRETARIS

 

Ttd

                                                                                                                                                                                                   (4).

TUSYA.ADIBROTO

 

S alinan Keputusan disampaikan kepada Yth

1. Menteri Negara Riset dan Teknologi;

2. Anggota Dewan Riset Nasional;

3. Dewan Riset Daerah;

4. Sekretariat Dewan Riset Nasional.

 

                                                                                                LAMPIRAN ‑ A

                                                                                                PERATURAN DEWAN RISET NASIONAL

                                                                                                NOMOR : Ol/DRN/PERIVIV2007

                                                                                                TANGGAL : 18 Juli 2007

                                                                                                                       

TATA KERJA DEWAN RISET NASIONAL

 

BAB I

 

KETENTUAN UMUM

 

Pasal 1

 

Dalam Tata, Keja ini, yang dimaksud dengan

(1).    Dewan Riset Nasional (disingkat DRN) adalah lembaga non‑struktural yang dibentuk oleh pemerintah untuk menggali pemikiran dan pandangan dari pihak‑pihak yang berkepentingan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. DRN merupakan lembaga yang independen dalam melaksanakan tugasnya.

(2).    Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (disingkat Iptek) adalah berbagai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki keterkaitan yang luas dengan kemajuan ilmu pengetalluan dan teknologi secara menyeluruh, yang berpotensi memberikan dukunlgan yang besar bagi kesejahteraan masyarakat, kemajuan bangsa, kcamanan dan ketahanan bagi perlindungan negara, pelestarian fungsi lingkungan hidup, pelestarian nilai luhur budaya bangsa, serta peningkatan kehidupan kemanusiaan.

(3).    Penelitian adalab kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperolch informasi, data dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian kebenaran atau ketidakbenaran suatu asumsi dan/atau hipotesis di bidang ih‑nu pengetahuan dan teknologi serta menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

(4).    Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk meningkatkan fungsi, manfaat, dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada atau menghasilkan teknologi baru.

(5).    Penerapan adalah pemanfaatan dari hasil penelitian, pengembangan dan/atau ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam kegiatan perekayasaan, inovasi serta difusi teknologi.

 (6).   Perekayasaan adalah kegiatan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk desain dan rancang bangun untuk menghasilkan nilai, produk dan/atau proses produksi dengan mempertimbangkan keterpaduan sudut pandang dalam konteks teknikal, fungsional, bisnis, sosial budaya, dan estetika.

(7).    Inovasiadalahkegiatanpenelitian,pengembangaan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks i1mu pengetahuan yang baru atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi.

(8).    Difusi teknologi adalah kegiatan adopsi dan penerapan hasil inovasi secara lebih ekstensif oleh penemunya dan/atau. pihak‑pihak lain dengan tujuan untuk meningkatkan daya guna potensinya.

(9).    Alih teknologi adalah pengalihan kemampuan memanfaatkan dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi antar lembaga, badan, atau orang baik yang berada di lingkungan dalain negeri maupun yang berasal dari luar negeri ke dalam negeri dan sebaliknya.

(10)   Lembaga penelitian dan pengembangan (disingkat lembaga litbang) adalah lembaga yang melaksanakan kegiatan penelitian dan/ atau pengembangan.

(11)   Badan usaha adalah badan atau lembaga berbadan hukum yang melakukan kegiatan usaha sesuai dengan peraturan perundang­undangan.

(12)   Organisasi profesi adalah wadah masyarakat ilmiah dalam suatu cabang atau lintas disiplin i1mu pengetahuan dan teknologi atau suatu bidang kegiatan profesi, yang dijamin oleh negara untuk mengembangkan profesionalisme dan etika dalam masyarakat sesuai dengan peraturan perundang‑undangan.

(13)   Pemerintuh Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas Presiden beserta para Menteri. ‑

(14)   Pemerintah Daerah adalah kepala daerah beserta perangkat daerah otonom yang lain sebagai badan eksekutif daerah.

(15)   Dewan Riset Daerah (disingkat DRD) adalah lembaga yang kegiatannya berkaitan dengan penyusunan kebijakan iptek di daerah. DRD berfungsi untuk mendukung Pemerintah Daerah melakukan, koordinasi di bidang iptek dengan daerah‑daerah lain. DRD yang dibentuk oleh Gubemur mewakili daerah di DRN.

(16)   Menteri adalah menteri yang membidangi penelitian, pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.

(17)   Hak Kekayaan Intelektual (disingkat HKI) adalah hak memperoleh perlindungan secara hukum atas kekayaan intelektual sesuai dengan peraturan perundang‑undangan.

 (18)  Gudang pakar (Brain trust) adalah analisis mendalan‑i tentang suatu permasalahan, baik yang bersifat spesifik maupun fungsional, serta rekomendasi penyelesaiannya.

(19)    Pendukung moral (Moral support) adalah suatu tindakan, baik dalam bentuk pandangan umum, partisipasi, dan sebagainya untuk mempromosikan suatu gagasan atau produk yang dihasilkan olch pihak lain, serta pemiintaan perhatian atau waming serta rekomendasi bagi pihak‑pihak tertentu tentang perlunya tindakan untuk mengatasi suatu permasalahan yang penting.

(20)   Kelompok penjajakan (Sounding board) adalah opini atau assessment tentang suatu permasalahan yang dihadapi olch suatu pihak tertentu, diminta atau tidak diminta. Opini tersebut merupakan pemikiran bagi pihak yang terlibat langsung, atau permintaan perhatian pada pihak­pihak lain yang terkait dengan permasalahan itu.

(21) Sidang Paripuma adalah pertemuan seluruh anggota DRN, yang terdiri dari sidang pleno dan dapat membentuk sidang‑sidang komisi.

 

BAB II

 

KEDUDUKAN, TUGAS, DAN FUNGS1

 

Pasal 2

 

(1)     Dewan Riset Nasional berada dibawah dan bertan‑gungjawab kepada Menteri;

(2)     Dewan Riset Nasional berkedudukan di lbukota Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Pasal 3

 

Dewan Riset Nasional mempunyai tugas

(1)     membantu Menteri dalam merumuskan arah dan prioritas utama pembangunan iptek;

(2)     memberikan berbagai pertimbangan kepada Menteri dalam penyusunan kebijakan strategis nasional ilmu pengetahuan dan teknolo‑J.

 

Pasal 4

 

(1)     Dalam melaksanakan tugasnya Dewan Riset Nasional (DRN) menyelenggarakan fungsi :

a. menyiapkan bahan masukan bagi Menteri yang berkaitan dengan perumusan kebijakan strategis nasional ilmu pengetahuan dan teknologi, pertukaran informasi kegiatan penelitian, pengembangan, dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pemberdayaan Dewan Riset Daerah (DRD);

b. menyusun Agenda Riset Nasional (ARN);

C. melakukan pengamatan dan evaluasi secara terus‑menerus terhadap perencanaan dan pelaksanaan ARN;        

d. memantau kemajuan berbagai cabang iptek dalam skala nasional maupun intemasional, kinerja prasarana iptek serta mengkaji  pengaruhnya bagi pembangunan nasional;                                                               

e. mengidentifikasikan masalah nasional yang dihadapi dan memberikan rekomendasi pemecahan masalah tersebut kepada lembaga terkait;                                                                                                          

f. menyiapkan bahan masukan bagi Menteri yang berkaitan dengan penegakan norma ilmiah riset;        

g. menyiapkan bahan masukan bagi Mented yang berkaitan dengan pengembangan sistem dan pengusulan penerima Penghargaan  Riset.

(2) Disamping fungsi sebagaimana tersebut pada ayat (1), DRN juga berfungsi sebagai gudang pakar (brains trust), kelompok penjajakan (sounding board), dan pendukung moral (moral support).

 

BAB III

 

KEANGGOTAAN DAN PENGORGANISASIAN

 

Bagian I

 

KEANGGOTAAN

 

Pasal 5

 

Keanggotaan DRN berasal dari Lembaga Penelitian dan Pengembangan Departemen, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Non Departemen, Perguruan Tinggi, Badan Usaha, Lembaga Penunjang, dan para ilmuwan lainnya yang sesuai dengan kebutuhan ditambah perwakilan DRD.

 

Pasal 6

 

(1) Keanggotaan DRN berjumlah paling banyak 100 (seratus) orang ditambah perwakilan DRD; (2) Perwakilan DRD sebagaimana dimaksud ayat (1) adalah satu orang perwakilan dari setiap DRD provinsi, berdasarkan penunjukan Gubemur; (3) DRD Kabupaten/Kota dikoordinasikan oleh DRD Provinsi.

 

Pasal 7

 

Untuk dapat diangkat sebagai Anggota DRN, seorang Calon Anggota harus memenuhi persyaratan:

a. warga negara Indonesia;

b. beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;

C. sehat j asmani dan rohani;

d. berumur minimal 35 (tiga puluh lima) tahun;

e. mempunyai kualifikasi pendidikan sekurang‑kurangnya tamat program sarjana S1 atau yang sederajat;

f. menguasai sekurang‑kurangnya I (satu) bahasa asing secara aktif;

g. memiliki keahlian, kepakaran, dan kompetensi di bidang iptek;

h. secara. nyata terbukti menaruh perhatian terhadap pembangunan iptek;

i. mempunyai waktu untuk melaksanakan tugas‑tucas DRN.

 

Pasal 8

 

AnggotaDRN diharapkan mempunyai rasa memiliki (sense ofbelonging), rasa berpartisipasi (sense ofparticipation), rasa kepekaan (sense ofresponsiveness), dan rasa tanggungjawab (sense of responsibility) yang tinggi.

 

.Bagian 2

PENGORGANISASIAN

 

Pasal 9

 

Susunan keanggotaan DRN terdiri dari

a. Ketua, merangkap anggota;

b. Wakil Ketua, merangkap anggota;

C. Sekretaris, merangkap anggota;

d. Anggota.

 

Pasal 10

 

Ketua, Wakil. Ketua, dan Sekretaris DRN dalam susunan keanggotaan DRN sebagaimana dimaksud dalam. Pasal 9, ditetapkan dan dipilih sendiri o1ch para Anggota DRN dan diatur lebih lanjut dalam Tata Cara Pelaksanaan DRN.

 

Pasal 11

 

(1) Untuk dapat diangkat sebagai Ketua, Wakil Ketua, dan Sckretaris DRN,  maka para calon tersebut harus memenuhi persyaratan yang menjamin  keberhasilan kerjanya sebagai berikut :

a. mempunyai keadaan kesehatan dan stamina yang baik;

b. mempunyai kemampuan intelektualitas;

C. mempunyai kemampuan manajerial;

d. mempunyai dedikasi;

e. mempunyai komitmen‑,

f. khusus Sekretaris DRN mempunyai dedikasi dan komitmen untuk bekerja penuh waktu dan domisili di daerah Jakarta atau sekitamya.

(2)     Tata cara pemilihan Ketua, Wakil Ketua, dan Sekretaris sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dalamTata Cara Pelaksanaan DRN.

 

Pasal 12

 

(1) Ketua DRN mempunyai tugas memimpin DRN;

(2)     Ketua DRN dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud ayat (1), mempunyai fungsi :

a. mengkoordinasikan Anggota dalam. melaksanakan fungsinya;

b. menyelenggarakan dan membina kerjasama dengan Kementerian Negara Riset dan Teknologi dan Badan/Lembaga yang bergerak dalam. bidang iptek, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, dalam rangka. pelaksanaan fungsi DRN, sesuai dengan kebijakan pemerintah dan peraturan perundang‑undangan yang berlaku;

C. melaporkan hasil pelaksanaan tugas DRN kepada Menteri.

 

Pasal 13

 

(1)     Wakil Ketua DRN mempunyai tugas membantu Ketua dalam melaksanakan tugas dan fungsi DRN;

(2)     Wakil Ketua DRN dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud ayat (1), mempuyai fungsi :

a. memimpin DRN dalam hal Ketua berhalangan;

b. melaksanakan tugas lain yang ditetapkan oleh Ketua.

 

Pasal 14

 

(1)     Sekretaris DRN mempunyai tugas membantu Ketua dalam menyiapkan pelaksanaan dan pelaporan hasil pelaksanaan sidang‑sidang DRN;

(2)     Sekretaris DRN melaksanakan tugas:

a. membina, mengawasi, dan mengendahkan Sekretariat DRN dalam melaksanakan tugasnya;

b. bertindak sebagai Sekretaris dalam. Sidang Paripurria dan Rapat Badan Pekerja;

C. mensahkan risalah Sidang Paripuma dan Rapat Badan Pekerja;

d. menandatangani surat‑surat keluar atas nama pimpinan DRN;

e. merumuskan kebijakan anggaran.

(3) Sekretaris DRN melaksanakan tugas DRN sehari‑hari penuh waktu, dan  memperoleh hak sesuai dengan peraturan perundang‑undangan yang  berlaku.

 

Pasal 15

 

(1) Dalam melaksanakan tugasnya, Anggota DRN dikelompokkan dalam Komisi Teknis;

(2) Tugas anggota sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) antara. lain:

a. berpartisipasi dalam Sidang Paripuma, rapat‑rapat Komisi Teknis, sosialisasi produk‑produk DRN, Workshop, Seminar, dan kegiatan lain yang diselenggarakan oleh DRN, serta lembaga iptek lainnya;

b. dapat menyampaikan pendapat pribadi berupa tulisan. Ilmiah populer, yang dimuat di media cetak / elektronik dengan mencantumkan namanya sebagai anggota DRN;

C. dapat menyampaikan hasil pemikirannya tentang isu aktual,     yang diadopsi oleh sedikitnya satu Komisi Teknis yang menjadi produk DRN.

 

                                                                                    Bagian 3

                                                           PEMBENTUKAN SUB UNIT ORGANISASI

 

                                                                                    Pasal 16

Dalam melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud dalam. Pasal 3 dan Pasal 4, DRN membentuk Komisi Teknis, Badan Pekerja, dan Panitia Adhoc

 

Pasal 17

 

(1) Pembentukan Komisi Teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal. 15 dilaksanakan pada Sidang Paripuma;

(2) Komisi Teknis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah sebagai berikut:

a. Komisi Teknis Ketahanan Pangan;

b. Komisi Teknis Sumber Energi Baru dan Terbarukan;

C. Komisi Teknis Teknologi dan Manajemen Transportasi;

d. Komisi Teknis Teknologi Informasi dan Komunikasi;

e. Komisi Teknis Teknologi Pertahanan dan Keamanan;

f. Komisi Teknis Teknologi Kesehatan dan Obat;,

g. Komisi Teknis Sains Dasar;

h. Komisi Teknis Sosial dan Kemanusiaan.

 

Pasal 18

 

(1) Setiap Anggota wajib menjadi salah satu anggota Komisi Teknis;

(2) Anggota Komisi Teknis tidak boleh merangkap menjadi Anggota Komisi Teknis lain, tetapi dapat mengikuti rapat‑rapat Komisi Teknis lainnya sebagai narasumber bila diperlukan;

(3) Ketua dan Wakil Ketua Komisi Teknis dipilih oleh dan dari Anggota Komisi Teknis yang bersanglcutan yang dilakukan dalam rapat Komisi Teknis;

(4) Komisi Teknis dapat merumuskan rencana kerja di bidang masing­masing;

(5) Perwakilan. Dewan Riset Daerah dapat mengikuti sidang‑sidang komisi teknis sesuai dengan kebutuhan daerahnya dalam Sidang Paripuma;

(6) Anggota DRN ex‑officio yang berhalangan hadir dapat diwakilkan.

 

Pasal 19

 

(1) Pembentukan Badan Pekerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dilaksanakan pada Sidang Paripuma;

(2) Keanggotaan Badan Pekerja terdiri dari Ketua, Wakil. Ketua, Sekretaris DRN dan Para Ketua Komisi Teknis atau perwakilan masing‑masing Komisi Teknis; ‑

(3) Ketua, Wakil Ketua dan Sekretaris juga bertindak selaku Ketua, Wakil Ketua, dan Sekretaris Badan Pekeda;

(4) Badan Pekerja mempunyai tugas:

a. menyelenggarakan pertemuan koordinasi dan hubungan antar Komisi Teknis;

b. menilai dan mengambil keputusan tentang usulan kegiatan yang sesuai dengan tugas dan ftingsi DRN;

C. merumuskan tindak lanjut keputusan Sidang Paripuma.;

d. merumuskan rencana kerja.;

e. mewakili DRN dalam hubungan kerjasama dengan lembaga/instansi di dalam dan di luar negeri;

f. apabila diperlukan Badan Pekeda dapat membentuk Panitia Adhoc;

g. mempertanggung jawabkan kegiatannya dalam Sidang Paripuma.

 

Pasal 20

 

(1) Panitia Adhoc (PAH) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16, dibentuk untuk membahas secara teknis suatu masalah aktual yang dihadapi DRN;

(2) PAH dalam melaksanakan tugasnya, mengacu kepada Kerangka Acuan Kerja yang diberikan oleh Badan Pekerja;

(3) Keanggotaan PAH terdiri dari anggota DRN dari beberapa Komisi Teknis dan pakar lain yang diperlukan;

(4) Ketua dan Wakil Ketua dipilih oleh dan dari anggota PAH;

(5) PAH melaporkan hasil kegiatannya kepada Badan Pekerja.

 

BAB IV

SEKRETARIAT

 

Pasal 21

 

(1) Dalam melaksanakan tugasnya, DRN dibantu oleh Sekretariat;

(2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Sekretariat DRN menyelenggarakan fungsi :

a. penyusunan rencana. program, anggaran dan laporan Sekretariat DRN;

b. fasilitasi penyiapan kegiatan perumusan kebijakan DRN;

c. pemberian dukungan kegiatan penyelenggaraan rapat‑rapat. dan persidangan serta memf~silitasi kegiatan hubungan antar lembaga. DRN;

d. pemberian dukungan aDRNinistratif kepada DRN;

e. pelaksanaan urusan kepegawaian, keuangan, kerumahtanggaan, keprotokolan, perlengkapan, dan ketatausahaan.

 

Pasal 22

 

(1) Organisasi dan tatakerja Sekretariat ditetapkan oleh Menteri;

(2) Sekretariat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), secara fungsional bertanggungjawab kepada DRN melalui Sekretaris DRN, dan secara administratif bertanggungjawab kepada Sekretaris Menteri;

(3) Sekretariat DRN terdiri dari.

a. Subbagian TAta Usaha;

b. Subbagian Persidangan dan Hubungan Antar Lembaga;

(4) Sekretariat DRN dipimpin oleh Kepala Sekretariat, yang diangkat dan diberhentikan oleh Menteri.

 

BAB V

TIM ASISTENSI

Pasal 23

 

(1) Disamping Sekretafiat, DRN dapat membentuk Tim Asistensi, guna membantu tugas‑tugas Komisi Teknis dan. atau Panitia Adhoc;

(2) Tim Asistensi sebagaimana dimaksud dalam. ayat (1) adalah para pakar bukan anggota DRN, yang mempunyai kompetensi sesuai yang diperlukan dalam menyelesaikan tugas Komisi Teknis dan atau Panitia Adhoc;

(3) Tim Asistensi mempunyai tugas merumuskan hasil diskusi Komisi Teknis dan. atau. Panitia Adhoc;        

(4) Tim Asistensi diangkat dan diberhentikan oleh Ketua DRN;                                                            

(5) Dalam forum rapat (Komisi Teknis dan atau Panitia Adhoc), Tim Asistensi dapat menyampaikan pendapatnya melalui anggota Komisi Teknis dan atau Panitia Adhoc, atau dapat secara. langsung apabila diminta oleh Ketua Rapat.

 

BAB VI

PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN

 

Pasal 24

 

(1) Keanggotaan DRN diangkat dan diberhentikan oleh Menteri;

(2) Keanggotaan DRN diangkat untuk masa jabatan selama 3 (tiga) tahun. dan dapat diangkat kembali untuk I (satu) kali masa jabatan berikutnya;

(3) Untuk pertama kali, pengangkatan keanggotaan DRN dipilih dan diangkat oleh Menteri;                     

(4) Untuk selanjutnya, pengangkatan keanggotaan dilaksanakan oleh Menteri dari Calon Anggota yang diusulkan oleh DRN;      

(5) Menteri dapat menolak Calon Anggota yang diusulkan apabila tidak memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang­-undangan yang berlak‑u.

        

Pasal 25

 

(1)     Apabila diperlukan, DRN dapat mengusulkan penambahan keanggotaan pada periode yang berjalan sampai berjumlah paling banyak sesuai dengan ketentuan;

(2)     Proses penambahan keanggotaan DRN sama dengan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24.

 

Pasal 26

 

(1) Calon Anggota DRN dapat diusulkan oleh masing‑masing KomisiTeknis, yang selanjutnya ditetapkan dalam rapat Badan Pekerja;

(2) Calon Anggota diusulkan oleh masing‑masing Komisi Teknis atas dasar rekomendasi dari 3 (tiga) angggota atau lebih, dan disetujui  oleh duapertiga jumlah anggota Komisi Teknis;

(3) Calon Anggota harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 Tata Kerja DRN;

(4) Penetapan Calon Anggota dilaksanakan dalam Sidang Puipuma DRN;

(5) Tata cara pemilihan an‑gota diatUr lebih lanjut dalain Tata Cara Pelaksanaan DRN;

(6) Daftar Calon Anggota yang telah diseftl Ui oleh Sidang Paripuma diusulkan kepada Menteri.

wng apabila

Pasal 27

 

(1) Selain karena berakhimya masa jabatan, keanggotaan DRN dapat berakhir apabila anggota yang bersangkutan

    a. meninggal dunia;

    b. berhenti atas kemauan sendiri;

    C. berhenti tidak atas kemauan sendiri, antara lain bagi angoota yang diangkat karena jabatannya (ex‑officio), tidak‑ memenuhi persyaratan keanggotaan DRN sebaggaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal 8, dan dinyatakan bersalah melakukan tindak­  pidana berdasarkan putusan pengadilan, yang mempunyai  kekuatan hukum yang tetap dengan ancaman pidana sekurang­-kurangnya 4 (empat) tahun penjara.

(2) Pemberhentian anggota sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) kecuali anggota ex‑officio, ditetapkan oleh Menteri atas usul DRN;

(3) Proses usul pemberhentian sebagaimana dimaksud dalam ayat (2),berjenjang mulai dari Komisi Teknis sampai Sidang Paripuma.

BAB VII

PEMBIAYAAN

 

Pasal 28

 

Sumber pembiayaan untuk mendukung DRN berasal dari:

a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Kementerian Negara Riset dan Teknologi;

b. Kerjasama dengan pihak lain, baik di dalam maupun di luar negeri yang tidak mengikat;

C. Sumber dana masyarakat yang tidak mengikat sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

d. Sumber‑sumber lain yang dimungkinkan oleh peraturan perundang‑undangan.

 

BAB VIII

 

KETENTUAN PENUTUP

 

Pasa1 29

 

Dalam keberlanjutan kinerja kelembagaan, DRN memantau kesesuaian Peraturan Presiden No. 16 Tahun 2005 dengan pekembangan keadaan.

 

Pasal 30

 

(1) Hal lain yang yang belum diatur dalam Tata Kerja ini ditetapkan dalam Tata Cara Pelaksanaan Dewan Riset Nasional;

(2) Usul perubahan Tata Kerja diajukan oleh Badan Pekerja;

(3) Usul perubahan Tata Kerja sebagaimana dimaksud ayat (2) selanjutnya diteruskan ke Sidang Paripuma DRN.

 

                                                                                                            LAMPIRAN ‑ B

                                                                                                            PERATURAN DEWAN RISET NASIONAL

                                                                                                            NOMOR : Ol/DRN/PER/VII/2007

                                                                                                            TANGGAL : 18Juli 2OO7

 

TATA CARA PELAKSANAAN DEWAN RISET NASIONAL

 

BAB I

 

PROSEDUR PEMILIHAN

CALON ANGGOTA, KETUA, WAKIL KETUA, DAN SEKRETAM

 

Pasal I

Persiapan Pemilihan Anggota

 

(1) Mengacu kepada Pasal 24 Ayat (4) Tata Kerja Dewan Riset Nasional, pengangkatan keanggotaan Dewan Riset Nasional oleh Menteri dengan mempertimbangkan usulan dari Dewan Riset Nasional (DRN);

(2) Untuk menpersiapkan keanggotaan sebagaimana dimaksud dalam ayat  (1), Badan Pekerja membentuk Panitia Adhoc, yang anggotanya terdiri dari Komisi Teknis masing‑masing satu orang, dengan tugas membantu menyiapkan daftar nama calon anggota;

(3) Daftar nama calon anggota sebagaimana dimak‑sud dalam ayat (2) berasal dari kalangan lembaga penelitian dan pengembangan, perguruan. tinggi, badan usaha/industri, dan lembaga penunjang kegiatan riset;

(4) Di dalam menyiapkan daftar nama calon anggota sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), Panitia Adhoc menyiapkan hal‑hal sebagai berikut:

a. menyempumakan kriteria pengangkatan dan jumlah anggota dengan memperhatikan sebagaimana. dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 7 Tata Kerja DRN;

b. jumlah dan perimbangan kepakaran anggota dalam setiap KomisiTeknis;

C. pengumpulan dokumen yang diperlukan sebagai persyaratan pemilihan calon anggota, seperti riwayat hidup, pendidikan dan  karir;

d. mempersiapkan daftar nama calon an‑gota lengkap;

e. menyusun dan menyiapkan acara pengukuhan angoota baru dan acara puma bhakti bagi anggota yang telah selesai tugasnya.

Pasal 2

Prosedur Pemilihan Calon Anggota

 

(1)     Calon Anggota diusulkan oleh masing‑masing Komisi Teknis atas dasar rekomendasi dari 3 (tiga) anggota atau lebih, dan disetujui oleh setengah jum‑lah ditambah satu orang anggota Komisi Teknis;

(2)    Daftar calon sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri dari anggota DRN periode yang berjalan, calon anggota baru dan pejabat yang karena jabatannya (ex‑officio);

(3)     Setelah pencalonan anggota disetujui oleh Komisi Teknis, daftar nama calon diajukan dalam Sidang Paripuma;

(4)     Daftar calon yang telah disahkan oleh Sidang Paripuma. diajukan kepada Menteri.

 

Pasal 3

Prosedur Pemilihan Ketua, Wakil Ketua, dan Sekretaris

 

Prosedur pemilihan Ketua, Wakil Ketua, dan Sckretaris sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 Tata Kerja DRN diatur sebagai berikut:

a. Pemilihan Ketua, Wakil Ketua, dan Selcretaris dilaksanakan dalam Sidang Paripuma;

b. Sebelum ditetapkan Ketua, Wakil Ketua, dan Sekretaris, Sidang Paripuma dipimpin olch Anggota Tertua dan Anggota Tennuda;

C. Proses pemilihan sebagaimana dimaksud dalam huruf a diadakan secara berurutan untuk memilih Ketua, Wakil Ketua, dan Sekretaris;

d. Setiap Calon Ketua, Wakil Ketua, dan Selaetatis yang diusulkan kepada Sidang Paripuma, dirckomendasikan oleh 3 (tiga) anggota atau lebih;

e. Pemilihan calon dilakukan oleh anggota yang hadir secara. langsung, bebas, dan rahasia;

f. Calon terpilih adalah Ketua, Wakil Ketua dan Sekretaris yang mendapat suara. terbanyak;

g. Calon terpilih kemudian ditetapkan dan disahkan sebagai Ketua, Wakil Ketua, dan Sekretaris.

 

Pasal 4

Pengisian Lowongan Ketua

 

(1) Apabila Ketua berhalangan tetap maka tugas Ketua akan dilaksanakan olch Wakil Ketua sebagai pejabat Ketua sampai dengan terpilihnya Ketua;

(2) Apabila Ketua dan Wakil Ketua berhalangan tetap, maka tugas Ketua dan Wakil Ketua dijabat oleh Ketua Komisi Teknis yang paling senior, sampai dengan terpilihnya Ketua dan Wakil Ketua;

(3) Pemilihan Ketua/Wakil Ketua dilaksanakan dalam Sidang Paripuma;

(4) Setiap Calon Ketua/ Wakil Ketua yang diusulk‑an kepada Sidang Paripuma, direkomendasikan oleh 3 (ti ‘ga) anggota atau lebih;

(5) Pemilihan calon dilakukan oleh angoota yang hadir secara Iangsung, bebas dan rahasia;

(6) Calon terpilih adalah Ketua/Wak‑il Ketua yang mendapat suara terbanyak;

(7) Calon terpilih kemudian ditetapkan dan disahkan. sebagai Ketua/Wakil Ketua.

 

Pasal 5

Pengisian Lowongan Sekretaris

 

(1) Apabila Sekretaris berhalangan. tetap, maka Badan Pekerja segera menunjuk salah seorang Anggota untuk melaksanakan tugas Sekretaris sampai dengan terpilihnya Sekretaris;

(2) Pemilihan Selcretaris dilaksanak‑an dalam Sidang Paripuma;

(3) Setiap Calon Sekretaris yang diusulkan kepada Sidang Paripuma, direkomendasikan oleh 3 (tiga) anagota atau lebih;

(4) Pemilihan calon dilakukan oleh angoota yang hadir secara Iangsung, bebas, dan rahasia;

(5) Calon terpilih adalah Sekretaris yang mendapat suara terbanyak;

(6) Calon terpilih kemudian ditetapkan dan disahkan sebagai Sekretaris.

 

Pasal 6

Pengisian Lowongan Ketua Komisi Teknis

 

(1) Apabila Ketua Komisi Teknis berhalangan tetap, maka tugas Ketua Komisi Teknis akan dilaksanakan oleh Wakil Ketua Komisi Teknis sebagai pejabat Ketua Komisi Teknis sampai dengan terpilihnya Ketua Komisi Teknis;

(2) Pemilihan Ketua Komisi Teknis dilaksanak‑an dalam Rapat Komisi Teknis;

(3) Pemilihan Ketua Komisi Teknis dilak‑ukan oleh anggota yang hadir secara langsung.

 

BAB II

SIDANG DAN RAPAT

 

Pasal 7

Jenis Sidang dan Rapat

 

Sesuai dengan bidang tugas dan kewenangannya sidang dan rapat terdiri atas:

a. Sidang Paripuma;

b Rapat Badan Pekerja;

C. Rapat Komisi Teknis;

d. Rapat Antar Komisi Teknis;

e. Rapat dengan Dewan Riset Daerah;

f. Rapat Panitia Adhoc.

 

Pasal 8

Sidang Paripuma

 

(1) Sidang Paripuma DRN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf a mempunyai otoritas tertinggi;

(2) Dalam Sidang Paripuma dibahas masalah‑masalah antara lain pemilihan Pimpinan (Ketua, Wakil Ketua, dan Sekretaris), pembentulcan Komisi  Teknis, pembentukan Badan Pekerja, Rencana Kerja, Laporan Badan Pekerja, Laporan Selcretaris, dan produk‑produk DRN;

(3) Sidang Paripuma dipimpin oleh Ketua DRN; dalam hal Ketua berhalangan, sidang dipimpin oleh Wakil Ketua;

(4) Setiap Anggota wajib mengikuti kegiatan Sidang Paripuma;

(5) Dalam Sidang Paripuma, setiap anggota mempunyai hak yang sama, yaitu:

a. hak suara;

b. hak bicara dan mengeluarkan pendapat;

C. hak usul dan menyokong usul perubahan suatu rancangan yang sedang dibahas, hak memilih dan dipilih sebagai Ketua, Wakil Ketua, dan Sekretaris,

d. hak memilih dan dipilih sebagai Ketua dan Wakil Ketua Komisi Teknis;

(6) Sidang Paripuma diselenggarakan paling sedikit 2 (dua) kali dalam satu tahun.

 

Pasal 9

Rapat Badan Pekerja

(1) Rapat Badan Peker a sebagaimana. dimak‑sud dalam Pasal. 7 huruf b, 

membahas masalah‑masalah antara lain:

a. merumuskan. tindak lanjut keputusan Sidang Paripuma;

b. menyelenggarakan koordinasi dan hubungan antar Komisi Teknis;

C. menilai dan mengambil keputusan mengenai Usulan kegiatan yang sesuai dengan tugas dan fungsi DRN;

                                                                                                                                 I

d. merumuskan rencana kerja;

e. mewakili DRN dalam hubungan kerjasama dengan lembaga iptek, di dalam negeri dan di Mar negerl

f. apabila. diperlukan, dapat membentuk Panitia. Adhoc;

g. mempertanggungjawabkan kegiatannya dalam Sidang Paripuma.

(2) Rapat Badan Pekerja diadakan paling sedikit satu kali dalam satu bulan atau sesuai den‑an kebutuhan;

(3) Rapat Badan Pekerja dipimpin oleh Ketua DRN. Dalam hal Ketua DRN berhalangan, sidang dipimpin oleh Wakil Ketua.

                                                                                                                                

Pasal 10

Rapat Komisi Teknis

 

(1) Rapat Komisi Teknis sebagaimana dimaksud Pasal 7 huruf c, membahas pelaksanaan tugas Komisi Teknis masing‑masing sesuai bidangnya;

r(2) Rapat Komisi Teknis diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan dan dipimpin olch Ketua Komisi Teknis; dalam hal Ketua Komisi Teknis berhalangan, rapat dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi Teknis; dalam hal anggota ex‑officio berhalangan hadir, dapat diwakilkan;

(3) Komisi Teknis dapat mengikutsertakan instansi Pemerintah baik pusat maupun daerah, lembaga penelitim dan pengembangan, organisasi dan/atau pihak‑pihak lain yang dipandang perlu sesuai dengan topic pembahasan;

(4) Dalam menyelesaikan tugasnya, Komisi Teknis dapat dibantu oleh Tim Asistensi;

(5) Tim Asistensi sebagaimana dimakstid dalam ayat (4), adalah para pakar non anggota DRN yang mempunyai kompetensi sesuai yang  diperlukan.

 

Pasal 11

Rapat Antar Komisi Teknis

 

(1) Apabila suatu permasalaban harus diselesaikan terkait dengan lebih dari satu Konfisi Teknis, maka dapat diadakan rapat antar Komisi Teknis atau dibentuk Panitia Adhoc;

(2) Rapat antar Komisi Teknis diadakan sesuai kebutuhan.

 

Pasal 12

Rapat Dengan DRD

 

(1)     Pada dasamya DRD berpartisipasi dalam Sidang Paripuma, dan dapat mengikuti sidang‑sidang Komisi Teknis sesuai dengan kebutuhan daerahnya;

(2)     Badan Pekerja DRN dapat mengadakan rapat dengan DRD;

(3)     Rapat dimaksud sebagaimana dalam ayat (2) diselenggarakan untuk membahas antara lain pembangunan iptek daerah.

 

Pasal 13

Rapat Panitia Adhoc

 

(1)    Rapat Panitia Adhoc (PAH) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf f menyusun penyelesaian masalah‑masalah khusus yang sudah ditetapkan oleh Badan Pekerja;

(2)     Sasaran, kurun waktu, dan biaya kegiatan PAH diatur dalam Kerangka Acuan Kerja yang disiapkan oleh Badan Pekerja;

(3)     Jika diperlukan PAH dapat dibantu oleh Tim Asistensi;

(4)     PAH melaporkan hasil ker anya kepada Badan Pekerja..

 

Pasal 14

Pengambilan Keputusan

 

(1)    Pengambilan keputusan dilakukan dengan mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat. Jika tidak tercapai mufakat, keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak dengan cara yang disepakati oleh sidang;

(2)     Keputusan DRN adalah keputusan konsensus berdasarkan norma ilmiah;

(3)     Setiap keputusan, baik hasil musyawarah untuk mufakat maupun berdasarkan suara terbanyak, harus diterima dan dilaksanakan dengan kesungguhan, keikhlasan hati, dan kejujuran.

 

 

Pasal 15

Tata Tertib Rapat

 

(1) Undangan dan bahan rapat/sidang disampaikan kepada anggota paling lambat satu minggu sebelum pelaksanaan rapat/sidang;

(2) Sebelum menghadiii rapat/sIdang, setiap anggota wajib menandatangani daftar hadir;

(3) Apabila pada jam dimulai rapat/sidang, masih banyak anogota yang belum hadir maka pimpinan rapat/sidang dapat menunda paling lama 1 (satu) jam, dan kemudian rapat/sidang dilanjutkan.

 

Pasal 16

Risalah Rapat

(1) Risalah rapat, mencantumkan:

a. hari/tanggal rapat dan jam dibuka serta dituttipnya rapat;

b. tempat dan acara rapat;

C.  Pemimpin Rapat;

d. nama‑nama yang hadir dan yang tidak hadir;

e. nama‑nama pembicara dan pendapat masing‑masing;

f. keterangan‑keterancran tentang putusan/kesiMpLilan;

(2) Risalah rapat disahkan oleh Sekretatis, dan dismpaikan kepada para Anggota.

 

Pasal 17

Pengelolaan Keputusan DRN

 

(1) Keputusan DRN disahkan dalam Sidang Paripuma;

(2) Keputusan DRN sebagaimana ayat (1) menjadi dokumen atau informasi resmi produk DRN;

(3) Keputusan DRN sebagaimana dimaksud ayat (2) disimpan dalam bentuk soft copy dan hard copy di Sekretariat DRN;

(4) Keputusan resmi DRN dipublikasikan, didiseminasikan dan disosialisasikan kepada berbagai pihak terkait setelah mendapat persetujuan dari Pimpinan DRN;

(5) Proses publikasi, diseminasi, dan sosialisasi difasilitasi oleh Sela‑etariat DRN.

 

BABIII

KETENTUAN PENUTUP

 

Pasal 19

Hal lain yang belum diatur dalam Tata Cara Pelaksanaan ini akan diatur oleh Ketua DRN.

 

21

 

One Response to “Tata Kerja dan Tata Cara Pelaksanaan Dewan Riset Nasional”

  1. gameskillz Says:

    Killzone 2 – the best PS3 game yet?Still LittleBigPlanet for me, but Sony’s new shooter is mightily impressive.
    What you think about my web? http://www.easyfaxlesspaydayloan.com/payday-loans-online.html


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s