Jurnal Bengkulu Mandiri

Membangun Bengkulu Menuju Budaya Riset

Potensi dan Arah Penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan di Propinsi Bengkulu May 24, 2009

Filed under: SDA & LH — Urip Santoso @ 12:32 am
Tags: , , , ,

Oleh: Prof. Ir. Urip Santoso, S.IKom., M.Sc., Ph.D.

Di Indonesia banyak kebijakan yang dibuat oleh pengambil kebijakan tidak didasarkan kepada hasil penelitian yang mendalam. Akibatnya banyak kegiatan atau proyek yang mubazir, alias tidak bermanfaat sama sekali bagi sasaran, alias sia-sia. Penelitian yang mendalam sangat penting bagi para pengambil kebijakan, agar keputusan atau kebijakan yang dibuat menjadi akurat ketika dilaksanakan. Memang, tampaknya penelitian dalam jangka pendek hanya membuang anggaran dan tampak tidak efisien. Akan tetapi jika kita teliti secara jangka menengah atau panjang akan nyata bahwa penelitian yang akurat itu akan mengefisienkan dan mengefektifkan kegiatan atau proyek yang dilaksanakan. Mengapa? Karena kegiatan yang dikerjakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau stakeholders. Atau dapat dinyatakan tepat sasaran. Selain tepat sasaran, penelitian yang akurat akan mengefisienkan kegiatan atau proyek tersebut, sebab dengan penelitian tersebut akan dapat dihindari hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Nah, pola pikir bahwa penelitian adalah ujung tombak dari sebuah kegiatan harus disosialisasikan dan diinternalisasikan kepada para pengambil kebijakan, agar dalam membuat keputusan atau kebijakan tidak serampangan. Banyak contoh tata ruang yang dibuat seringkali tidak mengacu kepada hasil penelitian, tetapi berdasarkan keinginan para pengambil keputusan. Jikapun tata ruang sudah disusun berdasarkan studi yang mendalam jika itu tidak sesuai dengan keinginan para pengambil keputusan, maka mereka tidak mengacu tata ruang tersebut. Sungguh, ini merupakan pola piker yang sangat berbahaya bagi kelangsungan ekosistem di alam raya ini. Banyak contoh yang dapat saya ajukan. Pembangunan terowongan di Kota Bengkulu ini tidak didasarkan kepada hasil penelitian, karena hasil kajian yang dilakukan oleh Balitbang Propinsi Bengkulu tidak merekomendasikan hal itu. Tapi toh sang pengambil kebijakan tetap saja melaksanakan proyek itu dengan alas an ini untuk mengukir sejarah. Kini, pembangunan terowongan mandeg dan telah banyak merugikan masyarakat. Contoh lain ketika ada bantuan bibit melinjo di suatu daerah. Apa yang terjadi? Masyarakat tidak mau menanam dan memelihra bibit melinjo itu karena mereka tidak membutuhkannya. Mereka butuh tanaman lain yang sudah terbukti sangat cocok untuk daerah tersebut. Tidak tepatnya proyek ini karena tidak didasarkan kepada penelitian yang mendalam baik dari sisi fisik maupun aspek sosial-budaya. Contoh lain adalah ketika suatu departemen memberi bantuan sapi kepada para nelayan. Banyak sapi yang dalam sekejap hilang, karena dijual. Banyak juga yang mati karena para nelayan kurang berminat dan tidak tahu bagaimana memelihara sapi. Ini juga termasuk contoh bantuan yang tidak didasarkan kepada penelitian. Jadi jelas bahwa penelitian sangat penting dalam pengambilan keputusan dalam kegiatan apapun. Pertama-tama yang harus kita teliti adalah mengenai potensi suatu daerah. Potensi daerah harus diteliti dari berbagai segi, sehingga kita dapat dengan tepat memberikan rekomendasi potensi daerah yang dapat dikembangkan. Potensi daerah yang diteliti meliputi ipoleksosbudhankam. Setelah kita mengidentifikasi potensi daerah, langkah selanjutnya adalah menentukan arah penelitian yang menjadi prioritas di daerah tersebut. Arah penelitian inilah yang dapat dijadikan salah satu unsur dalam pengambilan keputusan di daerah tersebut. Makalah ini akan mencoba membahas potensi dan arah penelitian sumberdaya alam dan lingkungan di Propinsi Bengkulu. Makalah yang saya sampaikan ini tentu saja masih sangat dangkal karena baru didasarkan kepada data sekunder.

1) Kehutanan

Hutan di Propinsi Bengkulu terus menurun dari tahun ke tahun. Hanya kabupaten Lebong yang hutannya relatif masih cukup terjaga, sedangkan kabupaten lain hutannya sebagian besar telah rusak. Bengkulu sebagai salah satu propinsi yang mempunyai TNKS sesungguhnya kaya akan keanekaragaman hayati. Sayangnya seiring dengan semakin banyaknya tingkat kerusakan hutan maka semakin banyak pula keanekaragaman hayati yang terancam punah atau bahkan mungkin sudah punah tanpa kita ketahui. Ambil contoh, hutan di sekitar Danau Dendam telah banyak yang dikonversikan. Akibatnya debit air danau tersebut turun. Turunnya jumlah air yang ada di danau itu mengancam sawah-sawah penduduk di sekitarnya. Selain itu, anggrek pensil yang merupakan tumbuhan endemik di daerah itu sudah sangat jarang ditemukan. Mengingat fungsi hutan itu sangat penting bagi kelangsungan hidup, maka pembangunan yang dilakukan baik oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat sebaiknya memperhatikan aspek lingkungan. Oleh sebab itu, arah penelitian di bidang kehutanan antara lain: a) analisis sosial budaya sebab-sebab kerusakan hutan. b) luas hutan yang diperlukan dalam suatu wilayah terkait dengan fungsi hutan. c) model pemulihan hutan di Propinsi Bengkulu. d) kompleksitas pengendalian kerusakan hutan di Propinsi Bengkulu. e) potensi hutan sebagai penyedia oksigen. f) penerapan peraturan daerah dan pusat terhadap para pelanggar hutan (ilegal logging, perambah hutan dll). g) kajian zona ekonomi berbasis kerakyatan bagi masyarakat di sekitar hutan. h) kajian pelaku perusak hutan di Bengkulu. i) kajian kearifan lokal terkait dengan pelestarian hutan. j) dan lain-lain.

2) Konservasi

Sebagai akibat pembangunan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan, maka diidentifikasikan bahwa terjadi penurunan keanekaragaman hayati di propinsi Bengkulu. Praktek budidaya monokultur menyebabkan sebagian flora dan fauna serta mikrobia punah atau menjadi langka. Contohnya, kantong semar yang dahulu sangat banyak dijumpai di Bengkulu sekarang menjadi sedikit jumlah dan jenisnya. Beberapa jenis kantong semar sudah sulit dijumpai. Kegiatan pembukaan lahan yang kurang ramah lingkungan seperti lahan disemprot dapat menyebabkan telur-telur dan flora lainnya menjadi tidak berkembang. Satwa liar menjadi menurun dan kemudian masuk kriteria dilindungi. Satwa-satwa tersebut antara lain badak Sumatera, gajah Sumatera, harimau Sumatera, tapir, beruang madu, rusa sambar, napu, rangkong, siamang, kuao, walet hitam, penyu belimbing serta kura-kura. Ada delapan jenis kura-kura yang ada di Bengkulu yaitu kura nanas, kura garis hitam, kura patah dada, beiyogo, baning coklat, labi-labi hutan, kura pipi putih dan bulus. Baning coklat berstatus dilindungi dan sudah terancam punah. Flora langka yang ada di Bengkulu adalah Raflesia arnoldi, bunga bangkai dan anggrek pensil. Sebagian besar dari kita kurang menyadari bahwa keanekaragaman hayati itu sangat berguna bagi keseimbangan ekosistem pada suatu wilayah. Punahnya sebagian hayati di suatu tempat akan memunahkan sebagian lainnya dan akhirnya punahnya ekosistem itu sendiri. Punahnya ekosistem yang seimbang akan berakibat lebih lanjut berupa ancaman yang tidak terkira seperti rawannya sumber pangan, banjir, produksi oksigen dan lain-lain. Jadi pada akhirnya juga kerusakan ekosistem akan dirasakan oleh manusia itu sendiri. Beberapa arah penelitian yang terkait dengan upaya konservasi keanekaragaman hayati antara lain: a) upaya konservasi in-situ anggrek pensil. b) upaya konservasi ex-situ anggrek pensil. c) upaya konservasi in-situ bunga Raflesia. d) upaya konservasi ex-situ bungan Raflesia. e) kajian aspek sosial dan budaya masyarakat di sekitar wilayah konservasi. f) model wilayah konservasi g) upaya konservasi fauna langka di Propinsi Bengkulu. h) kajian kearifan lokal terkait dengan konservas flora dan fauna. i) dan lain-lain.

3) Pendidikan lingkungan

Pendidikan akan mempengaruhi pola pikir dan perilaku individu, kelompok maupun masyarakat. Dalam upaya pelestarian sumber daya alam dan lingkungan, maka sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai lingkungan perlu dilakukan bagi manusia pada berbagai tingkat umur, pendidikan dan latar belakang lainnya. Pendidikan lingkungan yang bagaimana agar mengenai sasaran perlu dikaji. Beberapa penelitian yang terkait dengan hal ini antara lain: a) model kurikulum pendidikan lingkungan di tingkat SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi. b) model pendidikan lingkungan bagi masyarakat. c) model pendidikan lingkungan bagi para tokoh masyarakat dan pejabat. d) kajian faktor-faktor penghambat pendidikan lingkungan. e) kajian kearifan lokal yang terkait dengan lingkungan. f) kajian tentang pengetahuan, persepsi, sikap dan perilaku masyarakat terhadap pelestarian lingkungan.

4) Potensi sumber daya alam

Untuk memahami sumber daya alam mana yang dapat dikembangkan oleh pengambil kebijakan, kita perlu mengetahui dan mengevaluasi potensi sumber daya alam. Tanpa kajian tentang potensi yang menyeluruh, kita dapat mengambil keputusan yang justru membahayakan bagi kelestarian lingkungan dan tidak ekonomis. Contoh! Jika kita lihat atau baca sepintas, kita kaya akan sumber panas bumi. Lalu kita katakan bahwa Bengkulu dapat mengembangkan sumber panas bumi sebagai energi alternatif. Akan tetapi jika kita kaji lebih mendalam akan terlihat bahwa sumber panas bumi di Bengkulu tersebar pada banyak titik. Potensi di banyak titik itu ternyata kecil dan hanya dapat dibangun suatu industri panas bumi skala kecil. Ternyata setelah dihitung lebih dalam lagi pengembangan panas bumi sebagai energi alternatif tidak efisien. Jadi jelaslah bahwa penelitian sangat penting sebagai salah satu bahan pertimbangan suatu keputusan oleh para pejabat. Jika kita kaji selintas, Propinsi Bengkulu mempunyai pantai yang panjang. Pantai yang panjang ini apakah memang potensial untuk dijadikan andalan atau tidak kita perlu meneliti secara mendalam. Jika kita hanya berdasarkan panjang pantai, bisa jadi apa yang diputuskan menjadi salah. Contohnya, daerah membangun pabrik tepung ikan, tapi kita sendiri belum mengetahui secara pasti berapa produksi ikan yang bisa dibuat tepung, kemana pasarnya dll. Akibatnya, pabrik tepung ikan yang ada di Bengkulu hanya menjadi besi tua. Demikian pula dengan nasib pabrik pakan ternak di Bengkulu. Tidak efektif. Apalagi ada kecenderungan setiap kabupaten mempunyai andalan masing-masing yang satu dengan yang lain tidak terintegrasi. Jadi, penelitian yang mendalam dan menyeluruh tentang potensi kelautan dan perikanan di Bengkulu sangat penting untuk menentukan apakah memang potensi yang ada dapat dikembangkan atau tidak. Setelah memang berpotensi tinggi, baru kemudian diteliti model pengembangannya agar hasilnya efektif dan efisien. Selain potensi kelautan dan perikanan, Bengkulu mempunyai potensi perkebunan. Penelitian yang mendalam perlu dilakukan tentang potensi perkebunan yang tepat bagi suatu wilayah. Maksudnya, kajian tentang pemetaan potensi perkebunan perlu dilakukan. Cara ini akan menghindari kekeliruan dalam menentukan jenis perkebunan apa dalam suatu wilayah. Kajian yang terintegrasi (dari hulu sampai hilir) sangat diperlukan untuk menentukan jenis perkebunan mana yang paling cocok di Bengkulu. Memang di tingkat nasional telah ditetapkan bahwa Bengkulu akan dikembangkan perkebunan karet. Namun sejauh mana potensi karet di Bengkulu masih perlu dikaji. Jika memang cocok untuk karet, maka penelitian tentang karet dari hulu sampai hilir perlu dilakukan. Disini jangan dilupakan aspek lingkungan juga harus diteliti agar pengembangan perkebunan karet di Bengkulu menghasilkan dampak negatif yang minimal. Selain itu kita masih bisa mengkaji potensi SDA di Bengkulu yang bisa dijadikan andalan daerah. Kita harus hati-hati untuk menentukan SDA mana yang potensial untuk dijadikan andalan daerah. Kajian yang holistik mengenai hal ini sangat penting agar keputusan yang dibuat tidak sia-sia. Unggulan yang kita putuskan tentu saja suatu produk yang mempunyai propek baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Namanya unggulan tentu saja tidak banyak. Mungkin hanya satu atau dua dan kemudian dikembangkan secara holistik dari hulu sampai hilir. Kita dapat tentukan wilayah mana yang menjadi industri hulunya dan mana yang menjadi industri hilirnya dan kemana hasil produksi itu dipasarkan dan sebagainya. Dalam kondisi yang mengglobal ini, sudah bukan waktunya lagi untuk berpikir hanya sektoral. Meskipun kita sudah mempunyai unggulan bukan berarti kita mengabaikan potensi yang lain. Jadi barangkali berdasarkan hasil penelitian potensi daerah, kita dapat membuat skala prioritas.

 5. Limbah dan pengolahan limbah

Dalam rangka meminimalisasi dampak negatif dari limbah yang dihasilkan oleh aktivitas manusia, maka pengelolaan limbah perlu dilakukan. Sejauh mana para pelaku pembangunan memperhatikan hal ini perlu dikaji. Juga, seberapa banyak limbah yang telah dihasilkan dan pengelolaannya perlu dikaji secara terintegrasi. Dari hasil kajian ini maka akan dihasilkan rekomendasi bagaimana model pengelolaan limbah di Bengkulu. Beberapa penelitian yang dapat dilakukan antara lain: a) tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. b) tingkat kepatuhan pelaku pembangunan terhadap peraturan yang mengatur tentang pengelolaan limbah. c) perilaku individu, kelompok dan masyarakat terhadap pengelolaan sampah. d) model pengolahan sampah kota di Bengkulu. e) dan lain-lain.

6. Daerah Aliran Sungai (DAS)

Penelitian tentang kualitas DAS di Bengkulu sangat penting artinya bagi kelestarian lingkungan di Bengkulu. Untuk berbagai penelitian yang berkaitaan dengan pelestarian DAS sangat mendesak. Masih banyak lagi kajian-kajian yang harus dilakukan tentang SDA dan lingkungan di Propinsi Bengkulu ini. Kita perlu mengkaji arah prioritas penelitian di Propinsi Bengkulu sebagai bahan masukkan bagi pengambil kebijakan dalam menentukan arah pembangunan ke depan. Penelitian merupakan salah satu hal yang utama sebagai pedoman dalam melakukan pembangunan berkelanjutan. Kita semua tahu bahwa arah pembangunan yang dibuat oleh pengambil kebijakan di Propinsi Bengkulu ini masih berorientasi jangka pendek. Analisis lebih mendalam tentang potensi dan prioritas penelitian di Propinsi Bengkulu sangat diperlukan.

Daftar Pustaka

Anonimus. 1998. Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia. KLH-UNDP. Jakarta.

Anonimus. 2004. Profil Kehutanan Kabupaten Lebong. Dinas Kehutanan Lebong. Bengkulu.

Armanto, M. E. dan E. Wildayana. 1998. Analisis permasalahan kebakaran hutan dan lahan dalam pembangunan pertanian dalam arti luas. Lingkungan dan Pembangunan 18 (4): 304-318.

Rahmi, D. H. dan B. Setiawan. 1999. Perancangan Kota Ekologi. Dikti, P & K. Jakarta. Soedradjat, R. 1999. Lingkungan Hidup, Suatu Pengantar. Dikti, P & K. Jakarta.

Soemarwoto, O. 1991. Indonesia Dalam Kancah Isu Lingkungan Global. Gramedia Pustaka Utma. Jakarta.

Trihardi, B. 1997. Berbagai kegiatan yang dapat mempengaruhi kualitas air sungai di Propinsi Bengkulu: Penentuan titik-titik monitoring. Universitas Bengkulu. Bengkulu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s