Jurnal Bengkulu Mandiri

Membangun Bengkulu Menuju Budaya Riset

PERUBAHAN SIFAT-SIFAT FISIK TANAH PADA BERBAGAI UMUR PENGGUNAAN LAHAN PADA SISTEM PERLADANGAN BERPINDAH September 18, 2012

Filed under: Pertanian — Urip Santoso @ 6:55 am
Tags: , ,

Oleh    : Feri Ismanto

ABSTRAK

Pada penulisan  ini membahas lahan berdasarkan posisi lereng, yaitu posisi lereng dibagian bawah, tengah dan atas. sistem perladangan berpindah secara umum dianggap sebagai satu-satunya sistem pertanian yang sesuai dengan ekosistem hutan tropis. Sementara itu, jika dilihat dari segi ekologi sistem perladangan berpindah lebih berintregasi kedalam struktur ekosistem alami. Penggunaan lahan berpengaruh nyata pada diameter berat rata-rata (DBR), C-organik dan laju infiltrasi. Tetapi, umur penggunaan laha berpengaruh tidak nyata terhadap variabel pengamatan N-total. Sedangkan untuk posisi lereng berpengaruh tidak nyata terhadap semua variabel pengamatan yang diamati. Umur 26 tahun telah terjadi akumulasi bahan organik yang cukup tinggi dibandingkan dengan kandungan C-organik tanah pada umur lahan lainnya dan paling dekat nilainya dengan kandungan C-organik tanah pada lahan Hutan. Agregat tanah yang kuat akan mampu mempertahankan struktur tanah tetap baik, sehingga sebaran pori-pori tanah tidak udah rusak dan pada akhirnya membuat air dapat dengan mudah masuk kedalam tubuh tanah.

PENDAHULUAN

Indonesia menempati peringkat ketiga (sesudah Brazil dan Zaire) dalam kekayaan hutan hujan tropis (Sunderlin et al., 1997). Namun, luas hutan Indonesia terus menurun. Seperti halnya daerah-daerah lain di Indonesia, Bengkulu juga memiliki hutan yang sangat luas. Luas hutan bengkulu lebih dari 920 ribu hektar atau mencapai 46,54 % dari total luas daratannya (Dephut, 1999). Namun hutan yang ada di Bengkulu juga mengalami kerusakan yang cukup memprihatinkan. Kerusakan hutan di Bengkulu mencapai 300 ribu hektar yang sebagian besar diakibatkan perambahan liar oleh masyarakat dan penebangan kayu secara liar atau ilegal logging (Antara, 2010 dan Jurnal nasional, 2010).

Konversi hutan menjadi lahan pertanian khususnya pada lahan miring merupakan kegiatan yang beresiko tinggi. Karena dapat menyebabkan terjadinya penurunan kualitas tanah akibat terjadinya erosi (Khasanah et al., 2004). Oleh sebab itu kegiatan alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian mengandung resiko terjadinya perubahan sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Resiko terjadinya penurunan kualitas tanah akan semakin besar jika pada para peladang kembali membuka lahannya sebelum masa pemberaan yang ideal (10-15 tahun) (Benyamine, 2009) misalnya karena kebutuhan ekonomi yang semakin meningkat.

Hasil penelitian Suprayogo et al. (2001) menunjukkan bahwa akibat alih guna lahan hutan menjadi kebun kopi monokultur terjadi degradasi bahan organik tanah secara drastis setelah satu tahun pembukaan lahan. Perbaikan bahan organik setelah kopi umur sepuluh tahun masih belum setinggi kandungan bahan organik dilahan hutan untuk tanah lapisan atas (0-20 cm). Sedangkan ketersediaan unsur-unsur seperti N, P tersedia dan K menurun secara drastis sesaat setelah lahan hutan ditebang (Handayani dan Prawito, 2002). Sifat-sifat biologi tanah juga mengalami perubahan setelah lahan hutan dikonversi menjadi lahan pertanian. Handayani dan Prawito (2002) juga menyatakan bahwa keragaman dan populasi mikroflora tanah yang meliputi bekteri, fungi dan actinomicetes lebih tinggi pada lahan hutan dibandingkan dengan lahan yang telah mengalami deforestasi.

Seperti halnya sifat-sifat kimia dan biologi tanah, perubahan sifat-sifat fisik tanah juga terjadi akibat alih funfsi hutan menjadi pertanian. Sifat fisik tanah sangat penting tekait dengan fungsi tanah sebagai media pertumbuhan tanaman (Hanafiah, 2005). Alih fungsi lahan hutan menjadi kebun kopi monokultur dilampung barat menurunkan makroporositas tanah dan infiltrasi permukaan (Suprayogo et al., 2001). Penelitian Febriani et al., (2008) menunjukkan bahwa setelah terjadi perubahan bentuk struktur tanah pada lahan usaha tani berbasis tanaman kopi.

Perladangan berpindah (shifting cultivation) merupakan suatu sistem yang dibangun berdasarkan pengalaman masyarakat dalam mengolah lahan dan tanah yang dipraktekkan secara turun-temurun (Benyamine, 2009). Menurut Anwar (2001), bahwa dari perspektif sosial budaya, sistem perladangan berpindah secara umum dianggap sebagai satu-satunya sistem pertanian yang sesuai denga ekosistem hutan tropis. Sementara itu, jika dilihat dari segi ekologi sistem perladangan berpindah lebih berintregasi kedalam struktur ekosistem alami (Foth, 1978).

Weinstock dan sunito (1989) menyatakan bahwa para peladang berpindah melaksanakan sistem pertanian berotasi dengan masa berayang lebih lama dari pada masa tanam. Lama waktu pemberaan ini bisa mencapai 20 tahun atau lebih, namun menurut benyamine (2009) waktu bera yang ideal yaitu sekitar 10-15 tahun sebelum digunakan kembali pada masa tanam berikutnya.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa perladangan berpindah menimbulkan dampak yang positif dan negatif. Secara negatif, ladang berpindah dianggap menyebabkan penggundulan hutan dan erosi tanahyang sangat kritis. Kemudian, dari segi produktifitas dianggap lebih rendah, apalagi bila dibandingkan dengan resiko lingkungan yang akan terjadi (Benyamine, 2009). Sisi positifnya, bahwa sistem perladangan berpindah ini lebih akrab dengan sistem alami, karena mempertahankan struktur alami dari pada melakukan perubahan ekosistem yang sangat baru dan juga merupakan suatu bentuk pertanian konservasi yang lebih memperhatikan aspek kelestarian lingkungan. Pemberaan (fallow) pada perladangan berpindah merupakan salah satu bentuk kegiatan konservasi tanah, manfaatnya adalah mengurangi resikoterjadinya degradasi tanah karena diusahakan secara terus menerus untuk kegiatan sistem pertanian. Selain itu juga pemberaan akan memberikan kesempatan kepada tanah untuk mengembalikan kesempatan kepada tanah untuk mengembalikan unsur hara yang telah diserap oleh tanaman yang telah ditanam oleh petani secara alami melalui proses dekomposisi bahan organik.

Cara perladangan berpindah dengan :

  1. Tanpa olah tanah (TOT), tanah yang akan ditanami tidak diolah dan sisa-sisa tanaman sebelumnya dibiarkan tersebar di permukaan, yang akan melindungi tanah dari ancaman erosi selama masa yang sangat rawan yaitu pada saat pertumbuhan awal tanaman.  Penanaman dilakukan dengan tugal.
  2. Pengolahan tanah minimal, tidak semua permukaan tanah diolah, hanya barisan tanaman saja yang diolah dan sebagian sisa-sisa tanaman dibiarkan pada permukaan tanah.
  3. Pengolahan tanah menurut kontur, pengolahan tanah dilakukan memotong lereng sehingga terbentuk jalur-jalur tumpukan tanah atau dengan melintangkan pohon yang tidak terbakar (logs) dan alur yang menurut kontur atau melintang lereng.  Pengolahan tanah menurut kontur akan lebih efektif jika diikuti dengan penanaman menurut kontur juga yang memungkinkan penyerapan air dan menghindarkan pengangkutan tanah.

Pada praktek pembukaan ladang berpindah, padi gogo ditanam tanpa dilakukan pengolahan tanah (Evizal et al., 1997). Selain itu para peladang berpindah juga menanam tanaman keras selama 1 sampai 3 tahun, lalu lahan yang telah dibuka tersebut akan ditinggalkan (diberakan).

Penelitian Handayani dan Prawito (2002) menunjukkan bahwa lahan hutan mempunyai taraaf kesuburan yang lebih tinggi, terutama pada kandungan N-total, P-tersedia dan K. Pada lahan pasca deforestasi kandungan unsur-unsur hara tersebut menurun dengan tingkat penurunan tertinggi terjadi pada unsur K. Selanjutnya Suprayogo et al.,(2001) menyatakan bahwa tanah hutan mempunyai laju infiltrasi permukaan yang tinggi dan makroporositas yang relatif banyak, sejalan dengan tingginya aktivitas biologi tanah dan pertumbuhan perakaran tanaman. Kondisi ini mempermudah air hujan yang jatuh mengalir kedalam lapisan tanah yang lebih dalam.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi degradasi beberapa sifat-sifat fisik tanah akibat pembukaan lahan hutan. Alih fungsi lahan hutan menjadi kebun menurunkan makropositas tanah dan infiltrasi permukaan, serta tekstur tanah berubah menjadi liat (Suprayogo et al., 2001). Penelitian yang telah dilakukan khasanah et al., (2004) menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan kualitas struktur tanah sebagai akibat dari kegiatan alih guna lahan dari hutan menjadi perkebunan.

Lahan yang umur penggunaanya sesuai dengan kelompok umur penggunaan lahan yang diteliti dilokasi penelitian. Umur lahan dapat diketahui berdasarkan informasi yang diberikan oleh penggarap lahan tersebut. Pembagian kelompok lahan berdasarkan posisi lereng, yaitu posisi lereng dibagian bawah, tengah dan atas.

Pengambilan sampel tanah dilakukan pada kelompok umur penggunaan lahan dan pada posisi lereng yang berbeda. Pada masing-masing kelompok lahan terdapat tiga titik pengambilan sampel sesuai dengan posisi lereng yaitu pada posisi lereng bawah, tengah dan atas pada kemiringan lereng antara 5% – 22%. Sampel tanah yang diambil pada kedalaman 0 – 10 cm dan 10 – 20 cm baik sampel tanah utuh (diambil dengan ring sampel) maupun sampel tanah terganggu. Sampel tanah yang diambil kemudian dibawa ke laboratorium.

Variabel yang diamati adalah setelah berat volume tanah (metode ring sampel), permeabilitas tanah/K-sat (metode constant head), porositas total (metode ring sampel), stabilitas agregat (metode ayakan basah), C-organik (metode spektrofotometer), N-total (metode Kjedhal), laju infiltrasi menurut Philips (2010), kelas tekstur (metode hydrometer) dan struktur tanah.

Penggunaan lahan berpengaruh nyata pada diameter berat rata-rata (DBR), C-organik dan laju infiltrasi. Tetapi, umur penggunaan lahan berpengaruh tidak nyata terhadap variabel pengamatan N-total. Sedangkan untuk posisi lereng berpengaruh tidak nyata terhadap semua variabel pengamatan yang diamati.

Umur penggunaan lahan dan blok (posisi lereng) berpengaruh tidak nyata terhadap variabel BV, K-sat dan porositas total tanah baik pada kedalaman 0-10 cm maupun pada kedalaman 10-20 cm pada sistem perladangan berpindah di Desa puguk.

Umur penggunaan lahan pada perladangan berpindah di Desa Puguk berpengaruh nyata terhadap variabel diameter berat rata-rata (DBR) dan C-organik. DBR terbesar terdapat pada lahan Hutan yakni dengan ukuran 3,64 mm, sedangkan DBR terendah terdapat pada umur lahan 3 tahun yakni dengan ukuran 2,71 mm. Semakin besar kandungan C organik tanah maka ukuran agregat tanah juga semakin besar (Widowati, 2001 dalam Nurida dan Undang K, 2003).

Umur 26 tahun telah terjadi akumulasi bahan organik yang cukup tinggi dibandingkan dengan kandungan C-organik tanah pada umur lahan lainnya dan paling dekat nilainya dengan kandungan C-organik tanah pada lahan Hutan.  Hal ini menunjukkan bahwa pada umur 26 tahun, telah terjadi akumulasi bahan organik yang cukup tinggi diatas permukaan tanah yang bersumber dari sisa-sisa tanaman yang sudah tumbuh besar. Sedangkan pada umur lainnya (1 tahun, 3 tahun dan 10 tahun) akumulasi bahan organik yang terjadi diatas permukaan tanah masih sedkit sehingga membuat kandungan C-organik tanah menjadi rendah.

Rata-rata laju infiltrasi dan N-total
Umur penggunaan lahan

Laju infiltrasi (cm menit-1)

N total (%)

1 tahun

1,04 b

0,16

3 tahun

1,07 b

0,14

10 tahun

1,21 ab

0,23

26 tahun

1,19 ab

0,16

Hutan

1,33 a

0,21

Keterangan : Menunjukkan berbeda nyata

Laju infiltrasi tertinggi (1,33 cm menit-1) terjadi pada lahan hutan. Sedangkan, laju infiltrasi terendah terjadi pada lahan 1 tahun (1,04 cm menit-1). Tingginya infiltrasi pada lahan hutan karena pada lahan hutan banyak mengandung bahan organik tanah yang mempunyai peran untuk memantapkan ikatan antar agregat tanah baik mikro, meso atau makroagregat (Nurida dan Undang K., 2003).

Agregat tanah yang kuat akan mampu mempertahankan struktur tanah tetap baik, sehingga sebaran pori-pori tanah tidak udah rusak dan pada akhirnya membuat air dapat dengan mudah masuk kedalam tubuh tanah (Juanda et al., 2003).

Berat volume tanah yang telah diketahui dapat digunakan untuk mengevaluasi kemungkinan akar tanaman untuk menembus tanah dengan asumsi bahwa pada tanah-tanah dengan berat volume tinggi akar tanaman tidak dapat menembus lapisan tanah (Hardjowigeno, 2007).

Permeabilitas tanah sangat dipengaruhi oleh tekstur dan struktur tanah, semakin halus partikel tanah dan tidak setabilnya agregat tanah maka semakin rendah kemampuan tanah melewatkan air dibandingkan tanah bertkstur kasar dan stabil. Tekstur yang halus akan menyediakan partikel-partikel halus untuk mengisi pori, sedangkan agregat yang tidak stabil akan cenderung melepaskan partikel-patikel halus tersebut dari ikatannya di dalam agregat (Hermawan, 2003).

permeabilitas tanah tertinggi tedapat pada lahan umur 26 tahun pada kedalaman 0-10 cm. Sementara yang terendah terdapat pada lahan umur 10 tahun pada kedalaman 0-10 cm. Hal ini bisa terjadi karena pada lahan umur 26 tahun sifat sifat tanah mulai membail. Kandungan bahan organik tanah semakin meningkat seiring denagn semakin banyaknya sisa tanaman yang berasal dari tanaman yang tumbuh besar. Akar tanaman yang mati akan terdekomposisi didalam tanah akan membentuk pori makro didalam tanah. (Afandi et al., 1998 dalam  Gonggo et al., 2003) sehingga air dengan mudah dapat melewati tubuh tanah. Sedangkan pada lahan umur 10 tahun meskipun tanaman mulai tumbuh besar tetapi belum bisa meningkatkan kemampuan tanah untuk melewatkan air.

Kelas tanah didominasi oleh kelas lempung. Menurut Hanafia (2005) bahwa berdasarkan kelas teksturnya maka tanah digolongkan menjadi tanah menjadi tanah berstektur kasar, sedang dan halus. Tekstur tanah lempung (loam) dan lempung berdebu (silty loam)  termasuk dalam tanah berstekstur sedang dan tekstur tanah lempung liat berpasir (sandy clay loam) termasuk dalam golongan tanah berstektur sedang tapi agak halus.

KESIMPULAN

Dari penulisan ini dapat disimpulkan bahwa

  1. Kandungan C-organik tanah pada umur lahan 26 tahun sebesar 5,61 % mendekati kandungan C-organik pada lahan hutan yakni sebesar 6,38 %
  2. Laju infiltrasi pada umur lahan 10 tahun sebesar 1,21 cm menit-1, mendekati laju infiltrasi tertinggi pada lahan hutan sebesar 1,33 cm menit1.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen yang telah melatih kami untuk melulisi yang membuat saya tertarik untuk menulis karya ilmiah.

DAFTAR PUSTAKA

Antara. 2010. Kerusakan Hutan Bengkulu Capai 300 Ribu Hektar. http://lowongankerjamu.com/search/antara+news+kerusakan+hutan+bengkulu+capai+300+ribu+hektare/.1 april 2010

Anwar, C. 2001. Manajemen dan teknik budidaya karet.

Benyamine, H. E. 2009. Perladangan Berpindah: Bentuk Pertanian Konservasi Pada Wilayah Tropis Basah.

Departemen Kehutanan. 1999. Luas Kawasan Hutan Dan Perairan Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan.

Evizal, R., S. Ramli dan Sugianto. 1997. Sistem Olah Tanah di Sela Perkebunan Kelapa Untuk Menanam Padi gogo. Jurnal Tanah Tropika II (4):145-150

Febriani, L. 2007.Karakteristik Sifat Fisik Tanah di Gawangan Tanaman Karet: Perbedaan Antar Jenis Tanaman Penutup Tanah. Skripsi. JurusanBudidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu, Bengkulu

Gonggo, B., B. Hermawan dan D. Anggraeni. 2003. Pengaruh jenis tanaman penutup dan pengolahan tanah terhadap sifat fisika tanah pada lahan alang-alan. JIPI 7(1):44-50

Hanafiah. K. A. 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Handayani, I. P., dan P. Prawito. 2002. Lahan Paska. Deforestasi diBengkulu, Sumtera: i. Kajian Mikroflora Tanah dan Evolusi Karbondioksida. JIPI 4(1): 1-9.

Hardjowigeno, S. 2007. Ilmu Tanah. Edisi Baru. Akademika Pressindo, Jakarta.

Juanda, D., N. Assa’ad dan Warsana. 2003. Kajian Laju Infiltrasi dan Beberapa Sifat Fisik Tanah Pada Tiga Jenis Tanaman Pagar Dalam Sistem Budidaya Lorong. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 4(1):25-31

Jurnal Nasional. 2010. Kerusakan Hutan Bengkulu capai 300 ribu hektare.

Khasanah, N., B. Lusiana, Farida dan M.V. Noordwijk. 2004. Simulasi Limpasan Permukaan Dan Kehilangan Tanah Pada Berbagai Umur Kebun Kopi: Studi Kasus Di Sumberjaya, Lampung Barat. Agrivita (26):81-89.

Nurida, N. L., dan Undang K. 2003. Perubahan agregat tanah pada ultisols jaringan terdegradasi akibat pengolahan tanah dan pemberian bahan organik. Jurnal tanah dan iklim 30 (2009):37-45

Suprayogo, D., Widianto, P. Purnomosidi, R. H. Widodo, f. Rusiana, Z.Z. Aini, N. Khasanah, dan Z. Kusuma 2001. Degradasi Sifat Fisik Tanah Sebagai Akibat Alih Guna Lahan Hutan Menjadi Sistem Kpi Monokultur: Kajian Perubahan Makroporositas Tanah

About these ads
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s