Jurnal Bengkulu Mandiri

Membangun Bengkulu Menuju Budaya Riset

PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DALAM MENJAGA KEBERSIHAN DAN KESADARAN LINGKUNGAN MASYARAKAT July 5, 2011

Filed under: Kehutanan — Urip Santoso @ 9:04 pm
Tags: , ,

HELPY ZUMAN

ABSTRAK

 

            Kurangnya motivasi masyarakat di Kabupaten Kaur dalam menjaga serta  melestarikan hutan dan lingkungan menjadikan masalah lingkungan  sebagai akibat dari ulah manusia itu sendiri, dari hari ke hari ancaman terhadap kerusakan lingkungan semakin meningkat. Banyaknya pembukaan lahan baru  mengakibatkan banyaknya hutan yang dirusak karena umumnya pembukaan lahan tersebut tidak mengikuti kaidah ekologi. Rusaknya hutan akan merusak ekosistem yang ada dihutan tersebut dan disekitar hutan dan merusak semua sistem kehidupan disetiap komponen yang ada di bumi ini. Melestarikan hutan berarti menyelamatkan semua komponen kehidupan, hutan yang terjaga akan memberikan tata air yang baik pada daerah hilirnya sehingga akan menyelamatkan semua kegiatan umumnya dan kegiatan ekonomi khususnya, selain itu hutan yang terjaga akan memberikan manfaat sangat besar bagi lingkungan, hutan sebagai paru-paru dunia akan mengurangi pemanasan bumi, mengurangi kekeringan saat musim panas dan mengurangi resiko longsor dan banjir saat musim hujan.

 

  1. I.                   Pendahuluan

 

1.1.   Latar Belakang

Pada mulanya dimuka bumi ini belum ada kehidupan.  Tumbuhan, binatang,dan manusia pun belum ada.  Setelah melewati waktu berjuta-juta tahun sedikit demi sedikit kehidupan pun mulai merambat dari air ke daratan. Mula-mula sebagsa rumput yang pendek, lalu dalam bentuk gulma, kemudian semak dan akhirnya datang lah masa perkebangbiakan pepohonan yang besar.

Bersamaan dengan perkembangan berjenis-jenis tumbuhan yang terjadi secara berlahan-lahan di hutan, terbentuk  pula kehidupan binatang dengan tingkat-tingkat derajatnya.  Di dalam tanah hidup berjenis-jenis binatang lunak seperti cacing tanah, orong-orong, serta bermacam-macam serangga dan binatang dan binatang melata di atas tanah.

Dengan adanya tumbuhan di hutan yang meliputi seluruh permukaan bumi, maka dimungkinkan terjadinya proses fotosintesis pada bagian tumbuhan yang berklorofil atau berhijau daun.

Sumberdaya lahan merupakan sumberdaya yang menjadi andalan dalam aktivitas sosial ekonomi masyarakat terutama di negara berkembang. Namun sumberdaya lahan bukanlah sumberdaya yang lestari. Sumberdaya lahan mengalami perubahan baik karena proses alami maupun aktivitas manusia. Perubahan karena proses alami disebabkan oleh perubahan permukaan bumi akibat berlangsungnya geomorfologis. Proses geomorfologis yang berlangsung akan berdampak baik langsung maupun tidak langsung terhadap kondisi fisikal permukaan bumi. Proses geomorfologis mengakibatkan turunnya kualitas dan daya dukung lahan yang selanjutnya akan menyebabkan degdarasi lahan. Sementara itu degradasi lahan yang disebabkan oleh aktivitas manusia terjadi akibat akibat pemanfaatan lingkungan oleh manusia yang tidak memerhatikan keseimbangan lingkungan. Barrow (1991) mendefinisikan degradasi lahan sebagai hilangnya atau berkurangnya kegunaan atau potensi kegunaan lahan untuk mendukung kehidupan. kehilangan atau perubahan kenampakkan tersebut menyebabkan fungsinya tidak dapat diganti oleh yang lain.

Menurut Undang Undang No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, hutan adalah kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yan satu dengan yang lain tidak dapat dipisahkan. Adapun fungsi hutan adalah antara lain merupakan sumber kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi sebagai paru-paru dunia, sebagai pengaur aliran air, pencegah erosi dan banjir, sebagai keseimbangan air, menjaga kesuburan tanah dll.

Pemanfaatan sumberdaya lahan secara maksimal untuk mencapai kesejahteraan rakyat merupakan tujuan yang luhur dan perlu didukung pemanfaatanya.  Tingginya pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kebutuhan ekonomi dan pembangunan semakin menambah tekanan terhadap pemnfaatan sumberdaya lahan.  Hutan alam terus dikonversi untuk keperluan manusia, seperti untuk perkebunan, perladangan, hutan tanaman industry (HTI), dll.

Kebakaran hutan yang sering terjadi akan membumihanguskan habitat satwa, mengurangi keragaman hayati dan menghilangkan kesuburan tanah, rusaknya siklus hidrologi serta akan menimbulkan pemanasan global. Banyaknya perladangan berpindah akan semakin meningkatkan ancaman  kerusakan hutan , karena umumnya masyarakat tidak memperhatikan aturan – aturan yang benar untuk menjaga kelestarian hutan dalam melakukan aktivitasnya di ladang (Marison Guciano, 2009).

1.2Tujuan

Tujuan dari Penulisan  ini adalah untuk mengetahui bagaimana melakukan Motivasi masyarakat dalam pelestarian hutan dan lingkungan  yang menumbuhkan kesadaran masyarakat akan arti pentingnya menjaga lingkungan. Disamping itu juga untuk mengetahui manfaat, masalah dalam melestarikan hutan dan lingkungan  itu sendiri.

 

1.3.  Manfaat

 

  1. Meningkatkan motifasi masyarakat akan arti penting menjaga lingkungan untuk kelestarian sumber daya alam.
  2. Meningkatkan kesadaran mesayrakat akan arti penting menjaga kebersihan lingkungan.
  3. Memberitahukan kepada masyarakat pingiran hutan  bahwa hutan  merupakan aset Negara yang tidak ternilai harganya untuk anak cucu Bangsa yang belum menikmati hasilnya dari hutan.

1.4 Permasalahan

Motivasi masyarakat sekitar hutan dimana dalam pengolahan penggunaan lahan di Kabupaten Kaur sering mengundang munculnya masalah antara lain tingginya tingkat kebutuhan penduduk sekitar hutan, sedangkan pola pencarian kebutuhan hidup hanya bertumpuh pada hasil hutan, hal ini berdampak pada pelestarian hutan yang hari demi hari semakin tidak terkontrol dan mengakibatkan kerusakan pada hutan dan lingkungannya.

Berdasarkan hal tersebut diatas perlu kiranya memberikan motivasi dan informasi betapa pentingnya menjaga dan melestarikan hutan dan lingkungannya.

II. KAJIAN PUSTAKA

2. 1. KABUPATEN KAUR SECARA UMUM

a..Letak Geografis Kabupaten Kaur.

Secara astronomis (geografis), Kabupaten Kaur terletak pada posisi derajad 15 menit 8,21 detik sampai 4 derajat 55 menit 27,77 detik Lintang selatan dan 103 derajat 4 menit 8,76 detik sampai 103 derajat 46 menit 50,12 detik Bujur Timur. Luas wilayah daratan mencapai 2556 km2 dengan garis pantai sepanjang 89 km, memanjang dari perbatasan Kabupaten Bengkulu Selatan sampai ke perbatasan Propinsi Lampung. Adapun batas wilayah Kabupaten Kaur adalah sebagai berikut :

  1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Kedurang, Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Lahat, Propinsi Sumatera Selatan.
  2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Lampung Barat, Propinsi Lampung.
  3. Sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Hindia.
  4. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Ogan Komering Ulu, Propinsi Sumatera Selatan. (BPS. 2007)

b.  Iklim

Iklim adalah kondisi rata-rata cuaca,dimana factor pembentuk cuaca antara lain curah hujan,kelembaban,kecepatan angin, lama penyinaran matahari dan sebagainya.fakor iklim atau cuaca yang sering di gunakan untuk beberapa aplikasi hidrologi adalah curah hujan,karena disamping mudah dalam hal pengukurannya juga mempunyainya pengaruh secara langsung pada kehidupan manusia ,tumbuhan dan hewan.curah hujan digunakan untuk menjelaskan fenomena-fenomena hidrologis yang sering terjadi seperti banjir, longsor dan lain-lain.selain itu juga untuk menggambarkan potensi ketersediaan air (kelembaban tanah) untuk pertumbuhan tanaman.

Berdasarkan kondisi tersebut, analisis iklim yang akan di jelaskan lebih kepada kondisi curah hujan yaitu dalam hal distribusinya dalam ruang dan waktu.Setasiun penakar yang ada di Kabupaten Kaur ada tiga, yaitu: di  Muara Tetap,Linau dan Tanjung Harapan.

c. Perkebunan

Luas panen perkebunan rakyat di Kabupaten Kaur cenderung mengalami penurunan pada periode  2004-2007. Pada tahun 2004, luas panen perkebunan rakyat mencapai 14.862,5 hektar. Tahun berikutnya meningkat menjadi 23.950,5 hektar dan turun menjadi 17.468,87 hektar pada tahun 2006. Sedangkan pada tahun 200, luas panen perkebunan rakyat kembali mengalami penurunamenjadi 14.156,1 hektar.

Pada tahun 2007, peroduksi perkebunan rakyat di Kabupaten Kaur adalah 32.121,29 ton. Komoditi yang paling banyak diproduksi adalah kelapa sawit yang mencapai 23.652 ton. Sedangkan yang paling sedikit diperoduksi adalah kasiavera, yaitu 0,18 ton.Total peroduksi perkebunan rakyat ini mengalami peningkatkan dibandingkan tahun 2006 yang mencapai 46.670,36 ton.(BPS.2007)

d. Penduduk

Data kependudukan yang ada pada publikasi kaur Dalam angka 2007 ini berdasarkan estimasi dari Survei penduduk Antara Sensus yang diadakan BPS.jumlah Penduduk Kabupaten Kaur pada tahun 2007 adalah 112.528 jiwa, yangt terdiri dari 57.319 jiwa laki-laki dan 55.209 jiwa perempuan. Jumlah ini meningkat dari pada tahun 2006 yang berjumlah 107.473 jiwa (BPS. 2007)

 

2..2. PELESTARIAN  HUTAN

Menurut FAO masalah lingkungan di negara-negara berkembang sebagian besar disebabkan karena eksploitasi lahan yang berlebihan , perluasan penanaman dan penggundulan hutan (Reyntjes, Coen et.al. 1999).  Bersamaan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan industrialisasi, permasalahan penggunaan lahan sudah umum terjadi . Pemikiran secara intuitif dalam penggunaan lahan sudah sejak lama dilakukan , tetapi penggunaan secara lebih efisien dan dengan perencanaan  baru terwujud jelas setelah perang dunia I ( Sandy, 1980).

Sebagai sumber daya alam, hutan mempunyai multi fungsi sangat penting bagi kehidupan.  Tajuk pohon yang banyak dan berlapis-lapis pada tanaman yang ada di hutan akan sangan membantu  untuk menahan energi potensial air hujan yang jatuh sehingga aliran air tuidak terlalu besar , hal ini akan mengurangi kerusakan tanah , baik erosi percikan maupun erosi alur.  Kondisi ini  akan membantu kesuburan tanah dan penyerapan air tanah. Secara global  hutan adalah paru-paru dunia  karena akan menyerap karbondioksida di udara dan melepaskan oksigen yang lebih banyak yang sangat bermanfaat bagi makhluk hidup di dunia.

Menurut Departemen Pertanian, 2006. Kawasan hutan pegunungan merupakan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berfungsi sebagai penyangga tata air daerah hilir, pleh karena itu perlu dilakukan pengelolaan lahan yang tepat agar dapat melakukan pelestarian Sumber Daya Alam  dan lingkungan terutama  kawasan hilir yang akan mempengaruhi kegiatan pertanian dan ekonomi setempat.

Istilah pelestarian mengesankan penimbunan, seakan akan gagasan tersebut hanyalah berarti persediaan tetap cadangan, sehingga ada sesuatu yang tertinggal untuk masa yang akan datang.  Dalam pandangan masyarakat awam ahli pelestarian terlalu sering digambarkan sebagai orang yang bersifat anti sosial yang menentang setiap macam pembangunan. Apa yang sebenarnya ditentang oleh para ahli pelestarian adalah pembangunan yang tanpa rencana yang melanggar hukum ekologi dan hukum manusia.

Pelestarian  dalam pengertian yang luas merupakan salah satu penerapan yang penting dari ekologi.  Tujuan dari pelestarian yang sebenarnya adalah memastikan pengawetan kualitas lingkungan yang mengindahkan estitika dan kebutuhan maupun hasilnya  serta memastikan kelanjutan hasil tanaman, hewan, bahan-bahan yang berguna  dengan menciptakan siklus seimbang antara panenan dan pembaharuan  (Odum, E. ?)

Kesadaran lingkungan harus ditumbuhkembangkan pada masyarakat sejak dini .  Tekanan sosial dan ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sumber daya alam dapat ditumbuhkembangkan melalui upaya pemberian informasi  tentang lingkungan sehingga akan meningkatkan kesadaran lingkungan masyarakat.

 

2.3   Faktor- factor yang mempengaruhi Kesadaran Lingkungan.

a.Faktor Ketidaktahuan

Ke-tidak-tahu-an berlawanan dengan ke-tahu-an. Keduanya memiliki satu kata dasar yaitu tahu. Menurut Suriasumantri dalam Neolaka, (2008) pengetahuan dimulai dari rasa ingin tahu. Oleh karena itu, rasa ingin tahu merupakan sarana untuk mengumpulkan pengetahuan sebanyak mungkin.

Menurut Djaenudin, D. 1994 kawasan hutan perlu dipertahankan berdasarkan pertimbangan fisik, iklim dan pengaturan tata air serta kebutuhan sosial ekonomi masyarakat dan Negara. Hutan yang dipertahankan terdiri dari hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, hutan konservasi, hutan produksi terbatas dan hutan produksi. Berikut ini pengertian dari berbagai jenis hutan tersebut,  antara lain: (1) Hutan lindung adalah hutan yang perlu dibina dan dipertahankan sebagai hutan dengan penutupan vegetasi secara tetap untuk kepentingan hidroorologi, yaitu mengatur tata air, mencegah banjir dan erosi, memelihara keawetan dan kesuburan tanah baik dalam kawasan hutan bersangkutan maupun kawasan yang dipengaruhi di sekitarnya; (2)Hutan suaka alam adalah  hutan yang perlu dipertahankan dan dibina keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, tipe ekosistem, gejala dan keunikan alam bagi kepentingan plasma nutfah dan pengetahuan, wisata dan lingkungan; (3) Hutan wisata adalah hutan yang dipertahankan dengan maksud untuk mengembangkan pendidikan, rekreasi dan olahraga; (4) Hutan konservasi adalah hutan yang dipertahankan untuk keberadaan keanekaragaman jenis plasma nutfah dan tempat hidup dan kehidupan satwa tertentu; (5) Hutan produksi terbatas adalah kawasan hutan untuk menghasilkan kayu hutan yang hanya dapat dieksploitasi secara terbatas dengan cara tebang pilih serta; (6) Hutan produksi adalah kawasan hutan yang diperuntukkan sebagai kebutuhan perluasan, pengembangan wilayah misalnya transmigrasi pertanian dan perkebunan, industry dan pemukiman dan lain-lain.

Di dalam hutan-hutan tersebut di atas tidak boleh dilakukan kegiatan yang mengakibatkan terganggunya fungsi hutan tersebut. Hutan mempunyai fungsi pelindung terhadap tanah dari tetesan hujan yang jatuh dari awan yang mempunyai energi tertentu, karena gerak jatuhnya itu dengan energi tertentu tetesan hujan akan memukul permukaan tanah dan melepaskan butiran tanah sehingga akan terjadi erosi percikan.

Air hujan yang tidak meresap ke dalam tanah akan mengalir di atas permukaan tanah, aliran air ini mempunyai energi tertentu juga, makin curam dan panjangnya lereng tempat air mengalir makin besar energinya, energi yang ada pada aliran permukaan ini akan mengelupaskan permukaan tanah sehingga terjadi erosi permukaan. Aliran permukaan dapat juga menyebabkan terbentuknya alur permukaan tanah yang disebut dengan erosi alur.

Apabila hutan tidak dipertahankan atau dilestarikan fungsi perlindungan hutan terhadap tanah akan hilang sehingga akan terjadi erosi bahkan longsor seperti yang banyak terjadi sekarang ini bila musim hujan datang. Erosi akan semakin besar dengan besarnya intensitas hujan serta makin curam dan panjangnya lereng. Akibat adanya erosi kesuburan tanah akan berkurang karena lapisan atas sudah terkikis dan terbawa oleh air sehingga akan menurunkan produksi tanaman dan pendapatan petani (Sinukaban, N. 1994).

Peran serta masyarakat untuk mengemukakan saran dan pemikiran secara lisan dan/atau tertulis sebelum keputusan terhadap AMDAL itu ditetapkan (Bab VI Pasal 33 ayat (3) PP. No. 27 Tahun 1999 tentang AMDAL) sangat mengecewakan

masyarakat karena dalam praktek selama ini, keterbukaan dan peran serta tidak memperoleh tempat yang layak.

Keterbukaan dan peran serta masyarakat dalam proses pengambilan keputusan yang dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan (khususnya : izin lingkungan) perlu dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan. Peran serta masyarakat oleh seseorang, kelompok orang atau badan hukum merupakan konsekuensi dari “Hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat (Pasal 5 ayat (1) UUPLH) (Rangkuti, S.S. Ozon, Januari 2002).

 

2.4   KLASIFIKASI VEGETASI HUTAN

 

Vegestasi merupakan kumpulan semua jenis tumbuhan yang ada di dalam suatu wilayah. 1. Physiognomy Vegestasi 2. Komposisi Floristik 3. Dasar Wilayah a. Zone barat, yakni wilayah hutan yang dipengaruhi oleh vegestasi Asia dan Australia yaitu meliputi pulau Sumatra, Kalimantan dan Jawa. Umumnya tumbuhan pada zona ini banyak didominasi oleh jenis dipterocarpaceae. b. Zone peralihan, yakni wilayah hutan dimana pengaruh vegestasi Asia dan Australia sama besarnya, meliputi pulau Sulawesi dan pulau-pulau kecil disekitarnya. Jenis-jenis yang tumbuh adalah dari suku Araucarraceae, Mytaceae dan Verbenaceae. c. Zona timur, yakni wilayah hutan yang dipengaruhi oleh vegestasi Australia, dapat dijumpai di Irian Jaya, Maluku dan Nusa Tenggara. Umumnya tumbuhan pada daerah tersebut banyak didominasi oleh jenis Araucarraceae dan Mytaceae. 4. Dasar Terjadi Untuk itu hutan berdasarkan terjadinya perlu dibuatkan klasifikasi tersendiri : A. Hutan alam (Natural forest), menurut asalnya dibagi-bagi menjadi a. Hutan alam primer : Hutan asli (perawan) : Hutan alam primer tua : Hutan alam primer muda Hutan alam ini adalah hutan asli dimana manusia belum melakukan penebangan didalamnya. Hutan ini dicirikan dengan pohon-pohon tinggi yang berasal dari biji berumur ratusan tahun. b. Hutan alam sekunder : Hutan banjir : Hutan vulkanogen : Hutan Erosi : Kebakaran alam : Hutan pengembalaan alam Hutan ini terdiri dari pohon-pohonan rendah dan kecil. B. Hutan Antropogen (olah manusia), menurut permudaannya terbagi atas : a. Hutan antropogen primer : Hutan seleksi primer : Hutan trobosan primer b. Hutan antropogen sekunder : Hutan pegembalaan : Antropogen : Hutan kebakaran antrop : Hutan lading : Hutan tanaman : Hutan trobosan sekunder 5. Dasar Formasi Terjadinya dasar formasi atau tipe merupakan akibat adanya pemikiran dari paham-paham lain, yang mempunyai pengamatan yang berbeda, yaitu klimaks. Schimper (1903) membedakan pengaruh faktor formasi klimaks iklim dan formasi klimaks edafik terhadap hutan-hutan di dunia : – Formasi iklim : Hutan hujan, hujan musim, hutan sabana, hutan duri, hutan hujan subtropics, hutan hujan temperat, hutan konifera, dan hutan pegunungan. Sedangkan klimaks hutan tropis menurut Davy dalam Ellys Y (2009) dibedakan menjadi : A. Formasi Edafis 1. Hutan Riparian 2. Hutan Rawa 3. Hutan Bakau 4. Hutan Pantai 5. Hutan Kering Selalu Hijau 6. Hutan Sabana 7. Hutan Palma dan Nipah 8. Hutan Duri B. Dasar Klimatis 1. Hutan Hujan Tropik 2. Hutan Semi Hujan 3. Hutan Musim 4. Hutan Pengunungan / Temperat 5. Hutan Konifera 6. Hutan Pengunungan Graminae Berkayu (Bambu) 7. Hutan Alpine Untuk mempermudah pengenalan / pembagian dan pembedaan tipe formasi, disusunlah klasifikasi sebagai berikut : 1. Dataran rendah a. Daerah tropika ( > 24 ºC) • Hutan hujan tropic, terdapat pada daerah yang sering mengalami hujan tanpa musim kering, seperti Amerika Tengah, Afrika Barat, Afrika Tengah, India Barat, Sri Lanka, Malaysia, Filipina dan Indonesia.

b. Daerah subtropika (18 – 24 ºC) Hutan hujan subtropik Hutan monsoonKe – 2 hutan tersebut terdapat pada daerah utara Australia dan Amerika. • • Hutan sabana terdapat di Argentina Utara, Cina dan Brazilia. Hutan duri, terdapat pada daerah Brazilia, Amerika Selatan, Timur Tengah, Australia Barat dan Tengah. c. Daerah temperat panas (12 – 18 ºC), seperti hutan hujan temperat. d. Daerah temperat dingin (3 – 6 ºC), seperti hutan konifera dan hutan gugur daun e. Daerah subkutub (1,5 – 3 ºC), seperti Talga 2. Dataran tinggi a. Hutan hujan pengunungan b. Hutan musim pengunungan c. Hutan sub alpin

Dari fungsi di atas dapat disimpulkan bahwa peranan hutan bakau adalah mencegah endapan lahan di pantai agar tidak sampai terkikis gelombang laut. b. Fungsi Biologis Fungsi biologis hutan bakau, yaitu : Sebagai tempat pembenihan ikan, udang, kerang dan jenis ikan lainnya. Tempat bersarang burung-burung. Sebagai habitat alami bagi berbagai jenis biota. Sumber bahan bakar dan bangunan. Lahan untuk perikanan dan pertanian. Tempat tersedianya bahan makanan, obat – obatan, minuman (alkohol), bahan mentah kertas dan serat sintetis. Sumber bahan penyamak.

 

2.5   PENGARUH HUTAN TERHADAP LINGKUNGAN

Hutan juga memberikan pengaruh kepada sumber alam yang lain. Pengaruh ini melalui tiga faktor lingkungan yang saling berhubungan, yaitu iklim, tanah, dan pengadaan air bagi berbagai wilayah, misalnya, wilayah pertanian.

Pertanyaan yang menarik menyangkut hubungan sebab-akibat antara iklim dan hutan. Mengapa pertumbuhan pohon di wilayah yang kekurangan hujan sangat kecil ? Apakah curah hujan yang kurang, yang menimbulkan kecilnya pertumbuhan pohon itu ? ataukah sebaliknya ? Berapa peneliti telah mencoba menjawab pertanyaan ini (Nicholson, 1930 pateson, 1956). Dari perbandingan keadaan hutan yang sudah ditebang dengan yang masih utuh dapat disimpulkan, bahwa hutan memang mempunyai pengaruh terhadap keadaan iklim setempat (iklim mikro). Pada hutan yang sudah ditebang curah hujan memang memang kurang. Chang (1968) menjimpulkan keterangan mengenai pengaruh hutan dan belukar terhadap iklim mikro itu sebagai berikut. Pohon-pohonan mampu mengurangi kecepatan angin, sehingga akibatnya mengurangi penguapan air (evavorasi) dari tumbuhan yang terlindung olehnya. Kalau tumbuhan itu tanaman pertanian, maka jelas tanaman ini akan memiliki lebih banyak persedian air, karena penguapannya kurang, sehingga daya tumbuhnya baik. Tentu saja pengaruh hutan terhadap tanaman pertanian ini berlainan antara satu jenis tanaman dengan lain, juga berlainan menurut berbagai keadaan dan situasi. Sungguh pun demikian, secara kasar dapat diperkirakan, bahwa hasil panen dapat naik sampai 15% dengan adanya jalur-hijau (pohonpohonan), meskipun dengan perhitungan, bahwa daerah jalur hijau itu sebetulnya masih dapat digunakan untuk tempat bercocok tanam. Hutan juga memberikan pengaruh melunakkan iklim. Penebangan hutan menimbulkan amplitudo variasi iklim yang lebih besar dari panas ke dingin, dan dari basah ke kering, sehingga menyebabkan daerah itu kurang cocok untuk pertumbuhan tanaman. Pepohonan hutan juga mempengaruhi struktur tanah dan erosi, jadi, mempunyai pengaruh terhadap pengadaan air dilereng gunung.

Lowdermilk (1930) mengemukakan, bahwa sampah pohon-pohonan dalam hutan mencegah rintikan air hujan untuk langsung jatuh ke permukaan tanah dengan tekanan yang  keras. Tanpa sampah, tanah itu akan terpadatkan oleh air hujan, sehingga kurang daya serapnya. Jadi, kalau hutan di lereng gunung habis ditebang, air hujan mengalir deras, membawa partikel tanah permukaan, yang kemudian bercampur menjadi Lumpur. Peristiwa ini sekaligus menutup pula pori tanah di permukaan, sehingga pada hujan berikutnya, lebih banyak lagi air yang mengalir di sepanjang lereng, karena makin kurangnya daya serap tanah. kurangnya kapasitas daya serap air dari pada tanah itulah yang dapat mengubah tanah di lereng gunung menjadi daerah yang gersang dan kerdil.keadaan bisa semakin parah, kalau air yang mengalir dari gunung tanpa rintangan, lalu menimbulkan banjir. Banjir mempunyai daya kekuatan yang besar untuk menghanyutkan bagian terpenting dari pada komponen tanah yang menjamin produktivitas biologi tanah pertanian tersebut. Jadi, singkatnya, hutan sangat penting bagi pertanian, karena : dapat memelihara keutuhan tanah supaya tetap produktif, dapat melunakkan aliran curah hujan ke daerah pertanian; dapat mengurangi kecepatan angina, daya penguapan, perubahan suhu, dan perubahan kelembaban udara relative. Dari uraian di atas nampaklah, bahwa penerbangan hutan menciptakan suatu ‘ lingkaran setan ‘. Makin banyak pepohonan ditebang, makin besar perubahan ekstrim faktor iklim mikro, sehingga makin sukar bagi sukar bagi sisa vegetasi untuk hidup. Memang mudah difahami, bahwa vegetasi dengan keadaan iklim mikro membentuk suatu lingkaran yang saling mengumpan balik: vegetasi mempengaruhi iklim, dan sebaliknya iklim mempengaruhi vegetasi. Satu kali vegetasi itu dimusnahkan, perubahan iklim setempatpun diciptakan. Untuk mengembalikannya kepada keadaan vegetasi semula, atau bahkan kepada keadaan apapun yang lain, akan menelan biaya terlalu tinggi. Jadi, untuk mempertahankan daerah itu tetap subur dan bermanfaat bagi manusia, tak ada jalan lain kecuali mengubahnya menjadi daerah pertanian yang memerlukan modal energi banyak.

 

2.6   PENGARUH HUTAN DALAM TATAGUNA TANAH

Seperti telah diuraikan sebelumnya, keadaan iklim di suatu daerah berhubungan erat dengan vegetasi yang terdapat di daerah itu. Kenyataan ini telah begitu lama disadari manusia, sehingga berbagai teori telah dikembangkan dalam mencari hubungan antara vegetasi dengan iklimnya. Teori ini berkembang dalam suatu bidang ekologi yang dikenal dengan ekologi zona kehidupan ( life-zone ecology ). Beberapa tokoh dalam bidang ini ialah Reaumur (1735), Merriam (1889), Thornthwaite (1948), Parteson(1956), dan Holdridge (1967). Bidang keilmuan ini penting, karena dapat digunakan sebagai alat dalam perencanaan tataguna tanah pada tingkat nasional. Kalau dapat ditentukan jenis tumbuhan yang dapat dipelihara di suatu daerah dengan cukup menguntungkan, maka akan dapatlah ditentukan pola penggunaan wilayah dengan keuntungan yang dapat dipetik untuk jangka panjang. Kalau tidak, maka besar kemungkinan orang menanam jenis tumbuhan atau memelihara jenis ternak, yang sebernanya tidak cocok dengan keadaan lingkungan di daerah itu. Hal serupa ini akan mengakibatkan tragedy bagi manusia belaka. Suatu hasil kerja yang cukup baik mengenai hubungan antara ekologi zona kehidupan dengan perencanaan tataguna tanah tingkat nasional dikemukakan Holdridge (1967). Menurut pendapatnya ada dua strategi yang dapat dipilih oleh sebuah negara. Strategi yang lebih baik, ialah menentukan terlebih dahulu kapasitas bahwa manusia untuk tiap jenis tanah dan keadaan iklim; kemudian penyebaran populasi manusia diatur dan disesuaikan menurut pembakuan ( standar) kehidupan yang diingini. Strategi ini dapat membimbing kepada pembakuan hidup yang lebih tinggi untuk ( populasi) manusia, karena setiap orang mempunyai pola penghidupan yang sesuai dengan sumber alam yang ada di  lingkungannya. Dan yang lebih penting, ialah tak ada paksaan bagi seseorang untuk bertani misalnya, di daerah yang menurut keadaan lingkungannya memang tak sesuai untuk pertanian. Alternative lain, ialah strategi yang membiarkan populasi manusia itu tumbuh semuanya serta membuka kesempatan kepada mereka untuk memanfaatkan setiap jengkal tanah dalam negara itu bagi kawasan pertanian; untuk menyokong penghidupan mereka, meski pun dengan produksi rendah. Pilihan terakhir ini sudah tentu tak rasional dan bertentangan dengan asas.

Menurut Lester  R . Brown dalam Noelaka (2008) dalam bukunya Dunia Penuh Ancaman dikatakan bahwa kerusakan lingkungan di tanah, air dan udara, betul-betul sangat mencemaskan. Salah satu kekuatiran yang dikemukakan adalah gawatnya peningkatan karbondioksida (CO­2) di atmosfer terhadap system kehidupan di planet bumi. Peningkatan  CO­2 dalam atmosfir disebabkan oleh kerusakan hutan dan pemakian bahan fosil.  Data yang diperoleh pada tahun 1900-1980 peningkatan pemakaian bahan bakar fosil 4 % pertahun, sehingga di tahun 2030 kadar CO­2 di udara diperkirakan akan meningkat dua kali lipat. Suhu rata-rata akan naik 30 Celcius dalam masa 45 tahun berikut ( Maftuchah Yusuf dalam Noelaka, 2008). Peningkatan suhu bumi membawa pengaruh bermacam-macam, salah satunya adalah kenaikan permukaan laut 5-7 meter. Masalah-masalah ini baru merupakan puncak kecil gunung es, suatu bagian kecil dari malapetaka yang belum kelihatan, yaitu kehancuran potensial dari system keseimbangan alam yang harus ada untuk mempertahankan system kehidupan diatas planet bumi ini.

 

 

 

 

2.7. USAHA, CARA DAN METODE PELESTARIAN HUTAN

Sumber masalah kerusakan lingkungan terjadi sebagai akibat dilampauinya  daya dukung lingkungan, yaitu  tekanan penduduk terhadap lahan yang berlebihan. Kerusakan klingkungan hanyalah akibat atau gejala saja , karena itu penanggulangan kerusakan lingkungan itu sendiri hanyalah merupakan penanggulangan yang sistematis, yaitu penanggulangannya harus dilakukan lebih mendasar yang berarti menanggulangi penyebab dari kerusakan lingkungan. Karena itu sebab keruskan lingkungan yang berupa tekanan penduduk terhadap sumber daya alam yang berlebih harus ditangani.

Usaha, cara, dan metode pelestarian hutan dapat dilakukan dengan mencegah perladangan berpindah yang tidak menggunakan kaidah pelestarian hutan , waspada dan hati- hati terhadap api dan reboisasi lahan gundul serta tebang pilih tanam kembali (Organisasi Komunitas dan Perpustakaan Online Indonesia, 2006).

Perladangan berpindah sering dilakukan oleh masyarakat yang bermukim di pedesaan. Pengaruhnya terhadap pelestarian hutan tidak akan besar karena mereka dalam melakukan kegiatan pada lahan yang tidak terlalu luas. Cara yang mereka gunakan biasanya masih tradisional dan usaha taninya bersifat subsisten dan mereka tidak menetap . Namun untuk perladangan yang luas perlu dilakukan usaha tani yang memenuhi kaidah-kaidah pelestarian hutan dan harus ada pencagahan perladangan berpindah.

Seringnya terjadi pembakaran hutan pada lahan-lahan perkebunan yang besar memberikan dampak yang buruk pada hutan disekitarnya. Oleh sebab itu perlu dihindari pembukaan lahan baru dengan cara pembakaran hutan. Kebakaran hutan juga dapat terjadi bila tidak hati-hati terhadap api, membuang sisa rokok yang tidak pada tempatnya akan dapat menjadi sumber api, embakar sampah atau sisa tanaman yang ada di ladang tanpa pengawasan dan penjagaan juga dapat menjadi sumber kebakaran.

Biaya yang dikeluarkan untuk reboisasi  dan penghijauan sudah sangat besar namun hasilnya tidak menggembirakan , banyak pohon yang ditanam untuk penghijauan dan reboisasi dimatikan lagi oleh penduduk karena perpindahan ladang dan pembukaan lahan baru, untuk itu salah satu cara yang dapat dilakukan untuk reboisasi adalah dengan sistem tumpang sari, dalam sistem ini peladang diperbolehkan menanam tanaman pangan diantara larikan pohon dengan perjanjian petani memelihara pohon hutan yang ditanam dan setelah kira-kira lima tahun waktu pohon sudah besar petani harus pindah, namun dalam kenyataan petani banyak tidak memelihara pohon atau bahkan mematikan pohon tersebut karena dianggap mengganggu tanaman usaha taninya sehingga tidak jarang mereka menetap di tempat tersebut.

Kegagalan penghijauan dan reboisasi dapat dimengerti, karena penghijauan dan reboisasi itu pada hakikatnya menurunkan daya dukung lingkungan. Dalam hal penghijauan, pohon ditanam dalam lahan petani yang digarap, pohon itu mengambil ruas tertentu sehingga jumlah luas lahan yang tersedia untuk tanaman petani berkurang. Lagipula pohon itu akan menaungi tanaman pertanian dan akan mengurangi hasil. Oleh sebab itu, petani akan mematikan pohon atau memangkas pohon tersebut untuk mengurangi naungan dan mendapatkan kayu bakar.

Reboisasi mempunyai efek yang serupa seperti penghijauan yaitu, mengurangi luas lahan yang dapat ditanami oleh petani dan pengurangan produksi oleh naungan pohon. Jadi jelas dari segi ekologi manusia penghijauan dan reboisasi sukar untuk berhasil selama usaha itu mempunyai efek menurunkan daya dukung lingkungan dan menghilangkan atau mengurangi sumber pencaharian penduduk.

 

2.8  FUNGSI DAN MANFAAT HUTAN

Menurut Wikipedia Ensiklopedia Bebas, 2009 ;Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya. Kawasan-kawasan semacam ini terdapat di wilayah-wilayah yang luas di dunia dan berfungsi sebagai penampung karbon dioksida  (carbon dioxide sink),habitat hewan , modulator arus hidrologika , serta pelestari tanah, dan merupakan salah satu aspek biosfer bumi yang paling penting.

Hutan merupakan suatu kumpulan tetumbuhan, terutama pepohonan atau tumbuhan berkayu lain, yang menempati daerah yang cukup luas. Keunggulan yang lebih penting  bagi hutan dari sumberdaya alam lain adalah  merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Sumber-sumber hutan tidak akan kunjung habis dan kering , ia akan selalu ada asalkan diurus dan dijaga sebaik-baiknya.  Pengelolaan sumber kehutanan modern berdasarkan sifat renewable dan potensi serba guna bagi kesejahteraan rakyat sepanjang masa . (Mubyarto, 1985)

Tekanan penduduk  dan ekonomi yang semakin besar mengakibatkan pengambilan hasil hutan semakin intensif, gangguan terhadap hutan semakin besar  sehingga fungsi hutan juga berubah, beberapa fungsi hutan dan manfaatnya bagi manusia dan kehidupan lainnya adalah : 1. Penghasil Kayu Bangunan, 2. Sumber hasil Hutan Non Kayu, 3. Sebagai cadangan Karbon, 4. Habitat Bagi Fauna, 5. Sumber Tambang dan Mineral, 6. Lahan, 7. Hiburan,

 

2.9.  PELESTARIAN HUTAN DAN POTENSI EKONOMI

Nilai ekonomi yang dihasilkan dari masing-masing tipe pemanfaatan sumber daya alam (hasil hutan kayu, non kayu, tambang, perikanan, pertanian, pariwisata, dll) serta nilai ekonomi dari jasa lingkungan yang disediakan oleh kawasan hutan , hendaknya tidak dilihat sebagai nilai-nilai yang terpisah satu sama lain, karena setiap kegiatan pemanfaatan sumber daya alam (kegiatan ekonomi lain) tidak berdiri sendiri, melainkan saling berinteraksi dan saling memberikan dampak satu sama lain. (TFGD (Technical Focus Group Discussion), 2006).

Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang keterkaitan setiap komponen pertanian maupun komponen kehidupan membuat mereka lupa bahkan tidak mengetahui sama sekali bahwa hutan sangan mempengaruhi kehidupan disekitarnya.

Manfaat atau fungsi hutan bagi kehidupan manusia secara langsung maupun tidak langsung sangat banyak dan beragam. Hutan tidak saja sebagai sumber kayu dan hasil hutan lainnya yang memberikan manfaat ekonomi. Secara tidak langsung hutan akan memberikan pengaruh pada kehidupan di hilirnya.

Hutan juga mempunyai fungsi perlindungan terhadap tata air. Dengan adanya seresah di lantai hutan dan struktur tanah gembur, air hujan terserap seresah dan masuk ke dalam tanah. Karena itu dalam musim hujan debit maksimum air dapat dikurangi, dengan demikian bahaya banjir berkurang.

Sebagian air hujan yang jatuh di permukaan tanah meresap ke dalam tanah dalam bentuk infiltrasi, perkolasi, kapiler.  Aliran air tanah dapat dibedakan menjadi aliran tanah dangkal, aliran tanah dalam, aliran tanah antara dan aliran tanah dasar.  Disebut aliran tanah dasar karena aliran ini merupakan aliran yang mengisi sisten jaringan sungai.  Hal ini dapat di lihat pada musim kemarau aliran ini akan tetap  secara kontinyu apabila kondisi hutan baik (Kodoatie, R.2005). Oleh sebab itu kilta perlu melestarikan hutan.

Banyaknya air yang tersedia di permukaan bumi ini akan sangat membantu kehidupan manusia karena air diantaranya akan banyak memberikan manfaat ekonomi. Di daerah daerah yang pengairannya baik  pertanian tidak lagi bergantung pada hujan , petani dapat merencanakan pola pergiliran tanaman dengan lebih baik.

Daerah-daerah hilir hutan pegunungan masyarakatnya akan merasakan manfaat yang sangat menguntungkan bila pelestarian hutan terjaga, keseimbangan ekosistem dalam hutan akan memelihara tata air di sekitarnya , masyarakat yang ada di dataran rendah bisa memanfaatkan sumberdaya air yang tersedia untuk keperluan hidupnya maupun untuk aktivitas perekonomian.

Secara tidak langsung sumber daya air akan memberikan manfaat ekonomi  pada rumah tangga dan pertanian .  Rumah tangga yang mempunyai industri akan membutuhkan air untuk usahanya, petani dalam berusaha tani juga sangat membutuhkan air, baik untuk penyemprotan maupun untuk kebutuhan tanaman itu sendiri. Tanaman yang kekurangan air pertumbuhannya akan terganggu, pduktivitas akan berkurang bahkan akan terancam mati. Sebaliknya bila sumber air tersedia tanaman akan tumbuh dengan baik dan produksinya akan tinggi.

Selain dari manfaat yang tidak langsung , masyarakat disekitar kawasan hutan juga bisa memanfaatkan hasil hutan langsung dengan tidak secara berlebihan dan tetap berusaha adanya pembaharuan untuk menjaga kelestariannya.  Hasil hutan yang didapatkan bisa untuk konsumsi sendiri atau untuk di jual sehingga dapat menjadi pendapatan tambahan.

Dari uraian – uraian yang telah disebutkan sebelumnya jelas bahwa banyak manfaat ekonomi yang akan diperoleh bila kita melestarikan hutan.  Selain dari dalam hutan itu sendiri di wilayah sekitar huta dan di daerah hilirnya manfaat ekonomi akan banyak diperoleh.

 

2.9.  PELESTARIAN HUTAN DAN LINGKUNGAN

Ancaman kerusakan hutan dari hari ke hari semakin meningkat, sebagian besar kerusakan hutan adalah karena adanya pembukaan lahan baru yang tidak mengikuti kaidah ekologi atau lingkungan . Banyak sekali hutan dirusak hanya untuk kepentingan tertentu dari individu maupun kelompok atau institusi tanpa ada pertimbangan untuk pelestariannya. Adanya pengembangan wilayah pemukiman, atau daerah pemekaran yang membutuhkan lahan baru untuk pembangunan daerahnya akan mengakibatkan dibukanya hutan. Akibat dari semuanya ini akan  merusak keseimbangan ekosistem lingkungan, hutan yang sudah banyak rusak akan memberi pengaruh buruk pada lingkungan.

Jika hutan kita menjadi gundul atau terbakar, sehingga lingkungan hidup kita rusak, siapa biang keladinya? Penduduk miskin di hutan-hutan dan sekitar hutan menebang hutan negara untuk memperoleh penghasilan untuk makan. Tetapi kayu-kayu yang diperolehnya ditampung calo-calo untuk dijual, dan kemudian dijual lagi untuk ekspor, yang semuanya “demi keuntungan”. Siapa yang paling bersalah dalam proses perusakan lingkungan ini? (Mubyarto, 2004)

Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, energy surya , mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut. Lingkungan terdiri dari komponen abiotik dan biotik. Komponen abiotik adalah segala yang tidak bernyawa seperti tanah, udara, air, iklim, kelembaban, cahaya, bunyi. Sedangkan komponen biotik adalah segala sesuatu yang bernyawa seperti tumbuhan, hewan, manusia dan mikro -organisme (virus dan bakteri). Lingkungan, di Indonesia sering juga disebut “lingkungan hidup “. Misalnya dalam Undang-Undang no. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, definisi Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia, dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. (Wikipedia Ensiklopidia Bebas Indonesia, 2009)

Dengan pemahaman lingkungan hidup diatas, maka upaya pelestarian lingkungan hidup adalah upaya pelestarian komponen-komponen lingkungan hidup beserta fungsi yang melekat dan interaksi yang terjadi diantara komponen tersebut. Adanya perbedaan fungsi antara komponen dan pemanfaatan dalam pembangunan, maka pelestarian tidak dipahami sebagai pemanfaatan yang dibatasi. Namun pelestarian hendaknya dipahami sebagai pemanfaatan yang memperhatikan fungsi masing-masing komponen dan interaksi antar komponen lingkungan hidup dan pada akhirnya, diharapkan pelestarian lingkungan hidup akan memberikan jaminan eksistensi masing-masing komponen lingkungan hidup.

Melestarikan hutan berarti kita melestarikan lingkungan hidup, karena dengan menyelamatkan hutan kita juga menyelamatkan semua komponen kehidupan. Jika kita mengetahui mengenai sesuatu mengenai potensi alam  dan faktor-faktor yang membatasi kita dapat menentukan penggunaan terbaik.  Ekosistem-ekosistem baru yang berkembang yang diciptakan manusia , seperti pertanian padang rumput, gurun pasir yang diairi, penyimpanan-penyimpanan air, pertanian tropika akan bertahan untuk jangka waktu lama hanya jika keseimbangan-keseimbangan material dan energi tercapai antara komponen-komponen biotik dan fisik. Karena itu penting sekali untuk melestarikan hutan.

Melakukan pelestarian hutan sama dengan menyelamatkan ekosistem dari hutan itu sendiri, ekosistem terbentuk oleh komponen hidup dan tak hidup di suatu tempat yang berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur.  Keteraturan itu terjadi  oleh adanya arus materi dan energi yang terkendalikan oleh arus informasi antara komponen dalam ekosistem itu. Masing-masing komponen mempunyai fungsi atau relung , selama masing-masing komponen itu melakukan fungsinya dan bekerja sama dengan baik , keteraturan ekosistem itupun terjaga. Keteraturan ekosistem menunjukkan ekosistem tersebut ada dalam suatu keseimbangan tertentu . Keseimbangan itu tidak bersifat statis malainkan dinamis , ia selalu berubah-ubah , kadang-kadang perubahan itu besar dan kadang-kadang kecil. Perubahan itu dapat terjadi secara alamiah maupun sebagai perbuatan manusia. (Soemarwoto, 1983).

Dari uraian-uraian tersebut kita bias melihat bahwa unsur-unsur yang ada dalam lingkungan hidup tidak secara tersendiri malinkan secara terintegrasi sebagai komponen yang berkaitan dalam suatu system. Wajarlah dengan menyelamatkan hutan kita berarti menyelamatkan lingkungan, hutan yang mempunyai multi fungsi akan menyelamatkan semua komponen kehidupan di bumi ini bila kita melestarikannya. Manfaat pelestarian hutan bagi lingkungan sangat banyak secara global hutan merupakan paru-paru dunia dan dapat mengurangi pemanasan suhu bumi, mencegah, kekeringan saat kemarau dan mencegah banjir dan longsor saat musim hujan.

III.  KESIMPULAN

 

  1. Kurangnya motivasi masyarakat dalam menjaga dan memelihara hutan
  2. Kerusakan hutan terjadi karena aktivitas manusia
  3. Pelestarian hutan bertujuan untuk pengawetan kualitas lingkungan dan menciptakan iklim yang berimbang
  4. Pelestarian hutan memberikan manfaat ekonomi pada kawasan hutan itu sendiri dan daerah sekitar yakni daerah hilir
  5. Pelestarian hutan memberikan dampak luas terhadap peningkatan kualitas ekosistem (biotic dan atau fisik) lingkungan di dalam dan luar kawasan hutan

DAFTAR PUSTAKA

Barrow, C.J. 1991. Land Degradation. Development and Breakdown of Terrestrial

 Environments. Cambridge University Press. Cambridge.  Dalam  P. Siregar.

2010. Degradasi Lahan dan Dampaknya terhadap kemiskinan.

 

Rangkuti, S.S., 2002.  Keterbukaan dan Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan  Lingkungan Hidup. Majalah Ozon. Jakarta

 

Arsyad, S. 1980. Pengawetan Tanah dan Air. Departemen Ilmu Tanah. IPB. Bogor.

Adimihardja, A. 2002. Teknologi Pengelolaan Lahan Kering Menuju Pertanian

 

Produktif dan Ramah Lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Departemen Pertanian. Bogor.

 

Neolaka, Amos. 2008. Kesadaran Lingkungan. Rineka Cipta. Jakarta

Djaenudin. 1994. Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Pertanian dan Tanaman

 

Kehutanan. Laporan Teknis. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor.

 

Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 2003. Pedoman Umum Pelaksanaan  Pendayagunaan Sumberdaya Kawasan Transmigrasi. Ditjen Pemberdayaan  Sumberdaya Kawasan Transmigrasi. Jakarta.

 

Departemen Pertanian. 2006. Peraturan Menteri Pertanian Tentang Pedoman Umum  Budidaya Pertanian Pada Lahan Pegunungan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.

 

Kodoatie, R.J. 2005. Pengelolaan Sumberdaya Air Terpadu. Andi Offset. Yogyakarta.

Mubyarto, 1985. Pengantar Ekonomi Pertanian. Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Pengembangan Ekonomi dan Sosial. Jakarta.

 

Mubyarto, 2004. Ekonomi Rakyat Dan Reformasi Kebijakan.  www.ekonomirakyat.org.

 

Morison Guciano, 2009. Ihwal Komitmen Pelestarian Hutan. Harian Kompas.

Odum, E. P.  ? .  Fundamentals Of Ecology. Toppan Company. LTD. Tokyo. Japan.

Ridker, Ronald. 1982. Sumberdaya Lingkungan dan Pendudk. Pusat Penelitian dan  Studi Kependudukan. UGM. Yogyakarta.

 

Sandy, 1980. Masalah Tata Guna Lahan, Tata lingkungan di Indonesia. Jurusan Geografi. Univ. Indonesia. Jakarta.

 

Soemarwoto, Otto. 1983. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Djambatan. Jakarta.

 

Sosrodarsono, S. 1983 . Hidrologi Untuk Pengairan. Pradnya. Paramita. Jakarta.

Sinukaban , N. 1994 . Membangan Pertanian Menjadi Industri Yang Lestari  Dengan   Pertanian Konservasi. IPB . Bogor.

 

Sitorus, S. 2004. Evaluasi Sumberdaya Lahan. Tarsito.  Bandung.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s