Jurnal Bengkulu Mandiri

Membangun Bengkulu Menuju Budaya Riset

PENGGUNAAN BENIH VARIETAS UNGGUL PADI DALAM UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI UNTUK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN DIKOTA BENGKULU June 4, 2011

Filed under: Pertanian — Urip Santoso @ 3:27 am
Tags: , , ,

Oleh :

Pevi Rostaliana, SP

ABSTRAK

Komoditi tanaman pangan yang banyak diusahakan oleh rumah tangga petani adalah Padi sebagai penghasil beras. Di Indonesia beras merupakan bahan makanan pokok yang menghasilkan karbohidrat dan merupakan sumber kalori bagi sebagian besar penduduknya. Sehingga dari sisi ketahanan pangan nasional fungsinya menjadi sangat penting dan strategis. Mengingat pentingnya hal ini, setiap negara akan mendahulukan pembangunan ketahanan pangannya sebagai fondasi bagi pembangunan sektor-sektor lainnya. Sasaran pembangunan tanaman pangan nasional untuk komoditas Padi, adalah mempertahankan swasembada. Sasaran di Kota Bengkulu adalah mewujudkan sasaran nasional dan menciptakan ketahanan pangan yang berwawasan lingkungan dengan cara meningkatkan produksi. Dalam upaya meningkatkan produksi tanaman padi maka perlu adanya penggunaan benih varietas unggul bermutu dalam budidayanya. Kontribusi penggunaan benih varietas unggul bermutu dalam meningkatkan produktivitas dan produksi bahkan mutu hasil telah terbukti secara signifikan, antara lain dengan keberhasilan peningkatan produksi Padi Di Kota Bengkulu produksi Gabah Kering Giling (GKG) per-ton 2009 sebesar 10.042,56 ton sedangkan 2010 mengalami peningkatan mencapai 18.080,80 ton. Dengan hasil produksi beras 2009 sebanyak 5.422,98 ton sedangkan 2010 sebanyak 9.763,63 ton. Sementara jumlah penduduk di Kota Bengkulu tercatat 2009 sebanyak 351.793 jiwa sedangkan 2010 sebanyak 389.449 jiwa. Diketahui jumlah kebutuhan beras 2009 sebanyak 44.326 ton sedangkan 2010 sebanyak 49.071 ton. Sehingga masih mengalami kekurangan beras yakni 2009 sebanyak 38.902,93 ton sedangkan 2010 sebanyak 39.306,94. Secara hasil produksi tahun 2010 memang hasil panen padi mengalami peningkatan yakni mencapai 80,04 % bila dibandingkan dengan hasil produksi dan konsumsi beras tahun 2009, namun produksi beras Kota Bengkulu hanya mampu memenuhi kurang lebih 30 % dari kebutuhan masyarakat Kota (Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Bengkulu, 2010). Oleh karena itu, sekitar 70 % nya didatangkan dari luar Kota Bengkulu. Perbandingan antara hasil produksi dan kebutuhan beras memang masih jauh untuk mencapai ketahanan pangan, namun jika pengunaan benih varietas unggul bermutu terus dilakukan maka bukan tidak mungkin Kota Bengkulu bisa mencukupi kebutuhan konsumsi beras masyarakatnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Tujuan dari memberikan informasi kepada petani, instansi dan yang berkepentingan tentang ketersediaan dan penggunaan benih varietas unggul bermutu (padi lahan kering, padi hibrida dan non hibrida) merupakan salah satu syarat keharusan bagi peningkatan ketahanan pangan yang berwawasan lingkungan, karena dapat meningkatkan produksi Padi pada daerah yang mendapatkan Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU).

 

Kata Kunci:    Benih Varietas Unggul Padi, Produksi, Ketahanan Pangan, Lingkungan

ABSTRACT

That many commodity crops cultivated by peasant households are rice as a rice producer. In Indonesia, rice is the staple food that produce carbohydrates and a source of calories for most people. So from the national food security functions become very important and strategic. Given the importance of this, each country will prioritize the development of food security as the foundation for the development of other sectors. National development targets for commodity crops Rice, is to maintain self-sufficiency. Target in the city of Bengkulu are realizing the national goals and to create environmentally sustainable food security by increasing production. In an effort to increase rice production, the need for the use of quality seeds of superior varieties in cultivation. he contribution of the use of quality seeds of improved varieties to increase productivity and even quality of production has been found to significantly, partly by the success of increased production of rice production in the city of Bengkulu dry unhusked (DUP) per-ton 2009 amounting to 10,042.56 tons whereas the 2010 has increased to reach 18080.80 tons. With rice production in 2009 were the result of 5422.98 tonnes while 2010 of 9763.63 tons. While the number of residents in the city of Bengkulu, recorded 2009 as many as 351,793 people in 2010 while as many as 389,449 inhabitants. Known amount of rice needs 2009 were 44,326 tons while the 2010 as much as 49,071 tons. So that is still experiencing shortages of rice, 2009 were 38,902.93 tons whereas the 2010 as much as 39,306.94. The production output in 2010 was rice yields have increased and reached 80.04% when compared with production and consumption of rice in 2009, but the city of Bengkulu rice production could only meet approximately 30% of the needs of the City (Department of Agriculture and Animal Husbandry City Bengkulu, 2010). Therefore, about 70% of them brought in from outside the city of Bengkulu. Comparison between production and demand for rice is still much to achieve food security, but if the use of quality seeds of superior varieties continue to be done then it is not impossible Bengkulu City can provide for rice consumption society. It can be concluded that the purpose of providing information to farmers, agencies and concerned about the availability and use of quality seeds of superior varieties (upland rice, hybrid rice and non-hybrid) is one of the conditions necessary for the improvement of food security in an environmentally sound, because it can increase rice production in areas that get Superior Seed Direct Assistance (BLBU).

 

Keywords:   Superior Rice Seed Varieties, Production, Food Security, Environment

I.    PENDAHULUAN

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati, hewani dan air, baik yang diolah maupun tidak yang diperuntukan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia. Komoditi tanaman pangan memiliki peranan pokok sebagai pemenuhan kebutuhan pangan, pakan dan industri dalam negeri yang setiap tahunnya cenderung meningkat seiring dengan berkembangnya industri pangan dan pakan. Komoditi tanaman pangan yang banyak diusahakan oleh rumah tangga petani adalah Padi sebagai penghasil beras. Di Indonesia beras merupakan bahan makanan pokok yang menghasilkan karbohidrat dan merupakan sumber kalori bagi sebagian besar penduduk, karena mengandung gizi dan penguat yang cukup bagi tubuh manusia dan didalamnya terkandung bahan yang mudah diubah menjadi energi. Sehingga dari sisi ketahanan pangan nasional fungsinya menjadi sangat penting dan strategis. Mengingat pentingnya hal ini, setiap negara akan mendahulukan pembangunan ketahanan pangannya sebagai fondasi bagi pembangunan sektor-sektor lainnya. Pembangunan ketahanan pangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional. Ketahanan pangan yang terganggu secara berkelanjutan akan menimbulkan kondisi rawan pangan. Kerawanan pangan berakibat pada rendahnya status gizi, dan dalam keadaan yang lebih parah dapat menurunkan kualitas fisik dan kecerdasan generasi bangsa, terutama balita sebagai sumberdaya manusia yang berkualitas dan berdaya saing global.

Sasaran pembangunan tanaman pangan nasional untuk komoditas Padi, adalah mempertahankan swasembada. Sasaran di Kota Bengkulu adalah mewujudkan sasaran nasional, menciptakan ketahanan pangan yang berwawasan lingkungan dengan cara meningkatkan produksi, mutu hasil, menekan kehilangan hasil dan menumbuhkan kegiatan agribisnis. Langkah-langkah Strategis adalah mempertahankan luas lahan, identifikasi potensi lahan, perbaikan irigasi, adopsi teknologi, perbaikan penyuluhan dan kelembagaan.

Dalam upaya meningkatkan produksi tanaman padi maka perlu adanya penggunaan benih varietas unggul bermutu dalam budidayanya guna mendukung ketahanan pangan. Sedangkan upaya meningkatkan kesadaran petani dalam penggunaan benih varietas unggul bermutu perlu dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan adanya karya ilmiah ini, selain itu dilingkungan pertanian telah ada Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (SL-PTT). Hal ini perlu dilakukan karena Kontribusi penggunaan benih varietas unggul bermutu dalam meningkatkan produktivitas dan produksi bahkan mutu hasil telah terbukti secara signifikan, antara lain dengan keberhasilan peningkatan produksi Padi yang terjadi saat ini jika dibandingkan dengan peningkatan jumlah penduduk yang tiap tahunnya terus bertambah.

Di Kota Bengkulu produksi Gabah Kering Giling (GKG) per-ton 2009 sebesar 10.042,56 ton sedangkan 2010 mengalami peningkatan mencapai 18.080,80 ton. Dengan hasil produksi beras 2009 sebanyak 5.422,98 ton sedangkan 2010 sebanyak 9.763,63 ton. Sementara jumlah penduduk di Kota Bengkulu tercatat 2009 sebanyak 351.793 jiwa sedangkan 2010 sebanyak 389.449 jiwa. Diketahui jumlah kebutuhan beras 2009 sebanyak 44.326 ton sedangkan 2010 sebanyak 49.071 ton. Sehingga masih mengalami kekurangan beras yakni 2009 sebanyak 38.902,93 ton sedangkan 2010 sebanyak 39.306,94. Secara hasil produksi tahun 2010 memang hasil panen padi mengalami peningkatan yakni mencapai 80,04 % bila dibandingkan dengan hasil produksi dan konsumsi padi/beras tahun 2009, namun produksi beras Kota Bengkulu hanya mampu memenuhi kurang lebih 30 % dari kebutuhan masyarakat Kota (Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Bengkulu, 2010). Oleh karena itu, sekitar 70 % nya didatangkan dari luar Kota Bengkulu. Walaupun demikian bukan berarti usaha tani padi sawah di Kota Bengkulu tidak penting untuk mendapatkan perhatian. Perbandingan antara hasil produksi dan kebutuhan beras memang masih jauh untuk mencapai ketahanan pangan, namun jika pengunaan benih varietas unggul bermutu terus dilakukan maka bukan tidak mungkin Kota Bengkulu bisa mencukupi kebutuhan konsumsi beras masyarakatnya. Dengan demikian ketersediaan dan penggunaan benih varietas unggul bermutu merupakan salah satu syarat keharusan bagi peningkatan ketahanan pangan nasional disamping penyediaan sarana produksi lainnya.

Untuk meringankan beban petani dalam rangka pelaksanaan penggunaan benih varietas unggul bermutu dalam upaya peningkatan produksi, maka pemerintah menyediakan fasilitas/dukungan penyediaan benih padi lahan kering, padi hibrida dan non hibrida melalui Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) yang berasal dari APBN TA. 2010 (Peraturan Menteri Pertanian Nomor:24/Permentan/OT.140/2/2010).

Sasaran indikatif luas tanam kebutuhan varietas unggul bermutu di Provinsi Bengkulu untuk peningkatan produksi Padi Lahan Kering luas areal 3.000 Ha kebutuhan benih 75.000 Kg, Padi Hibrida luas areal 1500 Ha kebutuhan benih  22.500 Kg dan Padi Non Hibrida luas areal 30.000 Ha kebutuhan benih 750.000 Kg (Peraturan Menteri Pertanian Nomor:24/Permentan/OT.140/2/2010). Perbandingan perkembangan tanaman padi sawah dari tahun 2009 dan 2010 dari luas tanam dan luas panen padi sawah di 6 kecamatan di Kota Bengkulu yakni Kecamatan Gading Cempaka tahun 2009 luas tanam 644 Ha dengan luas panen 521 Ha sedangkan 2010 547 Ha dengan luas panen 647 Ha. Kecamatan Kampung Melayu tahun 2009 luas tanam 498 Ha dengan luas panen 338 Ha sedangkan 2010 luas tanam 338 Ha dengan luas panen 442 Ha. Kecamatan Muara Bangkahulu tahun 2009 luas tanam 652 Ha dengan luas panen 744 Ha sedangkan 2010 luas tanam 1849 Ha dengan luas panen 1725 Ha. Kecamatan Ratu Agung tahun 2009 luas tanam 89 ha dengan luas panen 42 ha sedangkan 2010 luas tanam 138 ha dengan luas panen 135 ha. Kecamatan Selebar tahun 2009 luas tanam 427 ha dengan luas panen 450 ha sedangkan 2010 luas tanam 464 ha dengan luas panen 573 ha dan Kecamatan Sungai Serut tahun 2009 luas tanam 595 ha dengan luas panen 305 ha sedangkan 2010 luas tanam 555 ha dengan luas panen 673 ha. Sedangkan untuk 2 kecamatan lain yakni Kecamatan Ratu Samban dan Kecamatan Teluk Segara tidak terdapat areal persawahan (Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Bengkulu, 2010).

Status Usaha Tani Padi Kedepan tetap memiliki daya saing, walaupun dengan kelayakan yang makin tipis. Luas panen, produksi, produktivitas Padi dan harganya senantiasa berfluktuasi sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan kebutuhan kedepan yang terus meningkat. Oleh karena itu  Departemen Pertanian menggunakan benih varietas unggul bermutu untuk meningkatkan produksi padi sebagai upaya mendukung program ketahanan pangan. Tetapi apakah program itu telah berhasil  hal ini perlu dievaluasi dan dimonitor.

Salah satu prioritas pembangunan nasional adalah revitalisasi pertanian, perikanan, kelautan dan pengembangan pedesaan. Sasaran Revitalisasi adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan terjaminnya ketersediaan pangan dari produksi dalam negeri. Visi pembangunan pertanian nasional tahun 2010-2014 adalah terwujudnya pertanian industrial unggul berkelanjutan yang berbasis sumber daya lokal untuk meningkatkan kemandirian pangan, nilai tambah, ekspor serta kesejahteraan petani. Visi pembangunan pertanian Kota Bengkulu adalah terwujudnya pembangunan pertanian yang tangguh, berorientasi pada pengembangan spesifik lokasi dan ramah lingkungan. Misi pembangunan pertanian Kota Bengkulu adalah mengoptimalkan segenap sumber daya yang tersedia, Pembinaan peningkatan efisiensi usaha tani, penerapan teknologi pertanian dan peternakan yang ramah lingkungan dan berorientasi agribisnis, Peningkatan sumber daya manusia di bidang pertanian dan peternakan, peningkatan sumber daya lahan dan air, peningkatan pelayanan  kesehatan  hewan dan masyarakat.

 

II. PERUMUSAN MASALAH :

Permasalahan utama yang dihadapi dalam mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia adalah tidak seimbangnya pertumbuhan permintaan dan pertumbuhan kapasitas produksi nasional yang mengakibatkan kecenderungan pangan nasional dari impor meningkat, dan kondisi ini diterjemahkan sebagai ketidak mandirian penyediaan pangan nasional. Di Kota Bengkulu masalah yang dihadapi adalah :

  1. pertumbuhan kapasitas produksi padi yang cukup lambat, karena sebagian petani belum menggunakan benih varietas unggul bermutu dalam budidayanya.
  2. tingkat kesadaran serta keyakinan petani terhadap manfaat penggunaan benih varietas unggul bermutu di beberapa daerah masih rendah.

 

III. TUJUAN

  1. meningkatkan produksi padi pada daerah yang mendapatkan Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU).
  2. meningkatkan kesadaran petani dalam penggunaan benih varietas unggul bermutu (padi lahan kering, padi hibrida dan non hibrida).
  3. memberikan informasi kepada pembaca pentingnya ketahanan pangan yang berwawasan lingkungan.

 

IV. KETAHANAN PANGAN YANG BERWASAN LINGKUNGAN

Menciptakan ketahanan pangan yang berwawasan lingkungan dengan cara meningkatkan produksi dan mutu hasil, menekan kehilangan hasil, menumbuhkan kegiatan agribisnis.

  1. A.     PANGAN

 

Pangan adalah kebutuhan dasar manusia yang paling utama, karena itu pemenuhan kebutuhan pangan merupakan bagian dari hak azasi individu. Komoditi Tanaman Pangan Nasional adalah Pertama (Padi, Jagung, Kedelai), Kedua (Kacang Tanah, Kacang Hijau, Ubi Kayu, Ubi Jalar dan alternatif unggulan daerah adalah Talas, Sukun, Gandum, dan lain-lain).

Ada 3 Program Pembangunan Tanaman Pangan :

1.  Program Peningkatan Ketahanan Pangan

Bantuan benih, penguatan kelembagaan perbenihan, perbaikan mekanisme subsidi pupuk, pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), penyediaan Alat Dan Mesin Tanaman (ALSINTAN), peningkatan produksi, produktivitas, mutu produk dan pengembangan kawasan.

2.   Program Pengembangan Agribisnis

Penghargaan ketahanan pangan, revitalisasi Upaya Peningkatan Jaringan Air (UPJA) dan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).

3.   Program Peningkatan Kesejahteraan Petani

Meliputi PMUK, LM3 dan magang sekolah lapangan (Firdaus Syam, 2009).

 

 

  1. B.     DEFINISI KETAHANAN PANGAN

 

Pada level nasional pengertian ketahanan pangan telah menjadi perdebatan selama tahun 1970 sampai tahun 1980an (Ahmad Zaki Rahman, 2010). Definisi dan paradigma ketahanan pangan terus mengalami perkembangan sejak adanya Conference of Food and Agriculture tahum 1943 yang mencanangkan konsep secure, adequate and suitable supply of food for everyone”. Istilah ketahanan pangan (food security) sebagai sebuah konsep kebijakan baru pertama kali muncul pada tahun 1974, yakni ketika dilaksanakannya konferensi pangan dunia (1st World Food Conference), UN 1975 : ketersediaan pangan dunia yang cukup dalam segala waktu … untuk menjaga keberlanjutan konsumsi pangan … dan menyeimbangkan fluktuasi produksi dan harga (Sage, 2002). Pendefinisian ketahanan pangan (food security) berbeda dalam tiap konteks, waktu dan tempat. Definisi ketahanan pangan sangat bervariasi, namun umumnya mengacu definisi dari Bank Dunia (1986) dan Maxwell dan Frankenberger (1992) yakni “akses semua orang setiap saat pada pangan yang cukup untuk hidup sehat (secure access at all times to sufficient food for a healthy life). Studi pustaka tentang ketahanan pangan Sedikitnya ± 200 definisi (FAO 2003 dan Maxwell 1996) dan 450 indikator ketahanan pangan (Hoddinott, 1999). Berikut disajikan beberapa definisi ketahanan pangan yang sering diacu :

  1. 1.      Indonesia – Undang-Undang Pangan No. 7 Tahun 1996

kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup, baik dari jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau.

  1. 2.      United States Agency for International Development (USAID), 1992

kondisi ketika semua orang pada setiap saat mempunyai akses secara fisik dan ekonomi untuk memperoleh kebutuhan konsumsinya untuk hidup sehat dan produktif.

  1. 3.      Food and Agriculture Organization (FAO), 2003

situasi dimana semua rumah tangga mempunyai akses baik fisik maupun ekonomi untuk memperoleh pangan bagi seluruh anggota keluarganya, dimana rumah tangga tidak beresiko mengalami kehilangan kedua akses tersebut.

 

  1. C.    KETERSEDIAAN PANGAN PER KAPITA

Faktor-Faktor yang mempengaruhinya adalah Produksi, Pasokan pangan dari luar (Impor), Cadangan pangan, Bantuan pangan, Sarana dan prasarana pemasaran, Jumlah Penduduk, Luas panen, Produktivitas, Diversifikasi produk, Irigasi, teknologi, kredit, Sarana produksi, Iklim, hama penyakit dan bencana (Nuhfil Hanani AR., 2009).

 

  1. D.     SUB SISTEM KETAHAN PANGAN

Sistem ketahanan pangan di Indonesia secara komprehensif  terdiri dari tiga sub sistem utama yaitu ketersediaan, akses, dan penyerapan pangan, sedangkan status gizi merupakan outcome dari ketahanan pangan (Nuhfil Hanani AR., 2010). Salah satu sub sistem tersebut tidak dipenuhi maka suatu negara belum dapat dikatakan mempunyai ketahanan pangan yang baik. Secara rinci penjelasan mengenai sub sistem tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. 1.      Sub Sistem Ketersediaan (Food Availability)

yaitu ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup aman dan bergizi untuk semua orang dalam suatu negara baik yang berasal dari produksi sendiri, impor, cadangan pangan maupun bantuan pangan. Ketersediaan pangan ini didefinisikan sebagai jumlah kalori yang dibutuhkan untuk kehidupan yang aktif dan sehat.

  1. 2.      Akses Pangan (Food Access)

yaitu kemampuan semua rumah tangga dan individu dengan sumberdaya yang dimilikinya untuk memperoleh pangan yang cukup untuk kebutuhan gizinya yang dapat diperoleh dari produksi pangannya sendiri, pembelian ataupun melalui bantuan pangan. Akses rumah tangga dan individu terdiri dari akses ekonomi, fisik dan sosial. Akses ekonomi tergantung pada pendapatan, kesempatan kerja dan harga. Akses fisik menyangkut tingkat isolasi daerah (sarana dan prasarana distribusi), sedangkan akses sosial menyangkut tentang preferensi pangan.

  1. 3.      Penyerapan Pangan (Food Utilization)

yaitu penggunaan pangan untuk kebutuhan hidup sehat yang meliputi kebutuhan energi dan gizi, air dan kesehatan lingkungan. Efektifitas dari penyerapan pangan tergantung pada pengetahuan rumah tangga/individu, sanitasi dan ketersediaan air, fasilitas dan layanan kesehatan, serta penyuluhan gisi dan pemeliharaan balita.

  1. 4.      Stabiltas (Stability)

merupakan dimensi waktu dari ketahanan pangan yang terbagi dalam kerawanan pangan kronis (chronic food insecurity) dan kerawanan pangan sementara (transitory food insecurity).

  1. 5.      Status gizi (Nutritional Status )

adalah outcome ketahanan pangan yang merupakan cerminan dari kualitas hidup seseorang. Umumnya satus gizi ini diukur dengan angka harapan hidup, tingkat gizi balita dan kematian bayi.

  1. E.     INDIKATOR KEBERHASILAN KETAHANAN PANGAN YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN :
    1. penggunaan benih varietas unggul bermutu (padi lahan kering, padi hibrida dan non hibrida) meningkat/dipertahankan pada kelompok tani yang memenuhi syarat dan ditetapkan.
    2. produksi padi dapat meningkat/dipertahankan pada daerah yang mendapatkan Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU).

 

  1. F.     PESPEKTIF MEWUJUDKAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL
    1. 1.      Kebijakan Umum

Kebijakan otonomi daerah yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2000 Tentang Otonomi Daerah yang ditindak lanjuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2000 tentang peranan Pemerintah daerah dalam meningkatkan ketahanan pangan di wilayahnya. Searah dengan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah, Pemerintah Provinsi Bengkulu mengeluarkan enam kebijakan untuk mengantisipasi ancaman kerawanan pangan melalui Instruksi Gubernur Nomor 1 tahun 2010 tentang ketahanan pangan (Prasetya, 2011) :

1.1.      kepala daerah harus menjaga kelestarian fungsi lahan sawah.

1.2.      melarang melakukan alih fungsi lahan sawah menjadi peruntukan lain : perumahan, industri, terminal, perkebunan dan fasilitas sosial.

1.3.      membuat dan memperbaiki irigasi.

1.4.      memberi subsidi pupuk dan bibit unggul kepada petani.

1.5.      membuat kawasan sentra produksi padi pada lahan sawah

1.6.      pengembangan areal tanaman pangan melalui percetakan sawah baru.

  1. 2.      Pengembangan Teknologi

Pengembangan teknologi pertanian guna meningkatkan efisiensi akan mencakup teknologi pengembangan sarana produksi (benih, pupuk dan insektisida), teknologi pengolahan lahan (traktor), teknologi pengelolaan air (irigasi gravitasi, irigasi pompa, efisiensi dan konservasi air), teknologi budidaya (cara tanam, jarak tanam, pemupukan berimbang, pola tanam, pergiliran varietas), teknologi pengendalian hama terpadu (PHT).

  1. 3.      Diversifikasi Produksi Pangan

Ada dua bentuk diversifikasi produksi yang dapat dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan, yaitu:

1.   Diversifikasi horizontal, yaitu mengembangkan usahatani komoditas unggulan sebagai “core of business” serta mengembangkan usahatani komoditas lainnya sebagai usaha pelengkap.

2.   Diversifikasi regional, yaitu mengembangkan komoditas pertanian unggulan spesifik lokasi dalam kawasan yang luas menurut kesesuaian kondisi agro ekosistemnya.

  1. 4.      Pola Produksi dan Konsumsi

Produk pangan umumnya mengikuti pola produksi musiman, sedangkan kebutuhan pangan harus dipenuhi sepanjang tahun. Di Indonesia, produksi pangan tersebar menurut kondisi agro ekosistem dan geografinya, sedangkan lokasi konsumen tersebar di seluruh pelosok tanah air.

  1. 5.      Peranan Badan Litbang Pertanian

Peranan lembaga nasional dan daerah seperti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Dinas Pertanian Dan Peternakan Kota Bengkulu kerjanya sangat vital dalam meningkatkan kinerja sektor ini (Achmad Suryana, 2005).

  1. V.    PENGGUNAAN BENIH VARIETAS UNGGUL

A. BUDIDAYA TANAMAN PADI

Usaha tani padi sawah masih sangat tergantung pada keadaan alam, terutama curah hujan yang tidak menentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi padi : luas lahan garapan, jumlah tenaga kerja efektif, jumlah pupuk, jumlah pestisida, pengalaman petani dalam berusahatani, jarak rumah petani dengan lahan garapan, dan sistem irigasi.

Budidaya padi sawah dengan cara SRI (System of Rice Intensification) telah banyak di uji coba oleh para ahli dan dilaporkan hasilnya sangat memuaskan. Peningkatan produktifitas mencapai 8 hingga 10 ton per hektar GKG bahkan lebih. Ditambah lagi, dengan SRI tidak terjadi peningkatan penggunaan saprodi bahkan dapat dihemat 30-50 %.

Hal-hal pokok budidaya dengan SRI : Menggunakan benih unggul nasional yang berdaya hasil tinggi, Bibit dipindah umur 7-10 hari setelah semai, Jarak tanam 25cm X 25cm s/d 30 cm X 30 cm, Bibit per lobang 1-2 batang, Penggunaan bahan organik 10-20 ton per hektar, Penggunaan pupuk anorganik separuh dosis anjuran, Kondisi air tanpa genangan (Direktorat Pengelolaan Lahan, 2009). Sistem irigasi padi sawah dengan cara SRI yaitu : Kondisi tanah sawah hanya lembab saja dan tidak menggenang. Hal inilah yang menjadikan penghematan air dan pupuk.

 

  1. B.     SEKOLAH LAPANG PENGELOLAAN TANAMAN DAN SUMBERDAYA TERPADU (SL-PTT) :

SLPTT Adalah upaya peningkatan produksi dan produktivitas. Selain itu SLPTT Merupakan upaya yang terfokus, sinergi dan terintegrasi baik dari segi pembinaan maupun pembiayaan. Melalui SLPTT Diharapkan petani dapat belajar langsung melalui pembelajaran dan penghayatan langsung (mengalami), mengungkapkan, menganalisis, menyimpulkan, menerapkan, menghadapi dan memecahkan masalah-masalah terutama dalam hal teknik budidaya dengan mengkaji bersama berdasarkan spesifik lokasi. Melalui SLPTT petani akan mampu mengelola sumber daya yang tersedia secara terpadu dalam melakukan budidaya, sehingga petani menjadi lebih terampil. SLPTT merupakan tempat pendidikan non formal bagi petani (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, 2010).

 

C. EVALUASI PRODUKSI PADI

Peningkatan produksi Padi dengan penggunaan benih varietas unggul untuk mendukung ketahanan pangan nasional dapat dievaluasi melalui Perkembangan Luas Panen, Produktivitas Dan Produksi Padi Tahun 2005-2009. Dari data tersebut terlihat bahwa Produksi padi dalam 5 tahun terakhir meningkat rata-rata 4,22 %/tahun, dari 54,15 juta ton GKG pada tahun 2005 menjadi 63,84 juta ton GKG, hal ini dapat dilihat pada tabel 1 dan gambar 1.

Tabel 1. Perkembangan Luas Panen, Produktivitas Dan Produksi Padi Tahun 2005-2009 Dengan Penggunaan Benih Varietas Unggul Padi Untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional

Tahun

Luas Panen

Produktivitas

Produksi

Ha

%

Ku/Ha

%

Ton

%

2005

11,839,060

45,74

54,151,097

2006

11,786,430

0.44

46,20

1.01

54,454,937

0.56

2007

12,147,637

3.06

47,05

1.84

57,157,435

4.96

2008

12,327,425

1.48

48,94

4.02

60,325,925

5.54

2009

12,842,739

4.18

49,71

1.57

63,840,066

5.83

Rata-rata

2.07

2.11

4.22

Sumber : Data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, 2010.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1.       Perkembangan Luas Panen, Produktivitas Dan Produksi Padi Tahun 2005-2009 Dengan Penggunaan Benih Varietas Unggul Padi Untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional

 

Untuk pencapaian sasaran produksi tahun 2010 dengan penggunaan benih varietas unggul padi untuk mendukung ketahanan pangan nasional dapat dievaluasi melalui penggunaan benih varietas unggul (Padi Hibrida Dan Padi Non Hibrida) tahun 2009-2010. Dari hasil penelitian tersebut terlihat bahwa Produksi Padi Hibrida meningkat menjadi 12,160 juta ton dan Padi Non Hibrida meningkat menjadi 1,463 juta ton, hal ini dapat terlihat pada tabel 2 dan gambar 2.

Tabel 2. Upaya Pencapaian Sasaran Produksi Tahun 2010 Dengan Penggunaan Benih Varietas Unggul Padi Untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional

Tahun

Benih Varietas Unggul

Luas Tanam

Luas Panen

Produktivitas

Produksi

(Rb Ha)

(Rb Ha)

(Ku/Ha)

Juta Ton

2009

Padi Hibrida

750

713

64.00

4,500

Padi Non Hibrida

50

48

77.00

300

2010

Padi Hibrida

2000

1900

64.00

12,160

  Padi Non Hibrida

200

190

77.00

1.463

Sumber : Data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, 2010.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.    Upaya Pencapaian Sasaran Produksi Tahun 2010 Dengan Penggunaan Benih Varietas Unggul Padi Untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional

VI. KESIMPULAN

  1. Produksi Padi akan meningkat pada daerah yang mendapat Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU).
  2. Jika produksi padi meningkat, maka petani akan menyadari pentingnya penggunaan benih varietas unggul bermutu (Padi Lahan Kering, Padi Hibrida Dan Padi Non Hibrida),
  3. Ketahanan pangan yang berwawasan lingkungan memberikan manfaat ekonomi pada pembangunan di Kota Bengkulu  dan petani yang mendapatkan Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU).
  4. Ketahanan pangan  memberikan dampak luas terhadap peningkatan produktivitas dan produksi Padi, pendapatan petani, serta ekosistem (biotik dan atau fisik) lingkungan di dalam dan di luar pertanian.

 

UCAPAN TERIMA KASIH

 

Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak Prof. Ir. Urip Santoso, S.IKom., M.Sc., Ph.D yang sudah memberikan motivasi, arahan dan bimbingan dalam pengkayaan materi, sehingga penyusunan karya ilmiah ini dapat diselesaikan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Bengkulu. 2010. Laporan Akhir Kegiatan Tanaman Pangan Dana Tugas Pembantuan TA. 2010. Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kota Bengkulu.

 

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2010. Pedoman Pelaksanaan sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) Padi, Jagung, Kedelai dan Kacang Tanah Tahun 2010. Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Jakarta.

Direktorat Pengelolaan Lahan. 2009. Pedoman Teknis Pengembangan System Of Rice Intensification (SRI) TA. 2009. Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan Dan Air Departemen Pertanian, Jakarta.

 

FAO. 2003. Trade Reform and Food Security – Conceptualizing the linkages. Economic And Social Development Department, Rome.

 

Hanani, Nuhfil AR. 2009. Arah Kebijakan Kewaspadaan  Pangan http://nuhfil. lecture.ub.ac.id/files/2009/02/kewaspadaan-pangan1, Jakarta.

 

Hanani, Nuhfil AR., 2009. Pengertian Ketahanan Pangan http://nuhfil.lecture. ub.ac.id/files/2009/03/2-pengertian-ketahanan-pangan-2. Jakarta.

 

Hoddinott, J. 1999. Operationalizing Household Food Security in Development Projects: An introduction, International Food Policy Research. Institute Technical Guide No.1, Washington D.C.

 

Maxwell, S. 1996. Food security: a post-modern perspective. Food Policy, Vol. 21. No.2. Elsevier Science, Brighton. pp 155-170.

 

Maxwell, S. and Frankenberger, T. 1992. Household food security concepts, indicators, and measurements. New York, NY, USA : UNICEF and IFAD.

 

Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 24/Permentan/OT.140/2/2010. 2010. Pedoman Umum Bantuan Langsung Benih Unggul Tahun Anggaran 2010. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Jakarta.

 

Prasetya. 2011. Bengkulu : Enam Kebijakan Ketahanan Pangan Dilansir. jhttp://www .sigap-bencana-bansos.info/berita/8451-bengkulu-pemprov-keluarkan-enam-kebijakan-ketahanan-.html, Bengkulu.

 

Rahman, Ahmad Zaki. 2010. Kaitan Pembangunan Pertanian Melalui Agribisnis Dengan Ketahanan Pangan Indonesia. http://kampoengjava.blogspot.com/ 2010/05/kaitan-pembangunan-pertanian-melalui.html, Bogor.

 

Sage, C. 2002. Food security and Environment. In Page & Redclift, ed., 2002. Human Security and the Environment: International Comparisons. Cheltenham: Edward Elgar, pp 128-153.

 

Suryana, Achmad. 2005. Kebijakan Ketahanan Pangan Nasional. http://pse. litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/Anjak_2005_IV_15.pdf, Bogor.

 

Syam, Firdaus. 2009. Konsep dan Indikator Sistem Kewaspadaan Pangan Dan Gizi (SKPG). Badan ketahanan Pangan dan pelaksana Penyuluhan Kota Bengkulu, Bengkulu.

 

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 1996. 2010. Pangan. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia,  Jakarta.

 

2 Responses to “PENGGUNAAN BENIH VARIETAS UNGGUL PADI DALAM UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI UNTUK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN DIKOTA BENGKULU”

  1. herman Says:

    tulisannya menarik, tapi jika boleh saran penggunaan bibit unggul umumnya menghendaki kondisi yang optimum (pupuk, pestisida, dll), ditingkat petani praktek pengunggan bibit unggul dan aplikasi input yang tinggi hal ini tentu akan memberikan dampak kerusakan pada lingkungan bagaimana pendapat anda????

  2. pevi Says:

    jika bibitnya sudah unggul itu artinya sudah di uji kemampuannya dalam menghadapi kondisi lingkungan yang kurang baik seperti penggunaan pupuk yang sedikit/setengah dari dosis anjuran dan tahan terhadap hama penyakit. sehingga produk unggul ini bisa bertahan dan berproduksi dengan baik dikondisi yang buruk sekalipun.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s